Strategi "Xingshang Jianshi", Mengubah Yiwu Menjadi Kota Berkelas Dunia

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Di era Mao Zedong (1949-1976), China menganut ideologi komunis asli di mana semua milik negara, tidak boleh ada milik pribadi dan tidak boleh ada istilah untung. Dalam sistem yang seperti itu segala-galanya disiapkan oleh negara.

Jadi orang tidak perlu dan tidak boleh berdagang karena pekerjaan berdagang menurut mereka adalah pekerjaan dari para kapitalis yang kerjanya menurut mereka adalah menghisap darah rakyat. Jadi Mao ingin menciptakan masyarakat tanpa kelas yang hidupnya sama rata dan sama rasa.

Oleh karena itu Mao melarang kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi, tanah, usaha dan perdagangan bebas karena menurut Mao hal itulah yang menjadi penyebab utama bagi lahirnya kapitalisme dan eksploitasi kelas. Mao menghapus hak milik swasta dan mengalihkannya menjadi milik kolektif negara. Untuk terciptanya kesejahteraan rakyat maka perdagangan swasta dilarang dan negara atau pemerintah bertugas sebagai distributor tunggal untuk memenuhi semua kebutuhan rakyat.

Jadi di China pada masa Mao Zedong tidak ada toko swasta, pasar bebas seperti yang kita lihat hari ini semua kebutuhan rakyat mulai dari makanan, pakaian, hingga kebutuhan pokok lainnya dijatah oleh pemerintah dengan menggunakan sistem kupon yang didistribusikan melalui toko-toko milik negara. Di Yiwu sendiri di tahun 1970an jika ada orang berjualan gula dan ayam maka mereka bisa ditangkap dan diarak keliling desa pakai topi tinggi bertuliskan saya kapitalis jahat. Tetapi setelah Mao Zedong meninggal dunia dan Deng Xiaoping tampil memimpin reformasi China maka Xie Gaohua yang menjabat sebagai Sekretaris Partai Komunis Yiwu pada bulan April 1982 mengizinkan rakyat Yiwu untuk berdagang secara legal.

Bahkan pada 5 September 1982 Yiwu membuka pasar Huqingmen yang diakui sebagai salah satu pasar komoditas kecil gratis pertama di Tiongkok. Di pasar inilah para pedagang jalanan mulai ditata dan diizinkan menggelar lapak secara resmi. Hal itu bisa dilakukan Xie Gaohua karena mendapat restu politik yang digaungkan oleh Deng Xiaoping di tingkat pusat. Untuk memajukan kotanya Yiwu menerapkan strategi khusus bernama Xingshang Jianshi yaitu mengembangkan perdagangan untuk membangun kota di mana pemerintah Yiwu berperan menyediakan infrastruktur dan ruang pasar dan masyarakat diberi kebebasan penuh untuk memanfaatkannya.

Sejak legalisasi tahun 1982 tersebut, pasar Yiwu terus berevolusi. Pasar terus direnovasi dan dipindahkan ke lokasi yang lebih besar seperti pasar Huangyuan yang diresmikan oleh pemerintah pusat China tahun 1992 dibuat menjadi pusat grosir yang bernama China Small Commodities City. Tahun 2002 lahirlah pasar modern berstandard internasional untuk menampung ledakan perdagangan global pasca masuknya China ke dalam World Trade Organization (WTO). Pada 22 oktober 2002 Pemerintah Yiwu secara resmi membuka Distrik 1 Yiwu International Trade City.

Gedung modern itu memiliki fasilitas lengkap mulai dari sistem logistik canggih, hotel, e-commerce, hingga area khusus untuk pembeli internasional. Setelah distrik 1 selesai maka pembangunan dilanjutkan ke distrik 2,3,4 dan 5. Kompleks pasar modern Yiwu tersebut memiliki luas area bisnis lebih dari 6,4 juta meter persegi yang membentang hingga beberapa kilometer.

Di dalamnya terdapat lebih dari 75.000 kios yang menampung ratusan ribu penyuplai. Melihat perkembangan pasar modern Yiwu yang luar biasa tersebut Bank Dunia dan PBB tahun 2005 telah menobatkan Pasar Yiwu secara resmi sebagai pasar grosir barang komoditas kecil terbesar di dunia di mana barang-barang dari Yiwu diekspor ke lebih dari 200 negara dan wilayah di seluruh penjuru dunia.

Saat ini pasar tersebut juga telah bertransformasi lagi menjadi Yiwu Global Digital Trade Center (GDC) yang dikenal juga sebagai Pasar Generasi Keenam atau Distrik 6 yang mereka bangun pada tahun 2022.

Saking luas dan besarnya Pusat perdagangan yang berlokasi di Kota Yiwu tersebut, sekarang pusat perdagangan itu lebih dikenal sebagai supermarket dunia yang telah dirancang oleh pemerintah China sebagai simbol transisi Yiwu dari pasar grosir tradisional menuju ekosistem perdagangan berbasis digital penuh.

China benar-benar tampak luar biasa. Masalah China akan tampil menjadi negara nomor satu di dunia menggantikan Amerika Serikat kelihatannya hanya tinggal menunggu waktu.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Barclays PHK 5.000 Karyawan, Digantikan AI
• 4 jam lalu
0
thumb
Marc Marquez Pimpin Klasemen MotoGP 2026 usai Menang Sprint Race Australia
• 7 jam lalu
0
thumb
Layanan JKN Sempat Terganggu, BPJS Kesehatan Klaim Sistem Sudah Pulih
• 23 jam lalu
0
thumb
4 Wakil Merah Putih ke Semifinal French Open 2026, Ganda Putra Berpeluang All Indonesian Final
• 15 jam lalu
0
thumb
Tindakan Medis hingga Rujukan Spesialis Dibatasi, PB IDI Minta Reformasi Tata Kelola JKN
• 7 jam lalu
0
Berhasil disimpan.