Jakarta (ANTARA) - Wakil Presiden Republik Indonesia ke 10 dan 12, Jusuf Kalla (JK) menegaskan bahwa nilai kemanusiaan harus menjadi landasan utama dalam menghadapi krisis global, baik yang dipicu oleh konflik bersenjata maupun bencana alam.
Rasa kemanusiaan yang melampaui batas negara, ras, etnis, dan agama itu menjadi modal penting bagi masyarakat dunia untuk mencari solusi bersama, katanya dalam kuliah umumnya di Yale University, New Haven, Connecticut, Amerika Serikat, pekan ini.
JK menekankan bahwa rasa kemanusiaan yang melampaui batas negara, ras, etnis, dan agama menjadi modal penting bagi masyarakat dunia untuk mencari solusi bersama.
“Kemanusiaan harus menjadi paradigma utama kita dalam menghadapi krisis global. Kemanusiaan melampaui batas negara, ras, etnis, agama, dan afiliasi apa pun. Selama rasa kemanusiaan menjadi titik tolak kita, krisis global dapat kita hadapi dan atasi bersama,” kata JK seperti dikutip dari pernyataan persnya yang diterima ANTARA di Jakarta, Minggu.
Di hadapan sekitar 100 peserta kuliah yang terdiri dari mahasiswa dan dosen Yale, JK menjelaskan bahwa dunia saat ini menghadapi berbagai krisis yang saling berkaitan. Konflik bersenjata di sejumlah kawasan berlangsung bersamaan dengan ancaman bencana alam dan persoalan kemanusiaan yang dampaknya melintasi batas negara.
Mantan wakil presiden Indonesia itu turut menyoroti perubahan dinamika kekuatan militer dunia. Menurutnya, kepemilikan persenjataan modern tidak selalu menjamin suatu negara dapat mengalahkan lawannya dengan mudah.
Dia menilai bahwa semangat, strategi, dan penguasaan ilmu pengetahuan serta teknologi turut menentukan kemampuan suatu pihak dalam menghadapi konflik.
JK mencontohkan perang Rusia-Ukraina yang berlangsung berkepanjangan, kemampuan Iran bertahan menghadapi tekanan Amerika Serikat dan Israel, serta ancaman kelompok bersenjata Houthi terhadap negara-negara di kawasan Teluk.
“Perkembangan konflik saat ini menunjukkan bahwa keunggulan persenjataan saja tidak cukup. Semangat, strategi, serta kemampuan menguasai dan mengoperasikan teknologi juga sangat menentukan. Karena itu, ilmu pengetahuan dan kemampuan manusia menjadi faktor penting dalam menghadapi tantangan,” ujarnya.
Berkaca dari pengalaman berbagai konflik, JK menekankan bahwa penyelesaian persoalan keamanan tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan militer. Melainkan pemahaman terhadap akar masalah, kemampuan berdialog, dan pendekatan kemanusiaan tetap diperlukan untuk membuka jalan menuju perdamaian.
Baca juga: JK: Ketahanan Iran bukti pentingnya penguasaan teknologi dunia Islam
Baca juga: JK soal kekosongan kursi duta besar: Hanya boleh kosong 3 bulan
Rasa kemanusiaan yang melampaui batas negara, ras, etnis, dan agama itu menjadi modal penting bagi masyarakat dunia untuk mencari solusi bersama, katanya dalam kuliah umumnya di Yale University, New Haven, Connecticut, Amerika Serikat, pekan ini.
JK menekankan bahwa rasa kemanusiaan yang melampaui batas negara, ras, etnis, dan agama menjadi modal penting bagi masyarakat dunia untuk mencari solusi bersama.
“Kemanusiaan harus menjadi paradigma utama kita dalam menghadapi krisis global. Kemanusiaan melampaui batas negara, ras, etnis, agama, dan afiliasi apa pun. Selama rasa kemanusiaan menjadi titik tolak kita, krisis global dapat kita hadapi dan atasi bersama,” kata JK seperti dikutip dari pernyataan persnya yang diterima ANTARA di Jakarta, Minggu.
Di hadapan sekitar 100 peserta kuliah yang terdiri dari mahasiswa dan dosen Yale, JK menjelaskan bahwa dunia saat ini menghadapi berbagai krisis yang saling berkaitan. Konflik bersenjata di sejumlah kawasan berlangsung bersamaan dengan ancaman bencana alam dan persoalan kemanusiaan yang dampaknya melintasi batas negara.
Mantan wakil presiden Indonesia itu turut menyoroti perubahan dinamika kekuatan militer dunia. Menurutnya, kepemilikan persenjataan modern tidak selalu menjamin suatu negara dapat mengalahkan lawannya dengan mudah.
Dia menilai bahwa semangat, strategi, dan penguasaan ilmu pengetahuan serta teknologi turut menentukan kemampuan suatu pihak dalam menghadapi konflik.
JK mencontohkan perang Rusia-Ukraina yang berlangsung berkepanjangan, kemampuan Iran bertahan menghadapi tekanan Amerika Serikat dan Israel, serta ancaman kelompok bersenjata Houthi terhadap negara-negara di kawasan Teluk.
“Perkembangan konflik saat ini menunjukkan bahwa keunggulan persenjataan saja tidak cukup. Semangat, strategi, serta kemampuan menguasai dan mengoperasikan teknologi juga sangat menentukan. Karena itu, ilmu pengetahuan dan kemampuan manusia menjadi faktor penting dalam menghadapi tantangan,” ujarnya.
Berkaca dari pengalaman berbagai konflik, JK menekankan bahwa penyelesaian persoalan keamanan tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan militer. Melainkan pemahaman terhadap akar masalah, kemampuan berdialog, dan pendekatan kemanusiaan tetap diperlukan untuk membuka jalan menuju perdamaian.
Baca juga: JK: Ketahanan Iran bukti pentingnya penguasaan teknologi dunia Islam
Baca juga: JK soal kekosongan kursi duta besar: Hanya boleh kosong 3 bulan






Komentar (0)