Ancaman MSCI, Apa Dampaknya bagi Ekonomi Rakyat?

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

SIDOARJO, KOMPAS — Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini melontarkan pernyataan keras kepada Morgan Stanley Capital International atau MSCI. Respons itu terkait ancaman MSCI menurunkan status pasar modal Indonesia dari kategori negara berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market).

Hal itu disampaikan lembaga penyedia indeks pasar keuangan global yang berkantor pusat di New York tersebut pada Jumat (16/10/2026). Penurunan status pasar saham Indonesia dipertimbangkan tidak ada perbaikan berarti atas sejumlah catatan MSCI perihal masih adanya praktik goreng saham yang mewarnai pasar saham Indonesia.

Hal itu lantas memantik reaksi keras dari Presiden Prabowo Subianto. Dalam Sidang Kabinet Paripurna 2 Tahun Pertama Pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (21/10/2026) malam, Presiden menegaskan tidak akan takut dan gentar menghadapi MSCI.

Baca JugaPresiden Prabowo: Indonesia Tidak Takut Hadapi MSCI

Dosen Finance and Investment Universitas Kristen (UK) Petra Nanik Linawati mengatakan sangat wajar jika Presiden merespons dengan tegas pernyataan mereka, mengingat MSCI merupakan lembaga internasional yang menjadi acuan investor global.

Menurutnya, ketegasan Presiden itu penting untuk menjaga kepercayaan investor domestik maupun asing agar tidak semakin terpengaruh oleh sentimen negatif, dengan harapan kondisi pasar saham Indonesia segera pulih. Namun, Nanik menilai respons tersebut juga perlu diikuti langkah nyata untuk memperbaiki persoalan yang menjadi perhatian MSCI.

Apa dampak jika klasifikasi pasar saham Indonesia turun? Nanik mengatakan apabila status pasar saham Indonesia turun dari Emerging Market menjadi Standalone Market, kepercayaan investor global berpotensi melemah. Investor yang mengikuti indeks MSCI pasar berkembang dapat mengurangi investasinya di Indonesia, sehingga tekanan jual saham meningkat dan IHSG berpotensi semakin tertekan.

“Karena itu, pemerintah dan otoritas pasar modal perlu segera memperbaiki transparansi dan tata kelola agar kepercayaan investor dapat dipulihkan,” ujar Nanik, Jumat (23/10/2026).

Apakah benar pasar saham Indonesia tidak menunjukkan kemajuan? Menurut Nanik, pernyataan MSCI terkait kondisi pasar saham Indonesia tidak sepenuhnya tepat. Sebab, jumlah investor domestik dan perkembangan pasar modal menunjukkan adanya kemajuan.

Baca JugaImbas MSCI, Rupiah Tembus Rp 18.000

Namun, kemajuan tersebut belum diikuti dengan perbaikan kualitas tata kelola dan transparansi yang sesuai dengan harapan investor global. Artinya, kemajuan yang sudah dicapai perlu diakui tanpa mengabaikan kelemahan yang masih perlu diperbaiki.

“Pasar saham yang sehat bukan hanya ditandai oleh kenaikan IHSG, tetapi juga oleh keterbukaan informasi, perlindungan investor, dan perdagangan yang wajar,” kata Nanik.

Di sisi lain, ditengah ramainya perbincangan terkait kondisi pasar saham Indonesia, masyarakat di kalangan akar rumput bertanya apa dampaknya bagi ekonomi mereka?

Menjawab pertanyaaan itu, Nanik mengatakan dampak penurunan pasar saham Indonesia tidak hanya dirasakan oleh investor saham. Jika gejolak pasar berlanjut dan memengaruhi kepercayaan terhadap perekonomian Indonesia, perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Tanah Air akan menghadapi kesulitan memperoleh pendanaan untuk mengembangkan usaha.

Karena itu, pemerintah perlu menjaga stabilitas pasar sekaligus memastikan agar dampak gejolak ekonomi tidak semakin membebani masyarakat.

Hal ini berpotensi memengaruhi investasi, kesempatan kerja, dan pendapatan masyarakat. Rakyat kecil yang tidak memiliki saham memang tidak langsung mengalami kerugian akibat penurunan IHSG, tetapi dapat terkena dampak tidak langsung jika gejolak tersebut meluas ke perekonomian.

“Karena itu, pemerintah perlu menjaga stabilitas pasar sekaligus memastikan agar dampak gejolak ekonomi tidak semakin membebani masyarakat,” ucap Nanik.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengatakan Indonesia berada dalam kondisi global yang ditandai oleh persaingan hegemoni dunia antara kekuatan-kekuatan besar. Kondisi global tersebut akan memengaruhi semua negara karena dunia sudah terintegrasi sehingga memiliki ketergantungan satu dengan lainnya.

Di samping situasi global, Indonesia juga menghadapi dampak perubahan cuaca yang mengakibatkan berbagai gejolak. Posisi Indonesia yang berada di ”ring of fire” memberi tantangan terhadap potensi bencana sekaligus peluang karena menghasilkan sumber daya alam berlimpah.

Saat bersamaan masih banyak tantangan yang harus dihadapi oleh bangsa Indonesia, seperti, usulan MSCI terkait perubahan status pasar modal Indonesia dari kategori negara berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market).

“Saya hanya katakan kepada MSCI, bangsa Indonesia tidak takut siapapun dan tidak akan gentar,” kata Prabowo.

Presiden mengajak agar masyarakat Indonesia tidak takut. Alasannya, bangsa Indonesia punya kekuatan, punya keberanian, rela berkorban, dan tidak kenal menyerah. Prabowo mengatakan apabila diperlukan, pemerintah akan melakukan penghematan besar-besaran.

Baca JugaRedam Sentimen Pasar, Pemerintah Intensifkan Intervensi di Pasar Obligasi

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Menteri Hukum serap aduan notaris lewat "Pasti Ada Solusi"
• 3 jam lalu
0
thumb
Ruben Onsu Sentil Komnas Anak, Dinilai Berlebihan Urus Kasusnya: Saya Juga Kecam Anda!
• 23 jam lalu
0
thumb
Kapolri Bongkar Lab Narkoba 1,2 Ton di Aceh, Terbesar di Indonesia
• 5 jam lalu
0
thumb
Arab Ramai-Ramai Investasi ke China dan Hong Kong, Ada Apa?
• 21 jam lalu
0
thumb
Tarik Investasi Properti, Pengembang Andalkan Kemudahan Akses Tol
• 7 jam lalu
0
Berhasil disimpan.