Ribuan Demonstran Turun ke Jalan di Eropa, Milan Dijaga Ketat Tentara

kompas.tv
1 jam lalu
Cover Berita
Polisi antihuru-hara mengawasi warga yang berunjuk rasa di jalanan Milan, Italia, Sabtu (24/10/2026). Demonstrasi tersebut digelar untuk memprotes kenaikan biaya hidup dan memburuknya layanan publik, sebagai bagian dari sejumlah aksi di Italia yang diselenggarakan oleh kelompok-kelompok dari berbagai spektrum politik. (Sumber: AP Photo/Antonio Calanni)

MILAN, KOMPAS.TV – Ribuan anak muda menggelar demonstrasi di sejumlah kota di Eropa, Sabtu (24/10/2026). Di Italia, aparat mengerahkan ribuan personel polisi dan tentara untuk mengantisipasi kerusuhan dan penjarahan seperti yang terjadi dalam aksi pekan sebelumnya.

Demonstrasi berlangsung di sejumlah kota, termasuk Milan, Roma, dan Turin. Aksi di Milan berjalan damai, sementara bentrokan singkat antara demonstran dan polisi dilaporkan terjadi di Roma dan Turin.

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengumumkan sejumlah langkah pengamanan, termasuk pengerahan tambahan 500 tentara ke Milan dan pemberlakuan hukuman lebih berat bagi pelaku kerusuhan yang masih di bawah umur.

Pekan sebelumnya, aksi demonstrasi di Italia diwarnai bentrokan dan penjarahan. Polisi menyebut banyak pelaku kekerasan saat itu merupakan anak muda.

Di Milan, aparat menutup sejumlah toko mewah dengan papan pelindung pada bagian depan bangunan. Namun, menjelang sore, sebagian besar toko kembali beroperasi, menurut laporan media Italia.

Gelombang demonstrasi juga berlangsung di Madrid, Lisbon, dan Tirana. Aksi-aksi tersebut membawa beragam tuntutan, mulai dari persoalan pendidikan, korupsi, gerakan antiperang, pensiun, hingga perumahan.

Milan Dijaga Ribuan Personel Keamanan

Saat malam tiba, ribuan demonstran berkumpul di Milan sambil meneriakkan kecaman terhadap Meloni dan mengangkat spanduk bertuliskan, “Tidak untuk kebohongan negara.”

Sejumlah demonstran juga menumpahkan kotoran ternak di depan kantor regulator energi Italia dan membakar replika tagihan listrik berukuran besar. Aksi tersebut terekam dan disiarkan televisi lokal.

Tambahan 500 tentara yang dikerahkan ke Milan bergabung dengan ratusan personel militer yang telah ditempatkan di kota itu. Mereka mendukung sekitar 5.000 polisi dan personel keamanan lainnya.

Baca Juga: Krisis Biaya Hidup Picu Gelombang Protes di Eropa, dari Prancis hingga Albania

Pengamanan dilakukan melalui pemantauan menggunakan drone, pemeriksaan di stasiun kereta, pengerahan unit respons cepat, serta pemantauan aktivitas daring untuk mendeteksi potensi ajakan melakukan kekerasan.

Sejumlah toko di kawasan mode Milan, termasuk gerai Omega, Tiffany, dan Gucci, memasang papan pelindung pada jendela mereka. Toko Apple juga tutup dan belum kembali beroperasi ketika sejumlah toko lain mulai dibuka.

Pada akhir pekan sebelumnya, para perusuh merusak sejumlah toko dan menjarah barang-barang, termasuk sepatu kets, pakaian olahraga, serta perlengkapan olahraga di jalan-jalan sekitar Lapangan Duomo, pusat kota Milan.

Langkah pengamanan kali ini juga diperluas ke luar pusat kota untuk mencegah kemungkinan demonstran bergerak ke kawasan lain.
Aksi di Milan berakhir damai pada Sabtu malam di luar kawasan Milan Polytechnic, yang berjarak lebih dari tiga kilometer dari pusat kota.

Pihak berwenang juga tengah menyelidiki seorang jurnalis lepas berusia 30 tahun yang disebut sebagai “dalang” gerakan baru bernama Gerakan 17 Oktober. Gerakan tersebut dinilai menjadi pendorong utama gelombang demonstrasi terbaru di Italia.

