Malang (beritajatim.com) – Setidaknya 150 jenis hewan, mulai dari ayam serama, merpati hias, kucing, hingga deretan satwa eksotis, memanjakan mata pengunjung dalam ajang Prana Satwa Brawijaya 2026. Acara ini menjadi ajang edukasi sekaligus penggerak roda ekonomi kreatif.
Ketua Panitia Prana Satwa Brawijaya 2026, Dr. Asri Nurul Huda, S.Pt., M.P., M.Sc., memaparkan bahwa gelaran tahun ini menggandeng enam komunitas satwa tingkat nasional. Komunitas tersebut meliputi Asosiasi Pecinta Ayam Hias, Indonesia Fancy Pigeon Community, Serama Malang Lovers (SEMALOV), Indonesian Cat Association (ICA), Himpunan Ayam Pelung Indonesia (HIPAPPI), dan Malang Glow Exotic (MAGE).
“Pelaksanaan hari pertama kami fokuskan pada kontes kucing dengan jumlah pendaftar mencapai 85 orang. Sementara itu, pada hari kedua, kompetisi beralih ke ayam dan merpati hias yang diperkirakan menembus 500 pendaftar. Khusus merpati hias saja, ada 44 kategori perlombaan yang kami siapkan,” ujar Asri saat ditemui di Gedung Samantha Krida, Universitas Brawijaya (UB), Malang, Sabtu (24/10/2026).
Tak hanya kontes unggas dan mamalia populer, pengunjung juga mendapatkan edukasi melalui pameran satwa eksotis. Kura-kura, musang, burung hantu, hingga aneka reptil ditampilkan sebagai sarana edukasi mengenai tata cara penanganan hewan, termasuk praktik pertolongan pertama saat digigit ular.
Penilaian oleh Juri pada Kontes Kucing (Foto: Istimewa)Ajang kompetisi yang memperebutkan Piala Rektor UB ini turut menarik perhatian peserta dari luar kota. Arifin, perwakilan Nayra Farm asal Kediri, rela membawa koleksi unggulannya, yakni ayam hias Onagadori asal Jepang, enam ayam hias langka lainnya, serta 70 ekor merpati peliharaannya.
Acara ini dibuka langsung oleh Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo. Momen pembukaan dikemas unik melalui kampanye makan telur bersama, sebuah gerakan sosial untuk meningkatkan pemenuhan gizi masyarakat melalui kebiasaan mengonsumsi dua butir telur setiap hari.
Prof. Widodo menilai Prana Satwa Brawijaya merupakan platform edukasi yang penting untuk mengenalkan kekayaan plasma nutfah. Mengutip data dari kecerdasan buatan, ia menyebutkan bahwa terdapat lebih dari 1.600 spesies ayam di dunia, dengan 60 di antaranya merupakan satwa asli Indonesia.
“Tanpa adanya acara seperti ini, masyarakat mungkin kurang menyadari betapa melimpahnya keanekaragaman genetik kita. Apabila dieksplorasi secara optimal, kekayaan hayati ini bisa menunjang kesejahteraan, baik dari sisi pemenuhan gizi maupun riset medis,” ujar Prof. Widodo.
Ia juga menambahkan bahwa hobi memelihara satwa hias dapat membuka peluang wirausaha bagi generasi muda untuk merintis *start-up* di bidang peternakan.
Kesuksesan pameran ini tidak lepas dari dukungan industri, melalui kolaborasi Fakultas Peternakan (Fapet) UB dengan PT Charoen Pokphand Indonesia dan PT CP Petindo. Regional Head of East Java PT Charoen Pokphand Indonesia, Benyamin Limi, mengapresiasi sinergi dengan UB yang sebelumnya telah melahirkan produk inovasi pakan unggas hias berbasis probiotik sejak dua tahun lalu.
Sejalan dengan itu, Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan (FAST) UB, Prof. M. Halim Natsir, menyoroti pentingnya menyatukan empat pilar utama, yakni akademisi, industri, asosiasi, dan media. Sinergi ini dirancang untuk menjaga kelestarian plasma nutfah nasional sekaligus mencetak lulusan kampus yang kompeten sesuai dengan tuntutan industri.
“Bentuk nyata dari kolaborasi ini adalah hadirnya hibah fasilitas teaching farm berteknologi closed house, serta riset kolaborasi untuk mengembangkan pakan aditif demi memproduksi telur kaya Omega-3 di FAST UB,” kata Prof. Halim Natsir. (dan/kun)





Komentar (0)