YOGYAKARTA -- Film Laut Bercerita menjadi salah satu upaya merawat ingatan kolektif tentang kelamnya situasi politik Indonesia pada masa Orde Baru, khususnya penghilangan paksa aktivis menjelang Reformasi 1998. Diadaptasi dari novel karya Leila S. Chudori, film garapan sutradara Yosep Anggi Noen ini mengangkat perjuangan anak-anak muda dalam menyuarakan ketidakadilan, sekaligus menyajikan kisah keluarga yang kehilangan orang-orang terkasih akibat represi negara.
Kisah dalam Laut Bercerita berangkat dari keresahan anak-anak muda pada dekade 1980-an hingga 1990-an terhadap ketidakadilan, korupsi, dan ketertutupan pemerintah. Upaya mereka untuk berserikat, menyampaikan kritik, dan memperjuangkan perubahan berhadapan dengan risiko penangkapan hingga penghilangan paksa.
Namun, film ini tidak hanya berkisah tentang aktivisme dan represi politik. Cerita juga bergerak melalui sudut pandang keluarga yang terus mencari anggota keluarganya yang hilang.
"Jadi ini sebenarnya sebuah cerita keluarga. Keluarga yang kehilangan anaknya itu pada masa Orde Baru," kata Sutradara Film Laut Bercerita, Yosep Anggi Noen, Jumat (23/10/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}Anggi mengatakan, proses adaptasi novel ke film membutuhkan pendekatan berbeda karena kedua medium memiliki karakteristik masing-masing. Dalam film ini, ia memilih alur linear agar cerita lebih mudah diikuti penonton, meskipun novel aslinya memiliki alur yang bergerak maju-mundur.
"Di posisi adaptasinya, sebenarnya kita menginginkan satu adaptasi yang lebih ramah kira-kira ke penonton," katanya.
Ia menjelaskan, sejumlah adegan juga dikembangkan untuk mempertegas konteks sejarah yang melatarbelakangi cerita. Salah satunya adalah adegan demonstrasi anak muda pada 1990-an untuk memprotes keputusan pengadilan yang menghukum seorang pembaca buku Pramoedya Ananta Toer selama delapan tahun penjara.
"Ada tambahan-tambahan yang kita tekankan untuk menunjukkan konteks," katanya.
"Film ini menjadi upaya bersama untuk merawat ingatan sejarah," ungkap Anggi.
Produser Budi Setyarso mengatakan penggunaan film sebagai medium bercerita merupakan bagian dari upaya menyuarakan nilai-nilai yang diyakini dapat membawa Indonesia menjadi lebih baik. Menurut dia, film memiliki kekuatan melalui bahasa visual dan pengalaman menonton yang dapat membuat cerita terasa lebih nyata bagi penonton.
"Indonesia yang lebih baik itu apa sih? Ya, Indonesia yang tidak pernah melanggar hak asasi manusia warga negaranya, yang tidak menoleransi korupsi, yang menghargai sesamanya," ujar Budi.
Melalui Laut Bercerita, harapannya tidak hanya mengajak penonton melihat kembali peristiwa masa lalu, tetapi juga menjadikannya pelajaran agar nasib para aktivis yang dihilangkan tidak terulang.
"Yang lebih penting adalah bagaimana kita menyikapinya agar apa yang menjadi nasib dari teman-teman yang diceritakan di film Laut Bercerita itu tidak terulang kembali di masa depan," katanya.
Reza Rahadian, pemeran Biru Laut, mengatakan film ini membawa semangat anak-anak muda yang berusaha menyuarakan keresahan dan memperjuangkan keadilan. Menurut dia, perjuangan para tokoh dalam film dapat menjadi pengingat bagi generasi sekarang bahwa kebebasan menyampaikan pendapat perlu terus dijaga.
"Mudah-mudahan itu terus memberikan spirit bahwa, 'oh iya ya, kita di hari ini punya lebih banyak platform lagi sebenarnya untuk menyuarakan'," kata Reza.
Ia juga menyoroti pentingnya merawat ingatan tentang sejarah penghilangan paksa aktivis. Menurutnya, peristiwa yang diangkat dalam film tersebut tidak terjadi terlalu jauh dari kehidupan masyarakat saat ini. Bentuk tekanan terhadap kebebasan berekspresi mungkin telah berubah, tetapi kewaspadaan terhadap represi tetap diperlukan.
"Dan itu adalah sebuah sejarah yang mudah-mudahan tidak terulang lagi meskipun bentuk represi atau bentuk tekanan-tekanan hari ini mungkin wujudnya sudah berubah," ujarnya.
Dian Sastrowardoyo, yang memerankan Kasih Kinan, menyoroti peran perempuan dalam gerakan aktivisme menjelang Reformasi 1998. Berdasarkan riset dan pertemuannya dengan aktivis perempuan, ia mengetahui bahwa karakter Kinan terinspirasi dari sejumlah sosok nyata yang terlibat dalam gerakan mahasiswa pada masa itu.
Dian mengatakan para aktivis perempuan tersebut turut mengambil peran penting dalam menyusun strategi gerakan dan menjaga solidaritas di antara para pejuang keadilan. Melalui karakter Kinan, ia berusaha menggambarkan perempuan yang menempatkan perjuangan bersama di atas kepentingan pribadi serta ikut memikirkan keselamatan rekan-rekannya.
"Mereka tuh enggak sempat mikirin cinta ataupun naksir sama siapa. Karena justru mereka kayaknya hidup matinya sudah benar-benar memperjuangkan keadilan," kata Dian.
Sementara itu, Ben Nugroho yang berperan sebagai Alex mengaku keterlibatannya dalam film ini memperdalam pemahamannya tentang peristiwa 1998 dan pengalaman para korban. Sebelum terlibat dalam produksi Laut Bercerita, ia mengaku telah mengetahui peristiwa tersebut, tetapi belum memahami detailnya secara mendalam.
"Eye opening sih untuk keterlibatan dalam film ini juga. Jadi saya lebih tahu secara detail, apalagi pada saat ketemu para aktivis itu juga," ujar Ben.
Ia juga mendalami karakter Alex melalui novel dan diskusi dengan sejumlah mantan aktivis. Selain itu, latar belakangnya di bidang fotografi membantunya memahami perspektif dokumentasi dan pengalaman memotret demonstrasi.
Begitu pula dengan Kevin Julio, pemeran Daniel. Ia menekankan nilai solidaritas dan persahabatan yang menjadi bagian penting dari cerita. Menurut dia, perjuangan para tokoh dalam film menunjukkan pentingnya kebersamaan dalam upaya mewujudkan perubahan.
"Menurut saya itu enggak ada salahnya. Itu adalah pelajaran yang paling terpenting yang ada di film ini," kata Kevin.
Pada akhirnya, merawat ingatan menjadi bagian penting dari upaya memahami sejarah dan mencegah terulangnya pelanggaran hak asasi manusia. Hampir tiga dekade setelah Reformasi 1998, kisah dalam Laut Bercerita mengingatkan bahwa perjuangan untuk keadilan dan kebebasan berekspresi masih relevan bagi generasi sekarang.





Komentar (0)