JAKARTA, DISWAY.ID - Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menjadi momentum untuk mengevaluasi dampak kebijakan pembangunan nasional terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Di Jawa Timur (Jatim), keberhasilan agenda hilirisasi dinilai tidak hanya bergantung pada investasi dan pengolahan sumber daya alam, tetapi juga pada kesiapan infrastruktur serta konektivitas antarkawasan industri.
Pandangan tersebut disampaikan akademisi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Hendra Sukmana, dalam diskusi publik bertajuk “2 Tahun Kepemimpinan Prabowo, Hilirisasi dan Masa Depan Industri Jawa Timur”. Kegiatan yang digelar Gerakan Masyarakat Madani (GMM) itu berlangsung di Surabaya, Sabtu (24/10/2026).
Hendra menilai, strategi hilirisasi yang dilanjutkan pemerintahan Prabowo perlu ditopang infrastruktur daerah yang memadai. Dukungan tersebut diperlukan agar pengembangan industri mampu menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih luas dan dirasakan langsung oleh masyarakat setempat.
Menurutnya, salah satu aspek penting adalah keterhubungan transportasi publik dengan kawasan industri. Mobilitas pekerja yang semakin lancar dapat membantu mendukung aktivitas produksi sekaligus memperkuat hubungan antarpusat pertumbuhan ekonomi.
“Saya memandang hilirisasi salah satu langkah strategis dalam memperkuat kemandirian ekonomi Indonesia,” kata Hendra.
Ia mengingatkan bahwa hilirisasi sumber daya alam (SDA) perlu diwujudkan melalui pengembangan industri yang memberikan nilai tambah. Dengan demikian, kebijakan tersebut tidak berhenti sebagai agenda pembangunan, tetapi mampu meningkatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat di daerah penghasil sumber daya.
“Kebijakan Prabowo ini perlu dikawal secara konsisten agar kekayaan sumber daya alam Jawa Timur mempunyai nilai tambah bagi masyarakat,” ujar Hendra.
Trans Jatim Dukung Konektivitas Kawasan IndustriSelain pengolahan sumber daya alam, Hendra menyoroti peran konektivitas dalam memperkuat daya saing industri Jawa Timur. Layanan bus Trans Jatim dinilai dapat membantu mobilitas masyarakat dan tenaga kerja, sekaligus mendukung keterhubungan antarkawasan ekonomi.
“Konektivitas antarkota memiliki peran strategis dalam mendukung mobilitas masyarakat dan memperkuat hubungan antarpusat kegiatan ekonomi,” ujarnya.
Hendra menyebut Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Pasuruan, hingga Malang sebagai wilayah yang berpotensi memperoleh manfaat dari peningkatan konektivitas. Kawasan-kawasan tersebut dinilai memiliki peran penting dalam aktivitas industri dan ekonomi di Jawa Timur.
Sementara itu, Madiun dipandang berpeluang berkembang sebagai salah satu penggerak industri di wilayah barat Jawa Timur, seiring dengan masuknya investasi dan penguatan aktivitas ekonomi.
Konektivitas transportasi dan pengembangan infrastruktur kawasan menjadi faktor yang perlu diperhatikan agar pertumbuhan industri dapat berlangsung lebih merata. Dengan dukungan tersebut, aktivitas ekonomi di berbagai wilayah diharapkan dapat saling terhubung dan memberikan dampak yang lebih luas.
GMM Nilai Hilirisasi Perlu Dikawal dari DaerahDalam diskusi yang sama, aktivis Gerakan Masyarakat Madani, Anton Cahyono, menilai arah pembangunan nasional melalui program Asta Cita berada pada jalur yang tepat. Ia menyoroti komitmen pemerintah dalam mendorong hilirisasi sebagai salah satu upaya memperkuat struktur ekonomi dan membuka kesempatan kerja.
“Kita harus percaya pada pemerintahan Prabowo yang sejauh ini sudah di lintasan dan berkonsentrasi penuh dalam mengembangkan proses hilirisasi dan masa depan industri Indonesia. Dan ini sudah terlihat hasil kerja beliau selama ini,” kata Anton.
- 1
- 2
- »






Komentar (0)