Peneliti BRIN "Kuliti" Fakta-Fakta Matahari: Warna Asli-Sisa Umur

cnbcindonesia.com
6 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Selama kurun waktu kurang lebih 4,6 miliar tahun lamanya, Matahari telah menjadi pusat tata surya yang dengan setia menjaga stabilitas orbit planet-planet di sekelilingnya. Bintang raksasa ini terus bersinar terang tanpa henti untuk memancarkan energi yang menjaga suhu Bumi agar tetap layak huni sekaligus menjadi sumber kehidupan yang utama.

Namun, pernahkah kita menyadari bahwa Matahari sebenarnya sama sekali tidak "terbakar" layaknya api yang kita kenal selama ini di Bumi?

Peneliti Ahli Madya dari Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Rasdewita Kesumaningrum, mengungkapkan fakta tersebut. Ia membeberkan bahwa mempelajari karakteristik Matahari bukan sekadar pemenuhan rasa ingin tahu di ranah sains, melainkan sebuah kebutuhan strategis yang mutlak. Hal ini dikarenakan dinamika yang terjadi pada pusat tata surya tersebut memiliki implikasi langsung terhadap kelangsungan ekosistem global.

Mengutip rilis resmi BRIN, Jumat (23/10/2026), Rasdewita memaparkan detail mengejutkan ini dalam acara Pelatihan Dasar Space Situational Awareness yang digelar pada Selasa (20/10) lalu.

"Matahari berguna sebagai energi terbarukan, dan juga memengaruhi iklim karena energi Matahari mengatur suhu Bumi, sirkulasi atmosfer dan samudra, serta pola cuaca jangka panjang," paparnya.

"Maka dari itu, mempelajari Matahari tidak hanya penting bagi ilmu sains, tapi juga bagi kehidupan sehari-hari dan keselamatan operasional antariksa."

Baca: AI Temukan 44 Lokasi Bumi Baru yang Selama Ini Tersembunyi

Kunci utama dari rentang umur Matahari yang sangat panjang bermula dari wujud dan komposisi penyusunannya yang unik. Bintang raksasa ini rupanya bukanlah sebuah bola padat seperti yang dibayangkan, melainkan sebuah bentukan gas atau plasma. Di dalam lingkungan Matahari, suhu dan tekanan yang sangat ekstrem melucuti elektron dari atom-atom netral, yang pada akhirnya menyisakan lautan ion (proton) dan elektron bebas yang beringas dalam wujud plasma.

Jika ditelaah dari bobot massanya, sekitar 73 hingga 74% wujud Matahari didominasi oleh unsur Hidrogen (H) yang bertindak sebagai bahan bakar yang paling utama. Sementara itu, 24 hingga 25% lainnya adalah wujud gas Helium (He), yang merupakan hasil sisa dari pembakaran kosmik tersebut.

"Karena ilmuwan di Bumi tidak bisa begitu saja terbang dan mengambil sampel dari sana, rahasia besarnya cadangan bahan bakar ini terkuak melalui pengamatan atas spektrum cahaya yang dipancarkannya," ungkap Rasdewita.

Ibarat sebuah "sidik jari" pada panjang gelombang tertentu, garis spektrum itu berhasil menyingkap keberadaan berbagai unsur yang lebih berat di Matahari. Unsur-unsur ini biasanya menyusun 1 hingga 2% dari total massa Matahari, yang di antaranya mencakup oksigen, karbon, besi, nitrogen, hingga silikon.

Lebih lanjut, berbekal lautan gas hidrogen yang sangat melimpah ruah, kelestarian energi Matahari digerakkan secara masif oleh sebuah proses dahsyat di lapisan paling dalamnya, yaitu pada bagian Inti (Core). Di ruang pusat inilah suhu terus bergolak hebat hingga menyentuh angka fantastis 15 juta derajat Celcius.

Baca: Indonesia Berada di Zona Anomali, Awas Efek Air Mancur ke Sinyal GPS

Kondisi yang luar biasa super panas ini memicu keseimbangan yang sangat dinamis, di mana gaya gravitasi raksasa terus-menerus menarik plasma masuk ke dalam, sementara di sisi lain, ledakan fusi secara konsisten mendorong tekanannya berbalik ke arah luar. Di tengah himpitan yang tak terbayangkan ini, empat atom hidrogen pada akhirnya dipaksa saling berbenturan lalu melebur dengan keras menjadi satu atom helium.

