Surabaya (beritajatim.com) – Anggota Komisi C DPRD Surabaya Juliana Eva Wati melontarkan kritik keras terhadap pemasangan rambu bus stop tanpa fasilitas tempat tunggu yang layak bagi penumpang.
Dia mendesak Dinas Perhubungan (Dishub) Surabaya menghentikan pemasangan bus stop di lokasi yang belum dilengkapi tempat duduk dan kanopi untuk melindungi masyarakat dari terik matahari.
“Jangan memasang bus stop kalau memang fasilitasnya tak siap. Minimal ada tempat duduk dan kanopi untuk melindungi penumpang dari matahari,” tegas Juliana, Jum’at (23/10/2026).
Menurut dia, pemasangan rambu tanpa fasilitas pendukung menunjukkan bahwa pengembangan transportasi umum belum sepenuhnya memperhatikan kebutuhan penumpang. Pemerintah kota, kata dia, seharusnya tida hanya menyediakan titik pemberhentian, tetapi juga memastikan masyarakat memiliki tempat yang layak untuk menunggu.
“Kalau bus stop sudah ada tandanya, tetapi penumpang disuruh menunggu di emperan, kan kurang elok dan kurang layak. Kalau memang belum siap memberikan fasilitas, ya jangan dipasang,” ujar Bendahara PAN Surabaya tersebut.
Dia mengungkapkan, keluhan mengenai minimnya fasilitas tempat tunggu kerap muncul di media sosial dan disampaikan langsung kepadanya. Persoalan tersebut perlu segera ditangani agar tidak terus berulang dan menggerus kepercayaan masyarakat terhadap layanan transportasi umum Surabaya.
Dia mengaku prihatin dengan nasib lansia yang mengandalkan transportasi umum untuk beraktivitas sehari-hari. Mereka harus menghadapi panas saat menunggu, bahkan berisiko tetap tidak bisa naik ketika kendaraan yang datang sudah penuh.
“Kasihan lansia menunggu, setelah kendaraannya datang ternyata penuh. Kita ingin memudahkan masyarakat menggunakan transportasi umum, tetapi jangan sampai mereka justru kesulitan sejak masih menunggu,” tutur alumnus Fakultas Hukum (FH) Universitas Airlangga Surabaya tersebut.
Menurut Juliana, kemudahan tarif, termasuk layanan gratis bagi kelompok tertentu, tidak cukup jika tidak dibarengi fasilitas yang manusiawi. Dia mengingatkan bahwa tidak semua lansia terbiasa menggunakan aplikasi digital untuk memantau kedatangan kendaraan atau mengakses informasi layanan.
“Namanya orang tua, belum tentu mengerti aplikasi. Pokoknya mereka ingin naik gratis, berangkat dan pulang dengan mudah. Karena itu, jangan hanya memikirkan kendaraannya, tetapi tempat menunggunya juga harus diperhatikan,” tegasnya.
Juliana mengakui perkembangan transportasi umum Surabaya patut diapresiasi karena semakin menjadi pilihan masyarakat. Namun, menurutnya, keberhasilan tersebut jangan sampai hanya diukur dari jumlah armada atau penambahan titik pemberhentian tanpa memperhatikan kualitas fasilitas bagi penumpang.
Dia meminta Dishub mengevaluasi seluruh lokasi bus stop yang belum memiliki sarana pendukung memadai, terutama tempat duduk dan kanopi. Evaluasi itu penting agar pemasangan rambu tidak berhenti sebagai penanda lokasi, sementara kebutuhan dasar penumpang justru terabaikan.
“Anggaran Dishub juga cukup besar. Jangan sampai inovasi dan program yang sudah bagus justru mendapat penilaian buruk hanya karena fasilitas bus stop tidak layak. Ini harus benar-benar diperhatikan,” katanya.
Juliana menegaskan, Dishub perlu memastikan kesiapan fasilitas sebelum menetapkan atau memasang rambu pemberhentian transportasi umum. Dia tidak ingin masyarakat terus menjadi pihak yang menanggung dampak dari fasilitas yang belum dipersiapkan secara memadai.
“Kalau belum siap menyediakan fasilitas untuk tempat pemberhentian transportasi umum, jangan dipasang dulu. Jangan hanya memasang rambu, lalu masyarakat dibiarkan menunggu di tempat yang tidak layak. Transportasi umum harus memudahkan masyarakat, bukan malah menyusahkan mereka,” pungkasnya.[asg/ted]





Komentar (0)