Siapa yang Memadamkan, Siapa yang Melindungi?

metrotvnews.com
5 jam lalu
Cover Berita

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia selama dua bulan terakhir tidak hanya menghancurkan ekosistem alam, tetapi juga memakan korban jiwa dari barisan terdepan.

Data BNPB mencatat sedikitnya 10 petugas dan relawan gugur akibat terjebak api, menghirup asap pekat, dan mengalami luka bakar fatal saat berjibaku menjinakkan kebakaran. Sepuluh korban jiwa tersebut tersebar di dua wilayah utama, yakni 6 orang gugur di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dan 4 orang lainnya di Kalimantan.

Dari total 6 korban tewas di TNBTS, salah satunya adalah Suraji (44), seorang petugas keamanan yang sebelumnya dinyatakan kritis. Ia meninggal dunia pada Jumat, 23 Oktober 2026, setelah dirawat intensif akibat luka bakar mencapai 49 persen, trauma inhalasi, serta komplikasi infeksi berat di RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
 

Baca Juga :

Hotspot di OKI Tembus 900 Titik, Satgas Karhutla Berjibaku Padamkan Api Siang dan Malam

Tragedi jatuhnya korban di Bromo bermula pada 15 Oktober lalu ketika enam personel tersebut tengah berupaya memadamkan sisa titik api. Angin kencang yang tiba-tiba berembus mengubah arah api secara drastis, menjebak para petugas dan relawan tanpa ada celah untuk menyelamatkan diri.

Sementara itu, sepanjang Oktober 2026, amuk api dilaporkan melanda berbagai lereng gunung di Pulau Jawa, mulai dari Gunung Ciremai di Jawa Barat, Gunung Lawu dan Sumbing di Jawa Tengah, hingga gugusan Bromo, Arjuno-Welirang, dan Argopuro di Jawa Timur.

Untuk memadamkan eskalasi karhutla ini, BNPB mengerahkan lebih dari 71 ribu personel gabungan di 6 provinsi, didukung 56 unit helikopter. Sebagian besar kekuatan tersebut difokuskan di Pulau Kalimantan sebanyak 38.772 personel dan Sumatra sebanyak 33.106 personel.

Berdasarkan analisis pemadaman, para relawan dihadapkan pada dua jenis medan yang sama-sama mematikan. Di lereng gunung, mereka harus menaklukkan medan terjal, jurang curam, dan angin kencang yang membuat arah kobaran api tidak bisa diprediksi.

Sedangkan di lahan gambut, tantangan terbesar adalah melacak sumber bara. Meski api di permukaan terlihat sudah padam, bara di bawah tanah masih terus menjalar dan bisa menyala kapan saja. Kondisi ini diperparah dengan krisis pasokan air di puncak musim kemarau.

Kejadian fatal ini menjadi peringatan keras bagi seluruh elemen terkait untuk mengevaluasi standar operasional prosedur (SOP) keselamatan petugas pemadam karhutla, termasuk pemenuhan alat pelindung diri dan ketersediaan logistik di medan yang ekstrem.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Dijatuhkan MSCI, Bursa Ini Berhasil Bangkit Lagi Jadi Developed Market
• 13 jam lalu
0
thumb
Indonesia-India Bangun Koridor Kreatif Berbasis Teknologi
• 13 jam lalu
0
thumb
Harapan Megawati Hangestri Bersama Hillstate Jelang V-League, Tekankan Pentingnya Teamwork
• 12 jam lalu
0
thumb
Gubernur URI Menghadap Prabowo di Hambalang, Ini yang Dilaporkan
• 4 jam lalu
0
thumb
BMKG Rilis Daftar 21 Wilayah RI yang Berpotensi Hujan Hari Ini
• 16 jam lalu
0
Berhasil disimpan.