Anak SD di NTT Bunuh Diri, Diduga Lantaran Dilarang Bawa HP ke Sekolah

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Artikel ini membahas topik mengenai kesehatan mental dan bunuh diri, yang mungkin dapat memicu rasa tidak nyaman atau emosi tertentu bagi pembaca. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal sedang mengalami masa sulit, pikiran untuk bunuh diri, atau krisis emosional, segera hubungi tenaga profesional kesehatan mental (psikolog, psikiater) atau layanan darurat atau hotline bunuh diri.

Kepolisian Resor Sikka mengungkap fakta mengejutkan di balik peristiwa bunuh diri seorang siswa SD di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Selasa (20/10/2026) malam. Berdasarkan hasil pemeriksaan saksi, sebelum gantung diri, korban sempat meminta handphone milik ibunya untuk dibawa ke sekolah.

Kepala Polres Sikka Ajun Komisaris Besar Bambang Supeno lewat keterangan tertulis yang diterima Kompas, Jumat (23/10/2026), mengatakan, korban berusia 12 tahun. Siswa kelas 5 SD itu ditemukan tewas di rumahnya, Selasa, sekitar pukul 19.00 Wita.

Ibu korban, AJ (33), yang pertama kali menemukan korban langsung berteriak. Disebut masih bernafas, korban lalu dibawa ke RSUD TC Hillers Maumere. Namun, nyawa korban tidak bisa diselamatkan dan dimakamkan dua hari kemudian.

Menurut Bambang , sejumlah saksi sudah diperiksa. Selain AJ, ada juga tetangga korban, wali kelas korban, dan teman sebangku korban. Pemeriksaan bertujuan mengungkap dugaan penyebab peristiwa tersebut.

"Penyidik masih terus bekerja. Sejauh ini, berbagai informasi sudah kami dapatkan dan masih terus kami dalami. Kami akan sampaikan perkembangannya untuk diketahui bersama," kata Bambang.

Permintaan ditolak

Bambang mengatakan, kepada penyidik, AJ menjelaskan Senin sekitar pukul 07.00 Wita, korban sempat meminta handphone ibunya dibawa ke sekolah. Namun, AJ tidak mengizinkan dengan alasan dipakai untuk komunikasi. Lagipula, AJ membatasi anaknya menggunakan handphone.

Pada Senin sore, sekitar pukul 16.30 Wita, korban datang dan memarahi AJ. Dengan tangan kosong, korban memukul bahu AJ. Ekspresi korban diduga terkait penolakan permintaan membawa handphone ke sekolah.

Pada Senin malam, AJ masih sempat melihat korban di rumah sebelum menidurkan anaknya yang lain selama lebih kurang 1,5 jam. Namun, sekitar pukul 19.00 Wita, AJ ke dapur dan mendapati korban sudah berusaha bunuh diri.

"Kuat dugaan korban merasa kecewa dan mengakhiri hidupnya dengan melakukan bunuh diri dengan cara menggantungkan diri," kata Bambang.

Bambang mengatakan, keluarga menolak dilakukan pemeriksaan fisik dan bersedia menandatangani penolakan otopsi. Namun, penyidik akan terus melakukan pendalaman terhadap peristiwa tersebut.

Penyidik lalu mendatangi sekolah korban. AM, wali kelas korban, dalam pemeriksaan penyidik mengungkapkan, selama satu pekan terakhir, korban beraktivitas seperti biasa. Korban tidak menunjukkan perilaku yang menonjol dan mencurigakan.

Serial Artikel

Gawai Mengubah Tubuh Manusia

Gawai tidak hanya memengaruhi otak dan mental manusia. Gawai juga bisa memicu nyeri leher serta memengaruhi penglihatan, kemampuan motorik, hingga kekuatan otot.

Baca Artikel

Pada Senin pagi, korban masih mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan korban mendapatkan perundungan. Tidak ada tugas sekolah yang membebani para siswa.

Pihak sekolah juga tidak mewajibkan murid membawa handphone ke sekolah. Tidak ada kurikulum pembelajaran yang mewajibkan penggunaan handphone. Korban saat berada di lingkungan sekolah selalu berperilaku baik dan beraktivitas seperti biasa layaknya anak-anak seumurannya.

Novi Poespita Candra, dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada berpendapat, jika melihat hasil Program Penilaian Pelajar Internasional (PISA), level dan kompetensi berpikir anak Indonesia sangat rendah. Berada pada pada level 2 dalam penyelesaian soal matematika, bahasa, dan sains.

Dengan demikian, mereka berpotensi memiliki kesulitan memahami dan menyelesaikan problem yang dihadapi. Jika ada problem, mereka akan berpikir linier sehingga seolah-olah tidak ada banyak pilihan untuk menyelesaikan problemnya.

Jangkar emosi

Menurut dia, sistem pendidikan tidak lagi mampu menyiapkan kapasitas anak-anak menghadapi dunia yang sangat cepat dan penuh informatif. Ditambah paparan gawai yang membuat otak anak-anak berpotensi mengalami brain rot atau penurunan kualitas mental sehingga tidak mampu berpikir.

"Pendidikan kita masih sangat content based tapi kurang melatih kompetensi berpikir dan meregulasi melalui social emotional learning," kata Novi.

Jika mengalami masalah, anak tidak mampu berpikir panjang dan menemukan pilihan solusi. Dalam mengambil keputusan, dasarnya adalah emosi bukan nalar.

"Gadget (gawai) hari ini hadir bukan hanya menyajikan informasi, tapi bagi anak anak hadir sebagai jangkar emosi yang mengelola kesenangan dan keseruan yang tidak dihadirkan atau didapatkan di dunia nyata dari sekolah ataupun keluarganya," ucap Novi.

Ketika anak dilarang menggunakan handphone, anak merasa kehilangan jangkar emosi kesenangannya. Akhirnya dia merasa marah. Lantaran kompetensi berpikirnya rendah, linier, dan tidak terlatih menyelesaikan masalah, dia membuat keputusan dangkal dengan bunuh diri.

Serial Artikel

Anak Bunuh Diri, Persoalan Struktural yang Harus Segera Diurai

Kasus bunuh diri pada anak disebabkan banyak faktor, tak bisa digeneralisasi. Memahami tanda tersembunyi pada anak menjadi kunci.

Baca Artikel


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Appi Jadi Ketua Demokrat Sulsel, Konsolidasi dan Formasi Pengurus Dikebut 30 Hari
• 6 jam lalu
0
thumb
Viral Aksi Cerdik Pedagang Kompor Modal Jempol Presiden Prabowo untuk Promosi
• 18 jam lalu
0
thumb
Project NUSA Diluncurkan, Indonesia dan Singapura Incar Peluang Ekonomi Baru dari AI
• 16 jam lalu
0
thumb
Harga iPhone Duo di Indonesia Tembus Rp75 Juta, Ini Keunggulan iPhone Lipat Pertama Apple
• 13 jam lalu
0
thumb
Dapat Saran Anthony Ginting, Richie Duta ke Semifinal Polytron Indonesia Masters
• 17 jam lalu
0
Berhasil disimpan.