New York: Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak relatif stabil pada perdagangan Jumat waktu setempat, di tengah kekhawatiran investor terhadap valuasi saham kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan meningkatnya ketegangan geopolitik.
Mengutip Investing.com, Sabtu, 24 Oktober 2026, indeks dolar AS bergerak relatif datar setelah melemah pada Kamis hingga mencapai level terendah sejak awal Oktober. Terhadap yen Jepang, dolar AS juga relatif stabil di posisi 156,78 yen.
Penurunan tajam saham-saham teknologi sepanjang pekan ini, dipicu keraguan investor terhadap prospek imbal hasil investasi AI, turut memengaruhi pergerakan pasar valuta asing. Dalam kondisi tersebut, dolar AS tidak lagi secara otomatis menjadi pilihan utama investor saat menghindari risiko.
Gejolak pasar juga memicu spekulasi mengenai arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) dan memengaruhi pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Imbal hasil obligasi acuan tenor 10 tahun dilaporkan naik 0,7 persen menjadi 4,984 persen.
Baca Juga :
Jelang Akhir Pekan, Rupiah Ditutup ke Level Rp18.080/USDPelaku pasar masih mencermati kemungkinan perubahan suku bunga acuan AS hingga akhir tahun. Berdasarkan perangkat CME FedWatch, terdapat sekitar 93 persen peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,75 persen sampai 4 persen dalam pertemuan 28 Oktober. Sementara itu, peluang kenaikan sebesar 25 basis poin diperkirakan sekitar 7 persen.
Untuk pertemuan 9 Desember, CME FedWatch menunjukkan peluang sekitar 75 persen bagi kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Angka tersebut turun tajam dibandingkan perkiraan sebelumnya.
Perkembangan ini menjadi perhatian investor yang berupaya memperkirakan arah kebijakan moneter AS di tengah dinamika pasar saham, obligasi, dan tekanan inflasi.
Sementara yen Jepang mempertahankan sebagian besar penguatannya setelah reli pada Kamis. Saat itu, dolar AS sempat turun hingga 156,08 yen seiring meningkatnya permintaan terhadap aset yang dinilai lebih aman di tengah kekhawatiran terhadap keberlanjutan investasi AI.
Pasangan mata uang dolar AS terhadap yen tercatat merosot hampir 1 persen pada Kamis dan melemah sekitar 0,6 persen sepanjang pekan. Penguatan yen juga mendapat dukungan dari data inflasi Jepang. Harga konsumen inti Jepang meningkat 2,1 persen secara tahunan pada September, naik dari 1,7 persen pada Agustus.
Berbeda dengan yen, euro mengalami tekanan sepanjang pekan. Mata uang tunggal Eropa tersebut turun 0,2 persen menjadi USD1,1193 dan berada di jalur pelemahan mingguan sekitar 0,45 persen.
Tekanan terhadap euro dipicu gejolak pasar obligasi pemerintah Prancis. Aksi jual besar-besaran obligasi mendorong premi risiko Prancis ke level yang terakhir terlihat selama krisis utang negara zona euro pada 2011. Tekanan bertambah setelah data pada Jumat menunjukkan aktivitas bisnis Prancis secara tak terduga mengalami kontraksi pada Oktober.
(Dolar AS. Foto: Freepik)
Lonjakan harga minyak menekan inflasi
Harga minyak turut menjadi perhatian investor di tengah ketegangan geopolitik. Minyak mentah Brent diperdagangkan di atas USD116 per barel setelah melonjak sekitar 4 persen pada Kamis menyusul serangan di Arab Saudi yang memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan.
Kenaikan harga energi berpotensi memperbesar tekanan inflasi dan mempersulit pengambilan kebijakan moneter, terutama bagi negara pengimpor energi seperti Jepang.
Di pasar aset aman lainnya, franc Swiss sempat mencapai level tertinggi dalam satu bulan pada Kamis sebelum melemah 0,2 persen pada Jumat.
Di Asia, yuan Tiongkok bertahan di dekat level terendah dalam empat tahun. Sementara itu, rupee India kehilangan sebagian besar penguatan sebelumnya yang didukung kebijakan Bank Sentral India (RBI).
Pasangan dolar AS terhadap rupee India naik 0,4 persen menjadi 95,178 setelah mengalami penurunan selama sembilan sesi berturut-turut hingga Rabu.
Pergerakan mata uang di berbagai kawasan menunjukkan investor masih mencermati kombinasi risiko geopolitik, prospek inflasi, dan arah kebijakan bank sentral utama dunia.





Komentar (0)