Perkara Seragam, Anak SMK Dianiaya Ayah hingga Tewas di Cicalengka

grid.id
1 jam lalu
Cover Berita

Grid.ID - Seorang anak SMK dianiaya ayah hingga tewas di Cicalengka. Penganiayaan ini diduga bermula dari pertanyaan korban soal seragam sekolah kepada orangtuanya.

Warga Kampung Dungus Maung, Desa Cikuya, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, masih syok dengan meninggalnya seorang warga mereka, remaja kelas X Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) berinisial RR (15). Korban diduga meninggal dunia usai mengalami kekerasan dari ayah kandungnya sendiri, pada Senin (19/10/2026) malam.

Meninggalnya RR membuat warga sekitar kaget karena sebelumnya keluarga korban dikenal harmonis. Berdasarkan informasi yang dihimpun, penganiayaan tersebut bermula dari pertanyaan korban soal seragam.

Ketua RT setempat, Ujang Saripudin (44) mengaku tidak mengetahui kronologi peristiwa anak dianiaya ayah hingga tewas tersebut secara detail. Namun saat dirinya mendatangi lokasi kejadian, rumah korban sudah ramai dengan warga.

"Untuk kronologisnya saya kurang tahu detailnya gimana. Saya tahunya juga dari istri saya, kemudian saya cek ke lokasi dan benar sudah banyak warga di sana (rumah korban)," ujarnya, dikutip dari Tribun Jabar.

Ujang pun membenarkan informasi meninggalnya RR diduga karena mengalami kekerasan dari sang ayah.

"Iya, katanya (diduga meninggal dunia) oleh bapaknya," lanjutnya.

Meski tak mengetahui secara detail, Ujang menyebut bahwa insiden tragis ini berawal saat RR menanyakan soal seragam kepada ibunya.

Sang ibu kemudian menanyakan hal itu kepada suaminya atau ayah korban. Seragam tersebut rupanya belum ada diduga karena terkendala biaya.

"Informasi dari warga, katanya gara-gara seragam sekolah. Korban bertanya kepada ibunya, seragamnya belum ada," kata Ujang.

Setelah itu, emosi sang ayah diduga meledak sehingga terjadi kekerasan kepada anaknya. Peristiwa penganiayaan tersebut terjadi di antara pukul 19.00 WIB hingga 21.00 WIB.

 

"Kemudian ibunya bertanya kepada bapaknya. Setelah itu mungkin langsung terjadi peristiwa tersebut," jelasnya.

Setelah penganiayaan terjadi, warga sekitar pun mendatangi rumah korban. Warga saat itu melihat kondisi korban masih bernapas sehingga RR dilarikan ke puskesmas terdekat.

Setelah itu, RR kemudian dirujuk ke rumah sakit. Namun nahas, korban mengembuskan napas terakhirnya saat dalam perjalanan untuk dirujuk.

Dikenal Baik

Warga sekitar pun terkejut dengan adanya tragedi anak SMK dianiaya ayah hingga tewas di Cicalengka ini. Hal itu lantaran keluarga korban dikenal harmonis dan tidak memiliki riwayat KDRT.

"Kalau laporan ke saya soal KDRT atau bagaimana, dari dulu sampai sebelum kejadian kemarin, tidak ada. Keluarganya biasa saja seperti warga pada umumnya. Berbaur juga dengan warga, tidak ada yang aneh-aneh," ucapnya.

Ayah RR sehari-hari bekerja sebagai pengemudi ojel online (ojol). Sementara itu, ibu korban juga memiliki pekerjaan.

Menurut Ujang, korban sendiri dikenal sebagai pribadi yang baik dan senang bergaul. RR bahkan kerap bermain dengan anaknya di rumah karena berusia sebaya.

"Keluarga korban bisa dibilang sibuk, kedua orang tuanya bekerja. Korban juga baik, sering bermain di sini. Bahkan main juga sama anak saya karena sepantaran. Makanya warga di sini syok dan tidak menyangka apalagi korban juga dikenal baik," ujarnya.

