Mengapa Hiu Paus Banyak Terdampar di Pesisir Selatan Jawa?

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

Kasus hiu paus terdampar semakin sering ditemukan di pesisir selatan Jawa. Penelitian mencatat 115 kasus yang melibatkan 127 individu di Indonesia sepanjang 2011–2023, dengan konsentrasi tertinggi di selatan Jawa. Sekitar 70 persen hiu paus yang terdampar masih berusia muda. Fenomena ini diduga berkaitan dengan perubahan kondisi perairan secara musiman, aktivitas penangkapan ikan, serta berbagai ancaman terhadap habitat hiu paus.

Apa yang dapat dipelajari dari artikel ini?

1. Seberapa sering hiu paus terdampar di pesisir selatan Jawa?

2. Mengapa hiu paus banyak terdampar di kawasan tersebut?

3. Mengapa keterdamparan hiu paus muda mengancam kelestariannya?

4. Bagaimana menyelamatkan hiu paus yang terdampar dan mencegahnya terulang?

Seberapa sering hiu paus terdampar di pesisir selatan Jawa?

Penelitian Konservasi Indonesia bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sejumlah perguruan tinggi, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), serta Elasmobranch Institute Indonesia mencatat 115 kasus keterdamparan hiu paus (Rhincodon typus) yang melibatkan 127 individu di 23 provinsi sepanjang 2011–2023. Hasil penelitian tersebut diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports.

Pesisir selatan Jawa menjadi kawasan dengan jumlah keterdamparan tertinggi. Berdasarkan data penelitian yang dikutip Kompas, Jawa Barat dan Jawa Timur masing-masing mencatat 18 kasus, Jawa Tengah 13 kasus, dan Daerah Istimewa Yogyakarta 9 kasus. Dari keseluruhan kasus di Indonesia, 52 kasus melibatkan hiu paus yang ditemukan masih hidup, sedangkan 46 kasus ditemukan dalam kondisi baru mati.

Fenomena ini terus berulang. Dalam dua bulan pada 2023, lima hiu paus ditemukan mati terdampar di pesisir Purworejo, Kebumen, dan Kulon Progo. Kasus terbaru terjadi di Pantai Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta, pada 18 Oktober 2026. Seekor hiu paus sepanjang sekitar 9 meter ditemukan hidup, tetapi akhirnya mati meskipun telah diupayakan evakuasi.

Baca JugaPesisir Selatan Jawa, Titik Kritis Hiu Paus Terdampar
Mengapa hiu paus banyak terdampar di kawasan tersebut?

Salah satu faktor utamanya adalah ketersediaan makanan. Pesisir selatan Jawa mengalami fenomena upwelling, yakni naiknya massa air laut dari lapisan dalam ke permukaan yang membawa nutrien. Kondisi ini meningkatkan produktivitas perairan dan menarik hiu paus untuk mencari makan, terutama sekitar bulan Juli hingga Desember.

Menurut Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia Iqbal Herwata, hiu paus bermigrasi dari habitat lain, seperti Teluk Saleh di Sumbawa, Australia Barat, dan Kepulauan Christmas menuju selatan Jawa ketika ketersediaan makanan meningkat. Hiu paus mengonsumsi zooplankton, kril, dan ikan kecil dengan cara menyaring air laut.

Aktivitas nelayan turut meningkatkan risiko keterdamparan. Peneliti BRIN, Fahmi, menjelaskan, hiu paus, terutama yang belum dewasa, dapat mengikuti gerombolan ikan atau jaring nelayan hingga ke perairan dangkal. Kuatnya arus, gelombang, dan kondisi dasar laut kemudian menyulitkan satwa tersebut kembali ke laut lepas. Hiu paus yang tersangkut jaring juga berisiko kelelahan sebelum berhasil dilepaskan.

Selain itu, tabrakan kapal dan pencemaran plastik diduga berkontribusi terhadap keterdamparan. Plastik ditemukan dalam saluran pencernaan beberapa hiu paus yang terdampar di selatan Jawa. Namun, temuan tersebut belum membuktikan plastik sebagai penyebab kematian. Pemeriksaan bangkai atau nekropsi dan analisis laboratorium masih diperlukan untuk memastikan penyebabnya.

