Kisah Relawan dan Pengungsi Karhutla: Hujan Jadi Satu-Satunya Harapan di Tengah Kabut Asap

suarasurabaya.net
8 jam lalu
Cover Berita

Kualitas udara di Kalimantan imbas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kian memburuk. Selain itu, minimnya peralatan di lapangan membuat upaya pemadaman cukup sulit dan mengancam keselamatan, baik bagi para relawan maupun warga terdampak.

Agam Rinjani seorang relawan yang turun langsung memadamkan api di Palangka Raya dan Taman Nasional Sebangau sejak 9 September 2026 lalu, menceritakan beratnya perjuangan di lapangan.

Luasnya lahan gambut yang terbakar tidak sebanding dengan jumlah personel dan keterbatasan alat keselamatan (safety gear).

“Memadamkan api di lahan gambut itu setengah mati. Meski bagian atas tampak padam, titik api di kedalaman hingga 8 meter di bawah tanah masih menyala. Dipadamkan pakai nozzle sampai jadi kubangan pun, sejam kemudian api keluar lagi. Bahkan pemadaman lewat helikopter hanya jadi embun karena airnya tidak pernah benar-benar sampai ke dasar,” kata Agam, dalam diskusi daring yang digelar Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga (RSKKA) Universitas Airlangga (Unair) pada Sabtu (24/10/2026).

Agam mengaku hanya mampu bertahan empat hari di lokasi pemadaman karena sesak napas akibat pekatnya asap, hingga akhirnya tumbang terkena Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Meski sempat sakit, Agam yang kini telah membaik memantapkan diri untuk kembali bertugas setelah melengkapi asuransi dan peralatan mandiri.

Agam Rinjani relawan pemadaman karhutla, membagikan kisahnya dalam memadamkan api hingga terkena ISPA. Foto: Hasil tangkap layar Youtube RSKKA

Dampak buruk asap karhutla ini juga dirasakan langsung oleh masyarakat sipil. Heni seorang warga Pontianak, Kalimantan Barat, bahkan terpaksa mengungsi jauh ke Bogor, Jawa Barat, demi bisa menghirup udara segar.

Dalam kesempatan itu, Heni sempat menggambarkan pekatnya kabut asap di daerahnya yang membuat jarak pandang tak sampai 10 meter.

“Di Pontianak kabut asapnya luar biasa, keluar rumah sama sekali tidak bisa bernapas. Asap bahkan masuk ke dalam rumah. Anak-anak terkurung tidak bisa bermain di luar, banyak yang sakit dan sesak napas. Begitu sampai di Bogor, baru rasanya napas bisa lega,” tutur Heni menceritakan kondisi mencekam di Pontianak.

Kondisi kritis di lapangan ini sejalan dengan data resmi pemerintah. Budiman, Plt Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengungkapkan bahwa sampai Jumat (23/10/2026) kemarin, terdapat 39 kabupaten/kota yang mencatatkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di atas angka 200, yang masuk dalam kategori sangat berbahaya.

“Bahkan di Kalimantan Tengah, parameter PM 2.5 sempat mencatatkan nilai ISPU fantastis hingga mencapai 1.931. Angka ini sudah lebih dari lima kali lipat dari batas ambang tingkat paling berbahaya,” jelas Budiman.

Budiman menegaskan adanya relevansi langsung antara lonjakan bencana karhutla dengan peningkatan kasus ISPA di tengah masyarakat.

Selain ISPA, Kemenkes juga memantau peningkatan penderita pneumonia, diare, iritasi kulit dan mata, hingga potensi heatstroke.

Menanggapi situasi ini, para relawan mendesak pemerintah agar menetapkan penyediaan ‘rumah oksigen’ sebagai Standar Operasional Prosedur (SOP) wajib di titik pemadaman agar petugas memiliki ruang pemulihan.

Sementara itu, Kemenkes mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk sepenuhnya menghentikan aktivitas di luar ruangan kecuali dalam kondisi yang sangat mendesak. (kir/saf/faz)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Luhut Usul Kerugian Negara Bukan Korupsi, Yusril: Perlu Dikaji Hati-hati
• 10 jam lalu
0
thumb
Breaking News! Gempa Dahsyat M7,2 Guncang Vanuatu, Picu Peringatan Tsunami
• 15 jam lalu
0
thumb
Batagor Legendaris Budi Mulya Surabaya, Gurih Ikan Tenggiri dan Saus Kacang Kental Jadi Andalan
• 34 menit lalu
0
thumb
Pemerintah Bangun 66 Hunian Tetap untuk Korban Bencana di Lhokseumawe, Ditargetkan Rampung Desember 2026
• 6 jam lalu
0
thumb
Bobby Nasution Apresiasi Polri Ungkap Penyelundupan 1,16 Ton Ketamin
• 15 jam lalu
0
Berhasil disimpan.