Viral Nathalie Holscher hingga Pratiwi Noviyanthi Takuti Anak Lewat Tren Konten Polisi Anak, Psikolog Ingatkan Bahayanya

tvonenews.com
1 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, tvOnenews.com - Tren konten jasa TikToker polisi anak 84 belakangan mencuri perhatian setelah video call artis Nathalie Holscher hingga selebgram Pratiwi Noviyanthi alias Teh Novi viral di media sosial.

Dalam unggahan di TikTok @polisianak84, banyak ibu-ibu menghubungi TikToker pemilik akun Polisi Anak 84. Seperti Nathalie Holscher, melalui panggilan video, mantan istri Sule itu menggunakan jasa agar konten kreator itu menakuti anaknya, Adzam ketika sulit makan.

Sementara, Pratiwi Noviyanthi menakuti salah satu anak asuhnya, Adek Tabo yang sering memukul temannya kepada TikToker polisi anak tersebut. Akibatnya, Tabo terlihat ketakutan karena adanya ancaman.

Psikolog di bidang kognitif dan perkembangan, Doktor Okina Fitriani turut menyoroti fenomena tren konten tersebut. Ia justru mempertanyakan tujuan dilakukan oleh Nathalie, Teh Novi, dan ibu-ibu yang menggunakan jasa polisi anak 84.

"Seorang anak menangis ketakutan ketika diberi tahu bahwa polisi akan datang menangkapnya. Alasannya? Ia susah makan, mengompol, atau bertengkar dengan temannya. Orang dewasa di sekelilingnya meyakinkan bahwa ancaman tersebut sungguh-sungguh terjadi," ujar Okina kepada tvOnenews.com, Minggu (25/10/2026).

Setelah melihat video viral tersebut, ia memahami ada reaksi yang diperlihatkan oleh anak. Adanya ancaman dan penangkapan membuat mereka langsung menangis dan ketakutan.

Selepas itu, anak pun menuruti kemauan orang tua meski harus melalui jasa konten polisi anak tersebut. Namun, ia menyayangkan upaya itu dijadikan konten sehingga menuai reaksi dari publik.

"Anak memohon, berjanji tidak mengulangi perilakunya. Kemudian, rekamannya diunggah sebagai hiburan, lalu dibagikan mengundang komentar orang untuk menertawakan dan terinspirasi melakukan hal yang sama," terangnya.

Bahaya Prank Lewat Tren Konten Polisi Anak

Ia juga menyoroti reaksi penonton. Sebagian melihat adegan tersebut tampak lucu, sementara orang tua lainnya menganggap janji anak untuk berubah sebagai bukti keberhasilan strategi parenting.

Menurut dia, prank polisi palsu bukan sekadar tentang bercanda, namun justru mempertemukan tiga persoalan yang sangat berbahaya untuk anak.

"Parenting by lying: Membohongi anak untuk mengendalikan perilaku, pengendalian perilaku melalui ancaman (fear-based discipline): Penggunaan rasa takut sebagai pengendalian disiplin, dan eksploitasi kerentanan anak melalui konten digital: Penyebarluasan momen rentan anak tanpa persetujuan yang beresiko pada self-esteem anak di masa depan," tuturnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Satgas PRR Dorong Percepatan Pembangunan 187 Huntap di Desa Tandihat Tapsel
• 3 jam lalu
0
thumb
Cak Imin Dorong Ekonomi Pesantren Jadi Pusat Penanggulangan Kemiskinan
• 20 jam lalu
0
thumb
Anthropic Lanjut IPO di Tengah Gejolak Sektor AI, Valuasi Bisa Tembus Rp27.000 Triliun
• 23 jam lalu
0
thumb
Prediksi BRI Super League Arema FC Vs Dewa United: Misi Bangkit yang Sulit bagi Singo Edan
• 9 jam lalu
0
thumb
Lewis Hamilton tercepat dalam sesi latihan bebas GP Amerika Serikat
• 11 jam lalu
0
Berhasil disimpan.