Tak Selamanya Gawai Berbahaya untuk Anak

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Penggunaan gawai pada anak usia dini kerap menjadi perdebatan di kalangan orangtua terkait dampaknya terhadap perkembangan bahasa, kemampuan bersosialisasi, hingga risiko ketergantungan pada layar. Pada praktiknya, teori-teori pengasuhan anak tidak selalu harus diterapkan secara hitam-putih oleh orangtua masa kini.

Pasangan muda asal Jakarta, Thomas Kurniadi (42) dan Minuk Seto (38), misalnya, mereka memilih menerima kenyataan bahwa anak mereka lahir di era digital. Alih-alih menerapkan larangan ketat terhadap penggunaan gawai atau berpegang sepenuhnya pada teori pengasuhan tertentu, mereka memilih pendekatan pendampingan, komunikasi terbuka, kepercayaan, dan pengarahan terhadap minat anak.

Sejak anak pertamanya lahir, mereka mulai mengenalkan dunia digital ketika berusia sekitar 3,5 tahun, bertepatan dengan masa ketika mereka bersiap menyambut kelahiran anak kedua. Menurut Minuk, hal ini dilakukan karena saat itu mereka tidak mempekerjakan pengasuh dan terbiasa membawa anak ke kegiatan mereka.

Mau tidak mau, gawai kadang menjadi sarana praktis untuk menjaga anak tetap nyaman saat mereka harus menghadiri acara atau menyelesaikan urusan tertentu.

Saat itu mereka hanya memberikan akses pada gim edukatif di telepon genggam yang dinilai ada batas kebosanan ketimbang video yang berlanjut otomatis ke konten berikutnya agar tidak berujung pada kecanduan gawai.

”Kalau untuk sampai enggak ada screen time (waktu melihat layar) sama sekali, kami enggak bisa bohong, apalagi pada zaman sekarang, kayaknya enggak mungkin kalau kami melarang penuh. Apalagi semua hal yang kami kerjakan ini ada di handphone,” kata Minuk saat ditemui di rumahnya, di Jakarta Selatan, Rabu (21/10/2026).

Namun, mereka tetap membatasi akses gawai anak dengan membuat akun anaknya agar algoritma tontonan yang muncul saat anak menonton tetap sesuai dengan usianya. Mereka juga sering mengawasi tontonan anak melalui riwayat tontonan di akun tersebut.

Teknologi, menurut Minuk, juga dapat digunakan untuk menjawab rasa ingin tahu, mencari informasi, dan belajar bersama. Ketika orangtua tidak mengetahui jawaban atas pertanyaan anak, mereka justru mengajak anak mencari jawabannya bersama-sama melalui gawai.

Karena itu, Minuk dan Thomas sepakat tidak ada aturan pembatasan gawai kepada keempat anaknya, tapi hanya ada pendampingan. Mereka bahkan menghargai privasi anak di ruang digital sebagai bentuk kepercayaan yang harus dijaga oleh anak.

Mereka menyadari adanya kemungkinan kebohongan dan masalah dalam pergaulan ketika anak diberikan gawai. Namun, mereka berusaha membangun hubungan yang membuat anak merasa aman untuk menceritakan persoalan sebelum orangtua harus mencari tahu sendiri.

”Sejauh ini sih, kami merasa mereka jadi enggak pernah bohong karena sudah diberi kepercayaan itu dan menjadi saling percaya. Jadi, tanpa kami tanya, mereka sudah cerita sendiri apa yang ditemukan di gawainya,” kata Thomas.

Baca JugaKesehatan Mental Orangtua Pengaruhi Waktu Anak Gunakan ”Gadget”

Kini, anak pertamanya, Kitama Arturo (12) sedang mendalami minatnya menjadi dalang cilik. Peminatan pada seni tradisional itu justru tumbuh dari dunia digital ketika Kitama sering menonton wayang di platform Youtube meski orangtuanya bukan seniman tradisi.

Keluarganya bahkan tidak menyangka bahwa tontonan tersebut akan berkembang menjadi minat begitu kuat. Kitama mulai mengulik informasi sendiri, menirukan gerakan, dan mempelajari berbagai tokoh pewayangan hingga kini berani pentas di beberapa pertunjukan wayang kulit.

”Jadi sekarang lebih ke kami yang juga harus jadi memasuki dunia anak ini. Sebab, kami juga tidak tahu banyak soal wayang,” kata Minuk.

Baca JugaLomba Dalang Anak Menjadi Sarana Pelestarian Seni Wayang Kulit

Senada dengan itu, Graciela Mytha (32), seorang ibu di Salatiga, Jawa Tengah, juga mengaku tidak sepenuhnya bisa menerapkan aturan waktu anak melihat layar (screen time) kepada anaknya. Ia sudah memperlihatkan anaknya ke layar gawai sejak berusia sekitar 1 tahun.

Saat itu, ia mempertontonkan video berdurasi singkat kepada anaknya, paling lama 15 menit. Tayangan edukasi anak dari media sosial digunakannya sebagai stimulasi anak, selain juga dengan percakapan sehari-hari dan membacakan buku cerita anak.

