Bersenang-senang dahulu, bermacet-macet kemudian. Ungkapan itu mungkin bisa menggambarkan pengalaman Fashhan Rabbani (26) saat menghadiri festival musik dengan kendaraan pribadi. Setelah bahagia menikmati pertunjukan, ia harus menghadapi kemacetan dalam perjalanan pulang.
Kelelahan itu juga yang membuatnya memilih cara berbeda ketika kembali menonton festival. Saat menghadiri Pestapora pada September lalu, warga Depok itu meninggalkan kendaraan pribadinya dan memilih menggunakan MRT serta Transjakarta.
Meski sehari-hari masih menggunakan kendaraan pribadi, ia menilai angkutan umum lebih praktis untuk menghadiri acara besar. Ia tak perlu memikirkan tempat parkir ataupun mengemudikan kendaraan di tengah lalu lintas yang padat setelah acara selesai.
“Saya menggunakan MRT lalu disambung menggunakan Transjakarta. Jauh lebih praktis ketimbang bawa kendaraan pribadi,” ujarnya kepada Kompas, Sabtu (24/10/2026).
Menggunakan transportasi umum menjadi pembelajaran bagi Fashhan dari pengalaman sebelumnya. Selain kemudahan perjalanan, ongkos pergi-pulang turut menjadi pertimbangan.
“Lebih praktis naik transportasi umum ya. Hanya butuh biaya Rp 15.000-Rp 25.000 bolak-balik,” katanya.
Pengalaman serupa dirasakan Shalli (23) saat menghadiri konser tur dunia grup musik asal Korea Selatan, Stray Kids, di kawasan Gelora Bung Karno atau GBK, Jakarta Pusat. Konektivitas transportasi umum, menurut dia, sudah sangat baik sehingga ia memilih menggunakan MRT ketimbang mobil pribadi.
Shalli sudah membayangkan padatnya arus kendaraan saat ribuan penonton meninggalkan kawasan GBK seusai konser. Dengan menggunakan MRT, ia tak perlu mencari tempat parkir ataupun menghadapi kemacetan di balik kemudi.
Kenyamanan perjalanan pun menjadi pertimbangan untuk meninggalkan kendaraan pribadi. “Jauh lebih nyaman menggunakan MRT. Ditambah, sekarang fasilitas MRT dan Transjakarta sudah nyaman banget,” ucapnya.
Pilihan Fashhan dan Shalli memperlihatkan manfaat transportasi publik dalam perjalanan menuju acara besar. Bagi mereka, kenyamanan menikmati konser turut ditentukan oleh kemudahan mencapai lokasi dan kembali pulang.
Meski belum menunjukkan peralihan dalam seluruh perjalanan sehari-hari, pengalaman keduanya memperlihatkan alasan kendaraan pribadi ditinggalkan pada kesempatan tertentu.
Penilaian positif terhadap layanan angkutan umum Jakarta juga tergambar dalam survei majalah Time Out 2026.
Jakarta menempati posisi ke-15 dalam daftar kota dengan transportasi publik terbaik di dunia, naik dua peringkat dari posisi ke-17 pada tahun sebelumnya. Sebanyak 79,2 persen responden di Jakarta menilai layanan angkutan umum kotanya baik atau sangat baik.
Ketepatan waktu, kebersihan, keterjangkauan tarif, dan kemudahan berpindah moda menjadi sejumlah faktor yang disoroti. Unsur-unsur tersebut bersinggungan dengan kebutuhan penonton yang ingin berpergian dengan nyaman tanpa membawa kendaraan pribadi.
Dalam siaran pers pada Rabu (21/10/2026), Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut, jumlah penumpang Transjakarta, MRT Jakarta, dan LRT Jakarta mencapai 368,4 juta hingga September 2026.
Angka itu meningkat 10,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sekitar 23 juta perjalanan memanfaatkan fasilitas transportasi gratis bagi 15 golongan masyarakat.
Menurut Pemprov Jakarta, cakupan layanan angkutan umum telah mencapai 93 persen. Penguatan konektivitas terus dilakukan melalui pengembangan jaringan transportasi massal.
