Gandrung Sewu, Tradisi Menari dalam Wajah Baru

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

Warga Banyuwangi, Jawa Timur, punya cara baru merayakan tradisi. Lewat acara Gandrung Sewu, sedikitnya 1.300 orang menarikan tari gandrung secara kolosal di Pantai Boom, Sabtu (24/10/2026) malam,

Di tepian Selat Bali, mereka menari dibalut kostum menyala dalam gelap, glow in the dark. Bersama permainan tata cahaya dan pertunjukan pesawat nirawak, Gandrung Sewu 2026 disajikan berbeda untuk pertama kalinya.

Tahun ini, tema yang diangkat adalah Kembang Dermo. Kembang melambangkan kesuburan, panen melimpah, dan harapan hidup makmur. Sedangkan dermo atau derma bermakna memberi dan ikhlas mengikuti jejak leluhur yang dermawan. Tema ini menjadi dialog spiritual antara alam, manusia, dan Sang Pencipta.

Digelar sejak 2012, event ini selalu mengambil tema berbeda setiap tahun. Perdana digelar, tema yang diangkat adalah Jejer Gandrung yang mengangkat kisah kelahiran tari gandrung. Tema selanjutnya yang diangkat adalah kehidupan dan tradisi pertunjukkan hingga sejarah dan tradisi Banyuwangi.

Setelah terhenti akibat Covid-19 di tahun 2020, representasi kekayaan seni budaya Blambangan yang tumbuh dalam kehidupan warga Osing ini kembali dengan tema Gandrung Sewu Nusantara (2021), Sumunare Tlahat Blambangan (2022), Omprog The Glory of Art (2023), Payung Agung: The Diversity of Culture (2024), dan Selendang Sang Gandrung (2025).

Baca JugaGandrung Sewu Menyibak Malam
Wajah baru

Kini, inovasi anyar dan wajah baru coba ditawarkan. Untuk pertama kalinya, Gandrung Sewu digelar malam hari.

“Perpaduan gerak lentur, alunan gamelan, permainan tata cahaya, drone show, dan kostum glow in the dark,” ujar Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Sabtu.

Meski ditampilkan berbeda, ajang ini tetap menyajikan pesan tradisi yang penting. Gandrung Sewu kali ini, menurut Ipuk, menyampaikan pesan bahwa tradisi tidak harus berhenti pada bentuk yang diwariskan.

Tradisi, kata dia, bisa terus tumbuh, menemukan cara baru untuk hadir dan tetap memikat generasi yang berbeda. Budaya yang hidup adalah budaya yang terus dirawat, diruwat, dicintai dan diberi ruang untuk berkembang.

Tidak hanya itu, gandrung juga dimaknai lebih dari sekedar warisan budaya. Kini, bagi masyarakat Banyuwangi, menjadikannya sebagai daya tarik wisata yang ikut menggerakkan ekonomi masyarakat.

“Lewat panggung budaya seperti ini usaha mikro kecil dan menengah laris, pengrajin bergerak, homestay, hotel dan kuliner merasakan berkahnya,” kata Ipuk.

Staf Ahli Menteri Bidang Transformasi Digital dan Inovasi Pariwisata di Kementerian Pariwisata, Masruroh, mengapresiasi kolaborasi banyak pihak untuk menggelar Gandrung Sewu kali ini. Apalagi, acara yang berkolaborasi dengan Injourney ini menorehkan catatan untuk kelima kalinya masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN).  

“Tidak mudah menjaga dan memberikan inovasi yang terus-menerus seperti malam ini. Kebahagiaan yang dirasakan luar biasa. Dari mulai tengah kota sampai Pantai Boom, warga antusias untuk datang melihat penyajian seni tradisi dengan cara baru ini,” ujarnya.

Inspirasi penari muda

Bagi para penari muda, Gandrung Sewu tetap menjadi kawah candradimuka. Bisa menarikan gandrung, apalagi terlibat secara kolosal, adalah kebanggaan warga Banyuwangi.

Setiap kali perhelatan usai, orangtua langsung menyerbu ke barisan, menghampiri anak-anak mereka dan memeluknya. Anak, yang masih menggunakan kostum gandrung lengkap dengan mahkota, juga menyambutnya dengan emosional.

Derai air mata haru pecah. Bisa menarikan gandrung, orangtua beranggapan kesenian turun-temurun ini akan tetap lestari.

Oleh karena itu, tak heran jika banyak anak muda dari luar Banyuwangi juga ingin berpartisipasi. Penari dari daerah lain di Jatim seperti Mojokerto, Bondowoso, Gresik, Malang, Kediri, Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Jember, dan Bangkalan, ikut serta.

Bahkan, ada delapan penari asal Palembang dan Lampung tetap bersikukuh meneruskan perjalanan meski KMP Batumandi yang mereka tumpangi terbakar di perairan sekitar Pelabuhan Merak, Cilegon, Banten, Selasa (20/10/2026).

“Sempat kami tanya, ingin pulang atau lanjut ke Banyuwangi? Mereka bilang lanjut,” ucap Ketua Ikatan Keluarga Banyuwangi (Ikawangi) Sumsel Suroso.

Dibantu Ikawangi Pusat Jakarta, rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Banyuwangi menggunakan bus. “Puji Tuhan kami diberi keselamatan. Kami sangat bersemangat untuk tampil di Gandrung Sewu,” ucap Fitri, salah satu penari.

Di tengah perkembangan zaman, tari gandrung masih luwes mengikuti segala perubahannya. Waktu boleh mengubah banyak hal tapi pesan penting dari tari gandrung diharapkan akan terus hidup selamanya.

Baca JugaRibuan Generasi Muda ”Berebut” Bawakan Gandrung Sewu


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Diduga Danai Tambang Emas Ilegal di Aceh, Seorang Pria Akhirnya Ditahan Polisi
• 14 jam lalu
0
thumb
Geger! BNN Ungkap Lab Sabu Terbesar di Indonesia, 1,1 Ton Sabu Disita di Aceh | SAPA MALAM
• 18 jam lalu
0
thumb
BMKG Sebut Indonesia Jadi Negara Pertama yang Terapkan Modifikasi Cuaca Dry Ice
• 22 jam lalu
0
thumb
13 Siswi SMP di Ciputat Dipaksa Senior Minum Kopi Campur Cuka, 3 Dirawat di RS
• 21 jam lalu
0
thumb
Cuaca Panas Bikin Gerah? Ini 5 Brand Activewear yang Bisa Jadi Pilihan Beauty!
• 18 jam lalu
0
Berhasil disimpan.