Jakarta, VIVA – Saudi Aramco, perusahaan minyak raksasa Arab Saudi, tengah menjajaki rencana monetisasi aset real estat untuk menghimpun dana sedikitnya US$10 miliar atau sekitar Rp160 triliun. Rencana ini menjadi sorotan karena salah satu aset yang dipertimbangkan adalah kompleks kantor pusat Aramco di Dhahran, yang dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan rudal kelompok Houthi dari Yaman pada Oktober 2026.
Sebelumnya, Aramco memerintahkan karyawannya mengosongkan kantor pusat di Dhahran dan bekerja dari rumah pada Kamis, 22 Oktober 2026. Langkah tersebut dilakukan setelah kompleks perkantoran perusahaan dilaporkan terdampak serangan pada 13 Oktober 2026.
Serangan itu disebut memicu kebakaran yang menjalar ke sejumlah lantai gedung. Meski mengalami kerusakan, aktivitas operasional perusahaan dilaporkan tetap berjalan.
Di tengah situasi tersebut, rencana monetisasi properti Aramco menarik perhatian karena menyangkut aset bernilai besar yang memiliki peran penting dalam mendukung kegiatan bisnis perusahaan. Namun, rencana penghimpunan dana tersebut masih dalam tahap penjajakan dan belum menghasilkan keputusan final.
Aramco Pertimbangkan Jual Aset PropertiMenurut laporan Bloomberg yang dikutip The Business Times pada 13 Mei 2026, Aramco mempertimbangkan skema sale-and-leaseback untuk memonetisasi sebagian portofolio real estatnya.
Melalui skema tersebut, perusahaan menjual aset properti kepada investor, kemudian menyewa kembali aset yang sama agar tetap dapat digunakan untuk kegiatan operasional. Dengan cara ini, Aramco berpotensi memperoleh dana segar dari aset yang dimiliki tanpa harus langsung meninggalkan bangunan yang menunjang aktivitas bisnisnya.
Aramco disebut telah melakukan pembicaraan awal dengan pihak-pihak terkait dan bekerja sama dengan penasihat untuk menjajaki peluang transaksi. Kesepakatan tersebut berpotensi menarik minat investor, termasuk dana investasi yang berfokus pada sektor real estat dan infrastruktur.
Dana yang dibidik mencapai sedikitnya US$10 miliar. Jika menggunakan asumsi kurs Rp16.000 per dolar AS, nilainya setara dengan sekitar Rp160 triliun.
Meski demikian, angka tersebut masih merupakan target dalam proses penjajakan. Belum ada kepastian mengenai nilai transaksi yang akan disepakati, aset yang akhirnya dilepas, maupun waktu pelaksanaannya.
Kantor Pusat Dhahran Masuk dalam PertimbanganSalah satu aset yang dipertimbangkan dalam rencana monetisasi tersebut adalah kompleks kantor pusat Aramco di Dhahran, Provinsi Timur, Arab Saudi.






Komentar (0)