Perkembangan layanan tersebut menjadi bagian dari konteks Jakarta sebagai tempat penyelenggaraan berbagai acara berskala besar. Pramono menilai, kegiatan itu memberikan dampak ekonomi bagi kota.
“Jakarta sekarang menjadi episentrum event di Indonesia. Kegiatan-kegiatan ini kami fasilitasi karena dampak berganda ekonominya luar biasa,” ujarnya.
Namun, pengalaman perjalanan pulang tidak selalu serupa. Kemudahan yang dirasakan saat menghadiri satu konser belum tentu ditemukan di lokasi lain.
Bagi Sapta Prayoga, pemilik jasa open trip Youngtrip, kesulitan mendapatkan kendaraan seusai pertunjukan justru menjadi awal sebuah peluang usaha.
Pengalaman menonton konser Westlife di NICE PIK 2 pada Februari lalu menjadi awal terbentuknya Youngtrip. Saat itu, Sapta kesulitan mendapatkan kendaraan melalui aplikasi transportasi daring untuk perjalanan ulang.
Dari pengalaman tersebut, ia melihat kebutuhan penonton akan kepastian transportasi, terutama setelah acara berakhir pada malam hari.
“Lalu muncul ide untuk membuat open trip agar memudahkan para penikmat konser agar tak perlu khawatir untuk perjalanan konser mereka,” ujarnya.
Melalui Youngtrip, Sapta menawarkan penjemputan langsung dari rumah atau hotel tempat pelanggan menginap. Seusai konser mereka diantar kembali ke lokasi masing-masing tanpa harus berkumpul di titik pertemuan tertentu.
Menurut Sapta, pola layanan tersebut dipilih dengan mempertimbangkan waktu selesai konser yang kerap mencapai tengah malam. Kendaraan disiapkan sebelum penonton keluar dari lokasi acara sehingga pelanggan tidak perlu kembali mencari angkutan untuk pulang.
Kebutuhan akan kepastian perjalanan hingga tiba di rumah menjadi salah satu tantangan transportasi publik yang disoroti Sekretaris Jenderal Masyarakat Transportasi Indonesia atau MTI Aditya Dwi Laksana.
Menurut dia, layanan penghubung dari titik awal perjalanan menuju angkutan umum, serta dari angkutan umum ke tujuan akhir, masih perlu diperkuat.
Angkutan pengumpan atau feeder dan layanan ulang-alik atau shuttle perlu menjangkau lebih banyak permukiman, kawasan komersial, tempat wisata, dan kawasan industri. Dengan demikian, kemudahan perjalanan dapat dirasakan sejak warga meninggalkan rumah hingga tiba di tujuan.
Aditya menilai, sistem transportasi massal Jakarta berkembang pesat dalam sepuluh tahun terakhir. Pilihan moda semakin beragam, tarif relatif terjangkau, dan jangkauan layanan meluas.
Meski demikian, banyaknya pilihan angkutan perlu diikuti kemudahan berpindah moda. Menurut Aditya, integrasi mencakup keterhubungan fisik, layanan, tarif, tiket, dan sistem pembayaran. Fasilitas parkir untuk berpindah ke angkutan umum, kata dia, juga perlu diperbanyak.
Kemudahan mencapai halte dan stasiun menjadi pekerjaan lain yang belum selesai. Jalur pejalan kaki, fasilitas penyeberangan, serta akses bagi penyandang disabilitas dan pengguna berkebutuhan khusus, seperti lift dan jalur landai, dinilainya belum tersedia secara memadai.
Di balik kebutuhan tersebut, Aditya menekankan pentingnya kerja sama pemerintah daerah, operator, dan lembaga terkait. Pengembangan transportasi Jakarta dan wilayah penyangga memerlukan kesamaan arah agar layanan dapat saling terhubung.
“Tantangan yang paling utama dari pengembangan sektor transportasi umum di Jakarta dan Bodetabek adalah integrasi pemikiran,” ujarnya.
Menurut dia, cara pandang yang mengutamakan keterhubungan antarlayanan diperlukan untuk menghindari ego sektoral dalam pengembangan transportasi publik.






Komentar (0)