Waka MPR: Perempuan Ikut Menulis Kemerdekaan Lewat Pendidikan-Organisasi

detik.com
16 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan sejarah perempuan Indonesia merupakan bagian utama dari sejarah nasional, bukan catatan pinggir.

Ia mendesak agar dokumentasi perjuangan perempuan tidak berhenti menjadi buku seremonial, melainkan dijadikan bahan ajar yang membentuk pemahaman generasi muda.

Hal itu disampaikan Lestari saat peluncuran buku Wanita Syarikat Islam: Peran Historis dalam Dinamika Kebangsaan Indonesia dalam rangkaian Mukernas Wanita Syarikat Islam 2026 di Jakarta, Jumat (23/10).

"Perempuan itu ikut menulis kemerdekaan. Para pendahulu kita menuliskannya melalui pendidikan, organisasi, dan perjuangan sosial," ujar Rerie dalam keterangannya.

Baca juga: Lestari Moerdijat Dorong Perempuan Menulis agar Jejaknya Tercatat Sejarah

Menurut Rerie, buku tersebut bukan sekadar rekam jejak historis. Ia menilai, dokumentasi semacam ini memberi teladan dan warisan pemikiran bagi perempuan generasi berikutnya.

"Buku ini harus menjadi rujukan, bukan hanya dipamerkan," tegasnya.

Dalam sambutannya, Rerie menyoroti jejak perempuan Islam dalam momentum-momentum kunci kebangsaan. Ia mencatat bahwa pada Kongres Perempuan Indonesia pertama tahun 1928, kaum perempuan Islam telah mengambil peran dalam kepengurusan.

Pada 1945, Maria Ulfah turut mengusulkan dan memastikan pasal kesetaraan di hadapan hukum dalam konstitusi. Ia juga menyinggung keterlibatan organisasi perempuan Islam dalam proses pengusulan Undang-Undang Perkawinan hingga disahkan pada 1974.

Namun, Rerie mengingatkan bahwa perjuangan itu belum selesai. Ia menyoroti masih minimnya keterwakilan perempuan di lembaga legislatif, termasuk di komisi-komisi yang membahas rancangan undang-undang strategis.

"Banyak hal yang memang harus kita perjuangkan bersama-sama tanpa lelah," katanya.

Baca juga: Lestari Moerdijat Dorong Literasi Budaya untuk Jaga Nilai Kebangsaan

Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu juga menyinggung beban budaya yang masih melekat pada perempuan, terutama kewajiban perawatan yang sering dilekatkan pada mereka. Meski demikian, ia menegaskan bahwa perempuan harus mampu menembus batasan tersebut dan mandiri secara ekonomi.

"Perempuan yang berpengetahuan dan berdaya, ekosistem yang mendukung perempuan dan keluarga, serta partisipasi dalam demokrasi dan pembangunan adalah tiga hal yang menjadi harapan kami," ujar Anggota Komisi X DPR RI itu.

Rerie menutup dengan harapan agar gagasan dalam buku tersebut menjadi basis literasi sejarah perjalanan perempuan Indonesia—sekaligus jembatan antara warisan perjuangan pendahulu dan lahirnya generasi perempuan yang berpengetahuan, berdaya, dan berintegritas.

"Sejarah bukan hanya tentang siapa yang diperhatikan, tetapi juga tentang perjuangan apa yang kita lakukan," pungkas Rerie.

Tonton juga video "Sarmuji Bicara Masa Depan Industri Indonesia"




(akd/akd)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Survei IPO Catat 67% Publik Percaya Prabowo Bisa Tuntaskan Masalah Mendesak
• 4 jam lalu
0
thumb
Bantuan Asing untuk Pemadaman Udara Karhutla Belum Bisa Dipakai, Ini Penjelasan Dudung
• 17 jam lalu
0
thumb
Jenna Ortega Berencana Rehat dari Dunia TV Setelah Wednesday Berakhir
• 6 jam lalu
0
thumb
Menteri PU Kebut Pembangunan Jalan Perbatasan di Kalimantan
• 18 jam lalu
0
thumb
Gerindra Puncaki Elektabilitas Partai Politik Versi Survei IPO, Capai 23,1%
• 2 jam lalu
0
Berhasil disimpan.