Gandeng Belanda, Green Batik Hadirkan Solusi Limbah Ramah Lingkungan di Pekalongan

eranasional.com
2 jam lalu
Cover Berita

Pekalongan, ERANASIONAL.COM – Sejak Januari 2025, program Green Batik terus mengembangkan intervensi praktis produksi batik berkelanjutan di Kota Pekalongan.

Program ini berfokus pada pemanfaatan air hujan, efisiensi air, hingga pengolahan air limbah bersama 10 Batik Champion di berbagai pranggok.

Suasana berbeda tersaji dalam Green Batik Exhibition yang digelar di Museum Batik Pekalongan pada Jumat malam (23/10/2026). Ajang kolaborasi ini merangkul 14 pembatik ramah lingkungan melalui kompetisi Green Batik Design Challenge.

Melalui Green Batik Exhibition, pengunjung dapat mengenal Batik Champion dan upaya mereka dalam menerapkan praktik yang lebih bertanggung jawab di pranggok masing-masing.

Pameran ini juga menampilkan instalasi pengolahan air serta motif kain yang merepresentasikan kolaborasi budaya Indonesia dan Belanda.

Wakil Wali Kota Pekalongan, Balgis Diab, menegaskan bahwa pameran ini hadir secara unik karena tidak hanya memamerkan keindahan kain batik semata. Pameran ini turut memamerkan teknologi pengolahan air limbah batik menjadi air siap pakai tanpa bahan kimiawi.

“Pameran ini sangat unik karena kami merangkul pencinta lingkungan dan 14 pembatik yang membatik dengan memperhatikan lingkungan. Temanya Green Batik, Batik Membumi, Generasi Peduli untuk melihat inovasi terbaik pembatik Pekalongan,” ujar Balgis Diab.

Pameran bertaraf internasional ini menjadi lebih istimewa dengan kehadiran Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia secara pribadi. Kehadiran beliau menjadi bentuk apresiasi dan kepedulian tinggi terhadap kelestarian industri batik Pekalongan.

Pemerintah Kota Pekalongan bersama pihak Belanda menyiapkan IPAL mini Green Batik sebagai proyek percontohan. Teknologi ini diharapkan dapat direplikasi dalam bentuk IPAL komunal bagi para pengrajin batik.

“IPAL mini Green Batik ini akan kita jadikan pilot project dengan harapan ada IPAL komunal untuk mengurangi pencemaran air. Pemkot akan melakukan kajian lanjut agar teknologi ini bermanfaat secara berkelanjutan,” ungkap Balgis.

Langkah ini sekaligus ditujukan untuk mengikis stigma kuno masyarakat terkait kondisi air sungai setempat. Pemerintah daerah berkomitmen menjaga kebersihan sungai tanpa mengorbankan produktivitas ekonomi para pembatik.

“Kami ingin menghapus mitos lama bahwa sungai hitam tanda pembatik hidup. Air sungai kita harus tetap bersih, sementara para pembatik tetap produktif dan menghasilkan pendapatan ekonomi yang lebih baik,” tegasnya.

Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, Marc Gerritsen, mengaku sangat terkesan dengan sambutan hangat warga Pekalongan. Bagi Belanda, Pekalongan adalah kota istimewa yang menyatukan dua hal penting, yakni pengelolaan air dan kekuatan budaya.

Marc menilai proyek Green Batik sebagai contoh luar biasa tentang bagaimana tradisi dapat dipadukan dengan inovasi masa depan. Kerja sama teknologi air ini menjadi bukti komitmen kedua negara dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

“Ini adalah proyek percontohan luar biasa yang menunjukkan bagaimana Anda menggunakan tradisi untuk berinovasi. Indonesia memiliki masa depan cerah, dan Belanda sangat ingin bekerja sama untuk masa depan tersebut,” tutur Marc Gerritsen.

Selain mengagumi adaptabilitas motif batik Pekalongan yang memadukan unsur kincir angin Belanda hingga burung bangau, Marc juga memuji pemanfaatan gedung bersejarah Museum Batik dari era 1935.

“Museum batik ini berada di bangunan era kolonial Belanda tahun 1935, dan Pekalongan luar biasa dalam merawatnya. Kami merasa terhormat Indonesia mengambil hal dari masa lalu dan mengolahnya untuk masa depan,” imbuhnya.

Dukungan terhadap kelestarian lingkungan juga disuarakan oleh Ketua Dekranasda Kota Pekalongan, Inggit Soraya. Ia mengungkapkan bahwa kesadaran para pelaku UMKM batik untuk beralih ke warna alam kini semakin meningkat.

Batik ekologis berbasis pewarna alami seperti dedaunan, kayu-kayuan, dan bunga kini kian diminati pasar. Selain lebih sehat digunakan, batik warna alam ini memiliki nilai jual tinggi yang mampu mendongkrak perekonomian UMKM.

“Alhamdulillah binaan Dekranasda sudah banyak yang menggunakan warna alam dari daun dan kayu yang tidak mencemari lingkungan. Harganya pun lumayan tinggi dan semakin banyak diminati masyarakat,” jelas Inggit Soraya.

Bagi pengrajin yang masih menggunakan bahan kimia, Dekranasda terus mendorong kepemilikan IPAL mandiri. Penanganan limbah yang tepat di tingkat produsen menjadi kunci utama dalam menjaga kelestarian sungai Pekalongan.

“Untuk pembatik yang masih memakai bahan kimia, kami tekankan agar memiliki IPAL sendiri. Hal ini penting supaya limbah batik tidak mencemari aliran sungai,” pungkas Inggit. (em-aha)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Gempa Besar M7,1 Vanuatu Tidak Berpotensi Tsunami di Indonesia
• 2 jam lalu
0
thumb
Prabowo soal Negara yang Mengolok-olok RI soal Karhutla: Cool Aja!
• 21 jam lalu
0
thumb
Dedi Mulyadi Minta Bupati Bekasi Kebut Infrastruktur
• 4 jam lalu
0
thumb
WCCE 2026 Resmi Ditutup, Jakarta Vision Jadi Warisan untuk Ekonomi Kreatif Dunia
• 18 jam lalu
0
thumb
Viral Turis Asing Diikuti Anak yang Minta Uang di Jakbar, Dinsos Turun Tangan
• 2 jam lalu
0
Berhasil disimpan.