Jenazah RR sendiri telah dimakamkan pada Selasa (20/10/2026). Lokasi pemakaman berada dekat dengan rumah korban yang menjadi tempat kejadian perkara.

Penjelasan Psikolog Mengenai Kekerasan Orangtua Terhadap Anak

Baca Juga: Balita Tewas Dianiaya Ayah Kandung di Cakung Jaktim, Motif Pelaku Terungkap

 

Seorang psikolog anak, remaja, dan keluarga, Sani Budiantini Hermawan menjelaskan mengenai alasan orangtua melakukan kekerasan terhadap anaknya, seperti yang terjadi dalam peristiwa anak SMK dianiaya ayah hingga tewas di Cicalengka. Menurutnya, orangtua yang melakukan kekerasan terhadap anak memiliki persepsi anak sebagai objek, bukan subjek.

"Dari persepsi orang tua yang melihat anak sebagai objek dan bukan subjek, inilah awal dari mudahnya kekerasan di dalam rumah itu terjadi, baik kekerasan fisik, psikologis, maupun kekerasan verbal," jelas Sani, dikutip dari Kompas TV.

Saat orangtua melihat anak sebagai objek, ia merasa bahwa anak adalah sumber pelampiasan. Oleh sebab itu, saat orangtua tidak mampu mengontrol emosi, ia akan menyasar orang terdekat sebagai pelampiasan kekesalannya.

Menurutnya, anak kerap menjadi sasaran lantaran dinilai sebagai sosok yang paling lemah dan rentan sehingga paling mudah untuk menjadi pelampiasan.

"Orang tua yang tidak bisa mengontrol emosi itu biasanya akan melampiaskan kekesalan itu terhadap orang di sekitarnya. Nah, orang yang paling mudah dilampiaskan, yang dianggap paling rentan adalah kan misalnya anak," ungkapnya.

Terlebih, anak biasanya cenderung merasa orangtua memiliki otoritas terhadap dirinya. Sehingga dalam banyak kasus, anak ketakutan dan hanya bisa berdiam tanpa tahu cara melarikan diri dari permasalahan tersebut.

"Sehingga anak bisa saja diam saja, dia tidak bisa lari, bahkan ketakutan tanpa dia tahu bagaimana cara keluar dari permasalahan ini," jelasnya.

Menurut Sani, pencegahan dapat dilakukan dengan peran dari pihak-pihak di luar keluarga inti, misalnya tante, om, guru, atau warga sekitar. Pihak luar bisa mencari tahu lebih lanjut jika ditemukan adanya tanda-tanda dugaan kekerasan pada anak.

Ia pun mengecam keras tindakan kekerasan pada anak. Orangtua seharusnya tidak menjadikan anak sebagai objek kekerasan. Sebaliknya, anak seharusnya menjadi individu yang harus dilindungi dan dibesarkan dengan kasih sayang.

"Saya sangat menghimbau pada semua orang tua bahwa kekerasan pada anak ini tidak dibenarkan dengan alasan apa pun," ujarnya.

"Sehingga tidak bisa dijadikan menjadi objek kekerasan," tutupnya. (*)

 

 

Artikel Asli


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Investasi Korea Selatan di Batam Melonjak 34 Kali Lipat, Sektor Ini Jadi Penyumbang Terbesar
• 8 jam lalu
0
thumb
Inisiatif Hijau dari Gang Sempit di Jaksel
• 3 jam lalu
0
thumb
Klasemen BRI Super League: Persija di Puncak, Persib Masih di Luar 5 Besar
• 12 jam lalu
0
thumb
Telkom Perkuat ESG Lewat UN Global Compact dan Program Zero Waste
• 19 jam lalu
0
thumb
Tiga Pelaku Usaha yang Berkembang dan Kian Berdaya Berkat Klasterku Hidupku BRI
• 3 jam lalu
0
Berhasil disimpan.