Menurut kepolisian Milan, kekerasan dan penjarahan pekan sebelumnya melibatkan sekitar 2.000 demonstran berusia sangat muda. Sebagian di antaranya merupakan warga Italia generasi kedua yang telah memperoleh kewarganegaraan, selain warga negara asing.

Dalam dua hari, polisi menangkap 45 orang, termasuk 34 anak di bawah umur.

Sekitar 30 aktivis sayap kanan yang disebut terkait dengan kelompok suporter klub sepak bola Inter Milan juga sempat muncul. Mereka meneriakkan slogan-slogan antiimigran dan anti-Muslim, tetapi segera dipisahkan oleh polisi.

Seperti dikutip dari The Associated Press, Menteri Pertahanan Italia Guido Crosetto mengatakan, tentara yang dikerahkan pada Sabtu baru-baru ini diizinkan menggunakan tali pengikat plastik untuk menahan seseorang, tetapi hanya di kawasan sekitar stasiun kereta. Mereka tidak diperbolehkan menggunakan alat tersebut di seluruh wilayah kota.

Crosetto menambahkan, tentara juga tidak diberi wewenang membawa semprotan merica maupun alat kejut listrik.

Demonstran Coba Masuk ke Colosseum

Di Roma, aparat meningkatkan pengamanan dengan menutup sejumlah ruas perbelanjaan mewah dan memperketat pengawasan di sekitar Circus Maximus serta Piazza del Popolo.

Sejumlah kecil demonstran berusaha menerobos masuk ke Colosseum, tetapi petugas keamanan berhasil mengarahkan mereka keluar. Di lokasi lain, ratusan mahasiswa menggelar demonstrasi damai untuk menegaskan bahwa mereka tidak terlibat dalam kerusuhan.

Presiden nasional sebuah asosiasi mahasiswa sayap kanan Italia, Riccardo Ponzio, mengecam kekerasan yang terjadi pada pekan sebelumnya.

Baca Juga: Kericuhan Demo Biaya Hidup Mahal di 5 Negara Eropa, Termasuk di Perancis dan Italia | SAPA PAGI

“Saya pikir gambar-gambar dari pekan lalu benar-benar mengerikan, terutama bagi kaum muda, para pelajar, dan sebagian besar generasi muda yang ingin belajar ... serta tidak menerima jika mereka diwakili oleh orang-orang yang menggunakan berbagai isu dan kebutuhan untuk menghancurkan seluruh kota,” kata Ponzio.

Di pusat kota Roma, demonstrasi antiperang juga berlangsung secara terpisah. Penyelenggara berusaha menjaga aksi tetap damai dengan meminta peserta tidak menutupi wajah dan tetap memperlihatkan tangan mereka.

Namun, bentrokan singkat justru terjadi antara kelompok demonstran tersebut dan polisi di dekat Piazza della Repubblica. Bentrokan berlangsung ketika penyelenggara berusaha menahan massa menggunakan tongkat dan gas air mata.

Situasi mereda setelah polisi mengerahkan meriam air. Demonstran kemudian mundur ke lokasi yang berjarak sekitar setengah kilometer dari titik bentrokan.

Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.

Penulis : Tussie Ayu Editor : Desy-Afrianti

Sumber : The Associated Press

Tag
  • demonstran
  • milan
  • italia
  • eropa
  • demonstrasi
  • turin
Selengkapnya


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Trump Pertimbangkan Serang Iran: Mungkin Besok!
• 5 jam lalu
0
thumb
Sopir BYD Penabrak 4 Mobil dan Lindas Ojol di Blok M jadi Tersangka
• 2 jam lalu
0
thumb
FULL! Cerita Haru Relawan di Kalimantan Tengah Berjuang Padamkan Karhutla
• 20 jam lalu
0
thumb
Mobil Perwira TNI Dirusak Massa Usai Tabrak Pemotor Wanita
• 13 jam lalu
0
thumb
Pemerintah Bangun 66 Hunian Tetap untuk Korban Bencana di Lhokseumawe, Ditargetkan Rampung Desember 2026
• 22 jam lalu
0
Berhasil disimpan.