Kemudian durasinya meningkat secara bertahap sesuai kebutuhan. Namun, ia tidak langsung membiarkan anak menatap layar dalam waktu lama, tetapi menyelinginya dengan aktivitas lain dan selalu dalam pengawasannya.

Penggunaan terukur

Menurut Mytha, penggunaan gawai pada anak tidak selalu berdampak buruk jika dilakukan secara terukur dan disertai pengawasan orangtua. Dia merasa anaknya yang kini berusia 4 tahun justru lebih lancar saat berbicara atau memiliki kosakata yang baik karena tambahan stimulasi digital tersebut.

”Aku tidak tahu ini benar atau tidak, tetapi aku melihat perkembangan bicaranya dia sekarang itu lebih baik, udah enggak cadel-cadel lagi, kosakata anakku juga banyak dilatih dari tontonan dia selama screen time waktu masa kecil,” kata Mytha, saat dihubungi dari Jakarta, Senin (19/10/2026).

Baca JugaAnak Rentan Terpapar Konten Dewasa di Internet

Meski begitu, ia dan suami berusaha membatasi penggunaan gawai berdasarkan situasi dan kebutuhan. Saat berada di rumah dan memiliki kesempatan berinteraksi langsung, ia mengajak anak berbicara atau beraktivitas bersama. Sementara ketika berada di situasi anak perlu diberi layar gawai, ia mempercepat kegiatannya agar anak tak terlalu lama menatap layar.

”Sebenarnya, menurut aku, screen time di zaman sekarang enggak sepenuhnya buruk. Itu justru bisa membantu perkembangan anak itu sendiri sih,” ujarnya.

Menurut American Academy of Pediatrics (2016), penggunaan media digital pada anak perlu diatur dengan mempertimbangkan usia, kebutuhan perkembangan, mutu konten, dan keseimbangan dengan aktivitas lain. Setiap keluarga sebaiknya menyusun kesepakatan penggunaan media digital dengan mempertimbangkan usia, kebutuhan, dan rutinitas setiap anggota keluarga.

Baca Juga”Screen Time” Berlebihan Memicu Masalah Emosional Anak

Psikolog Kasandra Putranto menegaskan, pendampingan penggunaan gawai bisa berdampak positif jika dilakukan secara konsisten, sesuai usia, disertai penjelasan yang bisa dipahami anak. Anak memiliki kesempatan lebih besar untuk mengembangkan kemampuan mengelola emosi, berinteraksi sosial, bergerak aktif, tidur cukup, dan mengeksplorasi lingkungan secara langsung.

Pembatasan ketat secara mendadak, terlalu kaku, atau disertai hukuman dan ancaman justru bisa memicu penolakan, kemarahan, frustrasi, bahkan konflik anak dengan orangtua. ”Reaksi itu tak selalu berarti anak kecanduan gawai. Bisa jadi anak belum terbiasa mengatur keinginannya atau merasa kehilangan aktivitas menyenangkan,” kata Kasandra.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah merekomendasikan bahwa pada anak usia 0-2 tahun harus diprioritaskan interaksi langsung, bermain, berbicara, membaca buku, dan aktivitas sensorimotor. Hindari menjadikan gawai sebagai cara utama untuk menenangkan anak.

Memasuki usia 2-5 tahun, anak sudah mulai bisa dikenalkan pada layar gawai dengan menonton konten yang sesuai usia, batasi waktu layar, dan dampingi anak saat menggunakan gawai. Ajak anak berbicara mengenai apa yang dilihatnya.

Pada usia 6-12 tahun, terapkan jadwal yang seimbang antara belajar, bermain, aktivitas fisik, tidur, dan penggunaan gawai. Ajarkan privasi, keamanan daring, cara menghadapi perundungan siber, serta pentingnya tidak membagikan informasi pribadi sembarangan.

Baca JugaUrgensi Pembatasan ”Game Online”  Pascaledakan di SMAN 72

Kemudian, pada usia remaja 13-18 tahun, anak harus dilibatkan dalam penyusunan aturan dan evaluasi kebiasaan digitalnya. Diskusikan pengaruh media sosial terhadap emosi, citra diri, relasi pertemanan, privasi, dan jejak digital.

Pengawasan tetap diperlukan, tetapi harus disertai dengan komunikasi terbuka dan penghormatan terhadap privasi yang sesuai dengan tingkat kematangannya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kecelakaan KMP Batumandi, Capt. Hakeng: Investigasi Jadi Kunci Perbaikan
• 16 jam lalu
0
thumb
Kapolri: Tim Gabungan Sita Hampir 1,2 Ton Sabu dari Laboratorium Gelap di Aceh
• 1 jam lalu
0
thumb
Jelang Akhir Pekan, Rupiah Ditutup ke Level Rp18.080/USD
• 18 jam lalu
0
thumb
Kunjungi Pulau Miangas, Jenderal Maruli Petakan Kebutuhan Pembangunan Perbatasan
• 21 jam lalu
0
thumb
Eropa Sudah Dilanda Demonstrasi Massal, Bakal Menular ke Asia?
• 14 jam lalu
0
Berhasil disimpan.