Reaksi penggabungan inilah yang kemudian melahirkan fenomena fusi nuklir. Menariknya, dari setiap peleburan tersebut, selalu ada selisih massa yang lenyap sebesar 0,029 unit. Massa yang seolah hilang tak berbekas ini nyatanya tidak musnah sama sekali, melainkan meledak dan berubah bentuk menjadi energi murni serta partikel neutrino yang masif.

Reaksi rantai fusi nuklir yang ditopang penuh oleh melimpahnya cadangan hidrogen inilah yang menjadi jawaban pasti mengapa Matahari mampu terus menyala dengan stabil dan tidak pernah meredup sedikitpun selama 4,6 miliar tahun lamanya. Hebatnya lagi, energi rintisan ini rupanya tidak langsung melesat membelah luasnya ruang angkasa begitu saja.

Foton energi harus terlebih dahulu bersusah payah menembus lapisan Zona Radiatif yang sangat padat. Mereka memantul tak tentu arah hingga harus memakan waktu jutaan tahun lamanya hanya untuk bisa lolos ke lapisan berikutnya. Begitu berhasil membebaskan diri, barulah energi ini menumpang arus plasma panas di lapisan Zona Konvektif yang terus menggelegak perlahan naik menuju area permukaan yang dikenal dengan sebutan Fotosfer.

Setibanya di Fotosfer bersuhu 5.500 derajat Celcius, energi super panas dari bagian dalam Matahari ini akhirnya baru dilepaskan secara bebas ke hamparan tata surya dalam wujud cahaya tampak dan radiasi panas yang selama ini menghidupi Bumi. Diperkirakan oleh para ahli, Matahari akan terus menyala selama miliaran tahun ke depan. Kunci utama pertahanan ini terletak pada skala massanya yang luar biasa masif dan keseimbangan gaya fisika yang terjalin dengan sangat sempurna.

Dengan massa sekitar 333.000 kali lipat massa Bumi, Matahari dipastikan memiliki pasokan hidrogen di bagian inti yang seakan tidak ada habisnya. Setiap detiknya, reaktor alami ini terus membakar hidrogen tanpa henti untuk diubah menjadi energi. Ledakan energi beruntun dari dalam inti ini berhasil menciptakan sebuah tekanan kuat yang secara konsisten selalu mendorong plasma ke arah luar.

Di saat yang bersamaan, massa Matahari yang berukuran raksasa menghasilkan tarikan gaya gravitasi ekstrem yang terus menekan bola plasma itu ke arah dalam. Tarik tambang kosmik antara tekanan fusi yang meledak keluar dan tarikan gravitasi yang menekan kuat ke dalam inilah yang sukses menciptakan sebuah keseimbangan dinamis bagi Matahari.

Keseimbangan mutlak inilah yang selama ini mencegah Matahari meledak hancur berserakan maupun runtuh mengerut jatuh ke dalam intinya sendiri. Selama pasokan bahan bakar hidrogen di jantungnya masih tersedia berlimpah untuk direaksikan, maka mesin fusi nuklir ini dipastikan akan terus beroperasi memancarkan kehangatan dan sinar terang yang tiada putus bagi tata surya kita.

"Pemahaman struktur Matahari menjadi dasar penting untuk memahami asal dan proses terjadinya aktivitas Matahari."

"Selanjutnya, pengetahuan ini diharapkan dapat mendukung pemantauan, analisis, dan kesiapsiagaan terhadap cuaca antariksa. Pembelajaran ini menjadi fondasi guna membangun konsep yang sepaham antara personel operasional, pengamat Matahari, dan analis cuaca antariksa," pungkas Rasdewita.

Baca: Siap-Siap Ada Gerhana Matahari Total Terlama di 2027, Cek Tanggalnya!
Fakta Warna Asli Matahari

Fakta mengejutkan lainnya dari penelitian ini adalah warna asli Matahari di ruang hampa angkasa yang sesungguhnya adalah putih bersih. Selama ini, manusia di Bumi selalu terbiasa melihat sang surya dengan pulasan warna kuning terang hingga gradasi jingga kemerahan yang sangat eksotis saat senja tiba. Namun, siapa sangka jika semua keindahan warna yang membumi tersebut ternyata hanyalah sebuah ilusi optik berskala raksasa?

Rasdewita secara gamblang membeberkan bahwa wujud sejati sang surya ketika berada di luar angkasa adalah sebuah bola pijar putih yang sangat cemerlang. Perubahan pancaran Matahari dari yang semula berwarna putih menjadi kuning pekat di mata kita murni merupakan sebuah trik manipulasi dari lapisan atmosfer pelindung Bumi.

"Warna Matahari itu aslinya kalau di luar angkasa itu berwarna putih," tuturnya.