Baca Juga15 Menit Penentu Nasib Hiu Paus
Mengapa keterdamparan hiu paus muda mengancam kelestariannya?

Penelitian menunjukkan, sekitar 70 persen hiu paus yang terdampar merupakan individu muda atau juvenil, dengan panjang tubuh berkisar 4–7 meter. Temuan ini mengkhawatirkan karena individu muda merupakan generasi yang diharapkan tumbuh dewasa dan berkembang biak untuk mempertahankan populasi.

Ketika dewasa, hiu paus cenderung berpindah ke perairan yang lebih dalam untuk mencari makan dan bereproduksi dalam wilayah migrasi yang lebih luas.

Hiu paus memiliki pola pemisahan habitat berdasarkan usia, ukuran, dan jenis kelamin. Individu muda umumnya berada di perairan pesisir yang dangkal, hangat, dan kaya makanan. Ketika dewasa, hiu paus cenderung berpindah ke perairan yang lebih dalam untuk mencari makan dan bereproduksi dalam wilayah migrasi yang lebih luas.

Kematian individu muda sebelum mencapai usia reproduksi dapat mengurangi jumlah hiu paus yang kelak menghasilkan keturunan. Akibatnya, pemulihan populasi dalam jangka panjang berpotensi terganggu. Ancaman ini semakin serius karena hiu paus telah masuk kategori terancam punah dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Hiu paus juga memiliki peran ekologis sebagai pemakan plankton dan indikator kondisi perairan. Karena itu, kematian hiu paus tidak hanya menjadi persoalan perlindungan satu spesies, tetapi juga berkaitan dengan keberlangsungan ekosistem laut.

Baca JugaIkan Raksasa yang Bertumbangan di Pantai Selatan Jawa
Bagaimana menyelamatkan hiu paus yang terdampar dan mencegahnya terulang?

Kecepatan penanganan menjadi faktor penting dalam penyelamatan hiu paus. Dokter hewan spesialis megafauna laut Dwi Suprapti menjelaskan, hiu paus yang berada di luar air hanya memiliki waktu penyelamatan sekitar 15 menit. Satwa ini membutuhkan aliran air melalui insang untuk memperoleh oksigen. Pasir yang masuk ke insang juga dapat memperparah gangguan pernapasan.

Penyelamatan tidak mudah karena ukuran tubuh hiu paus yang besar, gelombang tinggi, serta keterbatasan peralatan. Pada kejadian di Parangkusumo, Oktober 2026, petugas menghadapi kesulitan mendatangkan alat berat dan mengendalikan kondisi pantai. Penelitian mencatat, tingkat keberhasilan penyelamatan mencapai 71 persen dari 52 kasus hiu paus yang ditemukan terdampar dalam keadaan hidup.

Karena itu, jejaring respons cepat di kawasan pesisir perlu diperkuat. Masyarakat diharapkan segera melaporkan hiu paus yang mendekati pantai atau terdampar kepada petugas berwenang. Penanganan membutuhkan koordinasi pemerintah, aparat, tenaga ahli, komunitas, serta ketersediaan peralatan yang sesuai.

Pencegahan jangka panjang juga memerlukan pemantauan habitat, pemasangan penanda satwa (tagging), dan penelitian penyebab keterdamparan melalui nekropsi. Pemerintah tengah memperbarui Rencana Aksi Nasional Konservasi Hiu Paus 2026–2029 untuk memperkuat perlindungan habitat, kesiapsiagaan, dan kerja sama lintas sektor.

Baca JugaHiu Tutul Mati Terdampar di Cilacap

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Sempat Sakit Hati, Sahrul Gunawan Kapok Diroasting Kiky Saputri
• 8 jam lalu
0
thumb
Kasus DBD di Jakarta Barat capai 1.808 hingga Oktober 2026
• 16 jam lalu
0
thumb
Waka MPR Puji Pengungkapan 1,16 Ton Ketamin di Perairan Sumut
• 4 jam lalu
0
thumb
Bagikan Keistimewaan Bersama Member Get Member BRI Prioritas dan BRI Private
• 17 jam lalu
0
thumb
Bukan Cuma Bugar, Ini Perubahan yang Dirasakan teman kumparan Setelah Rutin Lari
• 19 jam lalu
0
Berhasil disimpan.