Komdigi Sebut Kapasitas Data Center Indonesia Masih Kalah dari Malaysia

kumparan.com
56 menit lalu
Cover Berita

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, menyoroti kapasitas pusat data (data center) Indonesia yang masih tertinggal dari Malaysia. Padahal, infrastruktur ini menjadi salah satu fondasi penting untuk mengembangkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan memperkuat daya saing digital suatu negara.

Nezar menyebut kapasitas pusat data Indonesia saat ini mencapai sekitar 580 megawatt (MW). Pemerintah menargetkan kapasitas tersebut meningkat menjadi 1,3 gigawatt (GW) pada 2027–2028. Namun, angka itu masih jauh di bawah Malaysia yang memiliki kapasitas pusat data sekitar 3 GW.

“Kalau sekarang dalam kondisi existing hari ini kita compare dengan Malaysia, mereka punya 3 gigawatt. Jadi, kita belum sampai setengahnya dari apa yang dicapai oleh Malaysia,” kata Nezar di acara Bali Tech Week 2026, Kamis (22/10).

Menurut Nezar, kesenjangan tersebut perlu menjadi perhatian serius. Indonesia memiliki populasi yang jauh lebih besar daripada Malaysia sehingga membutuhkan infrastruktur komputasi yang mampu menopang aktivitas ekonomi digital dan perkembangan teknologi baru.

Pusat Data Jadi Kunci Persaingan AI Global

Nezar menjelaskan, kapasitas komputasi atau compute power kini menjadi salah satu penentu dalam persaingan teknologi global. Perkembangan AI, menurut dia, didorong oleh dua faktor utama, yakni persaingan kekuatan besar dunia dan besarnya investasi untuk mengembangkan teknologi tersebut.

Ia mencontohkan persaingan Amerika Serikat dan China dalam mengembangkan AI hingga mencapai tingkat kecerdasan yang semakin tinggi. Persaingan ini juga mendorong investasi besar untuk memperkuat berbagai infrastruktur pendukung, mulai dari industri semikonduktor hingga pusat data.

“Compute power juga saya kira menjadi inti dari persaingan di tingkat global,” ujar Nezar.

Nezar menyoroti posisi Amerika Serikat sebagai salah satu negara dengan infrastruktur pusat data terbesar di dunia. Ia menyebut jumlah pusat data di negara tersebut telah melampaui 5.200 fasilitas, dengan konsentrasi di sejumlah wilayah, seperti Virginia dan Silicon Valley.

Sementara itu, Nezar menilai data mengenai kapasitas dan persebaran pusat data di sejumlah negara tidak selalu mudah diperoleh. Sebab, infrastruktur tersebut semakin berkaitan dengan kepentingan strategis dan ketahanan suatu negara dalam menguasai teknologi.

“Ini sudah menjadi infrastruktur yang strategis. Infrastruktur yang berkaitan dengan soal resiliensi dari satu nation dalam menguasai teknologi ini,” katanya.

Karena itu, pengembangan pusat data tidak cukup hanya mengejar peningkatan kapasitas. Pemerintah juga perlu menyiapkan mekanisme pengamanan atau safeguard agar pembangunan infrastruktur tersebut berjalan secara berkelanjutan dan mendukung kepentingan nasional.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Lestari Moerdijat Dorong SMK NU Banat Kudus Cetak Desainer Berdaya Saing Global
• 15 jam lalu
0
thumb
Prabowo Sebut 22 RS Daerah Rampung Dibangun, 90 Ribu Sekolah Sudah Direnovasi
• 45 menit lalu
0
thumb
Kabut Asap Karhutla Bikin Minibus Tabrak Pembatas Jalan di Bundaran Nol Kilometer Sampit
• 15 jam lalu
0
thumb
Peringati Hari Santri Nasional, 1 Juta Liter Air Disalurkan ke Daerah Terdampak Kekeringan dan Karhutla
• 15 jam lalu
0
thumb
Viral Iron Man Lerai Pengendara Mobil Cekcok di Kelapa Gading, Polisi Pastikan Tak Ada Korban
• 23 jam lalu
0
Berhasil disimpan.