"Seluruh panjang gelombang yang di cahaya tampak itu masuk ke atmosfer Bumi dan mengalami hamburan, karena adanya atom dan partikel yang ada di atmosfer, misalnya nitrogen dan oksigen."

Fenomena fisika yang memicu perubahan warna ini dikenal secara ilmiah dengan nama Hamburan Rayleigh (Rayleigh scattering). Saat gelombang cahaya putih murni dari Matahari mulai menembus lapisan atmosfer Bumi, partikel-partikel udara akan secara alami menyebarkan gelombang cahaya pendek seperti warna biru dan ungu ke segala arah.

Akibat hamburan partikel udara tersebut, saat gelombang cahaya akhirnya sampai ke permukaan Bumi, maka penampakan Matahari akan terlihat memudar menjadi putih kekuningan. Ilusi visual dari Rayleigh scattering ini dipastikan akan terlihat semakin dramatis seiring dengan pergerakan waktu yang perlahan menuju senja hari.

"Kalau sore hari, Matahari bisa terlihat oranye karena cahaya Matahari yang masuk ke atmosfer Bumi dalam posisi yang ketinggian lebih rendah itu melewati atmosfer yang lebih panjang untuk sampai di mata kita," jelasnya.

Kondisi udara lokal di suatu wilayah juga ikut berperan memanipulasi warna ini. Sebagai contoh, apabila terdapat banyak sebaran aerosol atau debu pekat di udara, seperti yang kerap terjadi saat musim kemarau panjang tiba, maka penampakan matahari senja akan tampak berwarna semakin jingga pekat di mata kita. Pendaran cahaya putih yang menembus hingga ke Bumi berupa cahaya tampak atau spektrum warna pelangi ini sesungguhnya hanyalah sebagian kecil dari total energi yang disemburkan langsung oleh Matahari.

Baca: NASA Temukan Rumah Manusia di Bulan

Sisa energi raksasa dari hasil fusi nuklir inti Matahari itu justru dipancarkan dalam bentuk radiasi yang tak kasatmata. Rasdewita kembali membedah lebih dalam bahwa Matahari secara masif memancarkan energinya ke seluruh spektrum gelombang elektromagnetik.

"Ada juga spektrum dengan panjang gelombang yang lebih besar, masuk ke kelompok gelombang radio dan gelombang mikro," katanya.

"Ini kita tidak bisa melihat dengan mata."

Lebih jauh lagi, di kutub spektrum yang lain, Matahari juga terbukti melepaskan gelombang radiasi dengan energi dan frekuensi yang sangat mematikan bagi kehidupan, seperti paparan ultraviolet, sinar-X, dan sinar gamma. Keterbatasan biologis mata manusia dalam menangkap bentuk radiasi mematikan tersebut membuat para astronom di seluruh dunia harus terus mengandalkan teknologi dari instrumen pengamatan khusus.

"Dengan bantuan alat, kita bisa melihat beragam muka Matahari," ucap Rasdewita.

"Jadi kalau yang putih dengan bintik-bintik hitam ini adalah pada panjang gelombang tampak. Tetapi kalau dibantu dengan alat filter, kita bisa melihat fitur lain yang ada di Matahari," imbuhnya.

Pada akhirnya, aktivitas mempelajari spektrum cahaya yang memancar dari Matahari terbukti jauh melampaui urusan sederhana dalam memecahkan miskonsepsi warna kuning krayon di masa kecil. Melalui proses pemetaan di berbagai panjang gelombang inilah para ilmuwan hebat mampu mengamati "beragam muka" dari sang surya, secara rutin memantau aktivitas badai matahari secara real-time, hingga sukses membangun sistem peringatan dini yang andal untuk cuaca antariksa.

Baca: Efek Super El Nino, Warna Samudra Berubah Abu-Abu

(tps/tps) [Gambas:Video CNBC]

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Gempa Berkekuatan Magnitudo 7,0 Guncang Tibet, Sejumlah Rumah Retak dan Runtuh
• 9 jam lalu
0
thumb
Heroisme atlet disabilitas kita di tengah Thailand yang ambisius
• 22 jam lalu
0
thumb
Pramono Minta Jakpro Hitung Biaya Perpanjangan LRT ke JIS
• 13 jam lalu
0
thumb
Presiden Betah di Luar Negeri, Kunjungan Kerja ke Negeri Sendiri
• 12 jam lalu
0
thumb
Harga Emas Antam Hari Ini 24 Oktober 2026 Stagnan di Angka Rp2.540.000 per Gram
• 9 jam lalu
0
Berhasil disimpan.