Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Kota Jakarta Timur meningkatkan pencegahan demam berdarah dengue (DBD) dan tuberkulosis (TBC) lewat lomba puskesmas se-Jakarta Timur.
"Lomba ini adalah salah satu strategi untuk meningkatkan peran serta lintas sektor dalam menekan angka kasus DBD dan TBC di Jakarta Timur," kata Kepala Suku Dinas Kesehatan Kota Jakarta Timur Arief Wahyudhy di Jakarta, Sabtu.
Lomba yang digelar yakni lomba Kampung Siaga Tuberkulosis (KST) dan Kampung Bebas Jentik (KBJ) yang diikuti kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik) dan perwakilan dari 10 tim.
Masing-masing tim merupakan perwakilan puskesmas tingkat kelurahan dan puskesmas kecamatan yang berasal dari 10 kecamatan se-Jakarta Timur.
Perlombaan berlangsung selama dua hari, yakni Jumat (23/10) untuk lomba KBJ dan Senin (26/10) untuk lomba KST. Nantinya, tiga besar dalam lomba KBJ akan dilakukan verifikasi lapangan untuk mewakili Jakarta Timur di tingkat Provinsi DKI.
Arief menjelaskan kegiatan ini juga sebagai upaya mengapresiasi masyarakat, kader jumantik, serta pengurus RT/RW dan stakeholders lainnya dalam pencegahan DBD dan TBC.
"DBD dan TBC ini tidak bisa ditangani sektor kesehatan saja tapi peran lintas sektor peran masyarakat, semua perlu berperan," jelas Arief.
Berdasarkan data Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur, peningkatan kasus terjadi sejak Januari hingga Maret 2026, kemudian mengalami penurunan pada April dan Mei.
Tren kasus antara Juli dan Agustus 2026 kembali menunjukkan penurunan. Pada Agustus 2026, tercatat sebanyak 48 kasus DBD.
Sementara itu, jumlah pasien rawat inap akibat DBD pada periode 20-26 Agustus 2026 tercatat sebanyak 11 kasus.
Kemudian, temuan kasus Tuberkulosis di wilayah Jakarta Timur pada Januari hingga Oktober 2026 sebanyak 11.575 orang dan yang sudah memulai pengobatan sebanyak 8.992 orang.
Baca juga: Lapas Salemba periksa 900 warga binaan untuk deteksi dini TBC
Baca juga: Pemkab libatkan masyarakat cegah penyebaran TB di Kepulauan Seribu
Baca juga: Kasus DBD di Jakarta Barat capai 1.808 hingga Oktober 2026
"Lomba ini adalah salah satu strategi untuk meningkatkan peran serta lintas sektor dalam menekan angka kasus DBD dan TBC di Jakarta Timur," kata Kepala Suku Dinas Kesehatan Kota Jakarta Timur Arief Wahyudhy di Jakarta, Sabtu.
Lomba yang digelar yakni lomba Kampung Siaga Tuberkulosis (KST) dan Kampung Bebas Jentik (KBJ) yang diikuti kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik) dan perwakilan dari 10 tim.
Masing-masing tim merupakan perwakilan puskesmas tingkat kelurahan dan puskesmas kecamatan yang berasal dari 10 kecamatan se-Jakarta Timur.
Perlombaan berlangsung selama dua hari, yakni Jumat (23/10) untuk lomba KBJ dan Senin (26/10) untuk lomba KST. Nantinya, tiga besar dalam lomba KBJ akan dilakukan verifikasi lapangan untuk mewakili Jakarta Timur di tingkat Provinsi DKI.
Arief menjelaskan kegiatan ini juga sebagai upaya mengapresiasi masyarakat, kader jumantik, serta pengurus RT/RW dan stakeholders lainnya dalam pencegahan DBD dan TBC.
"DBD dan TBC ini tidak bisa ditangani sektor kesehatan saja tapi peran lintas sektor peran masyarakat, semua perlu berperan," jelas Arief.
Berdasarkan data Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur, peningkatan kasus terjadi sejak Januari hingga Maret 2026, kemudian mengalami penurunan pada April dan Mei.
Tren kasus antara Juli dan Agustus 2026 kembali menunjukkan penurunan. Pada Agustus 2026, tercatat sebanyak 48 kasus DBD.
Sementara itu, jumlah pasien rawat inap akibat DBD pada periode 20-26 Agustus 2026 tercatat sebanyak 11 kasus.
Kemudian, temuan kasus Tuberkulosis di wilayah Jakarta Timur pada Januari hingga Oktober 2026 sebanyak 11.575 orang dan yang sudah memulai pengobatan sebanyak 8.992 orang.
Baca juga: Lapas Salemba periksa 900 warga binaan untuk deteksi dini TBC
Baca juga: Pemkab libatkan masyarakat cegah penyebaran TB di Kepulauan Seribu
Baca juga: Kasus DBD di Jakarta Barat capai 1.808 hingga Oktober 2026






Komentar (0)