Ibarat pohon yang rindang sudah pasti memiliki banyak daun, cabang, dan ranting. Sama seperti menumbuhkan kecintaaan pada buku, kebiasaan membaca perlu dilakukan terus menerus.
Lewat pohon literasi, sekolah mendorong siswanya gemar membaca buku. Sekolah membuat gambar pohon besar yang belum ada daun-daunnya.
Masing-masing anak mesti mengisi daun dengan cara membaca buku. Di TKIT Syiarul Islam, Kota Tegal misalnya, setiap sabtu, anak-anak dapat membawa pulang buku yang mesti dibaca.
"Anak yang pulang bawa buku, (orang tua) membacakan buku. Kemudian nanti orang tua juga menunjukkan foto atau video. Nanti kami pasang daun," ungkap Kepala Sekolah TKIT Syiarul Islam, Zakiyati Falasifah, saat berbincang di kantornya, Jumat, 23 Oktober 2026.
Sehingga, di akhir tahun semakin rimbun daunnya. Ini juga akan memperlihatkan orang tua yang
aktif membacakan buku.
BIAS Full Day School di Kota Tegal juga punya cara yang sama. Lewat pohon buku, siswa kelas 1-6 SD dibiasakan membaca buku.
Setiap hari siswa memiliki waktu membaca sekitar 15 menit. Di akhir minggu, siswa dapat menuliskan buku-buku yang telah mereka baca.
"Selain membaca buku, kita juga punya namanya jurnal literasi. Jadi, selesai membaca, mereka harus menuliskan hal-hal yang menarik," beber Kepala Sekolah BIAS Full Day School, Nafi'ah Dini Citraningrum.
Baca Juga :
Kemendikdasmen Dobrak Darurat Literasi! 5,5 Juta Buku Meluncur ke Puluhan Ribu SekolahSiswa BIAS Full Day School memilih buku bacaan. Medcom.id/Renatha Swasty
Makin banyak anak diberikan kesempatan untuk membaca, makin banyak akan dituliskan buku yang sudah dibaca, dan daun yang ditempel di pohon. Hal ini akan membuat anak makin merasa sudah berhasil menyelesaikan membaca banyak buku.
"Mereka akan bersaing bagaimana menanam pohon dengan rindang dalam ilustrasi pohon itu," kata Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin.
Dia yakin cara ini bisa makin menumbuhkan minat baca anak tak sekadar hanya untuk bersaing dengan teman-temannya. Sebab, anak juga mesti menuliskan sesuatu tentang buku-buku yang mereka baca.
Melalui metode ini, anak-anak dilatih untuk bisa menceritakan kembali isi buku secara lisan tanpa membaca teks. Sekaligus, membuktikan pemahaman mendalam mereka terhadap buku yang dibaca.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tegal, Dewi Munaroh, menyebut pada dasarnya anak-anak suka diberi hadiah. Daun-daun pada pohon literasi ibarat hadiah Ketika anak sudah membaca atau dibacakan buku.
Hal ini membuat mereka makin semangat berkompetisi. "Mereka akan berkompetisi, semakin merimbunkan dahan-dahan itu, mereka akan senang. Jadi itu penanaman literasi sejak dini, sangat bagus," ujar Dewi.
Pohon literasi yang pada awalnya botak pada akhirnya akan rimbun oleh cerita-cerita yang dibaca siswa. Sementara sang anak, bakal makin kaya dengan pengetahuan dan dengan sendirinya makin mencintai buku.
Pohon buku atau pohon literasi di BIAS Full Day School. Medcom.id/Renatha Swasty
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
- URL Berhasil di Salin Daun-daun yang Bercerita, Tumbuhkan Minat Baca Lewat Pohon Literasi Klik untuk baca: https://www.medcom.id/pendidikan/news-pendidikan/ObzRy2eb-daun-daun-yang-bercerita-tumbuhkan-minat-baca-lewat-pohon-literasi
(REN)






Komentar (0)