BMKG Catat 3.794 Titik Panas di Kalimantan Tengah, Karhutla Masih Perlu Diwaspadai

kompas.tv
4 jam lalu
Cover Berita
Ilustrasi. Sejumlah petugas berupaya memadamkan karhutla yang terjadi di kawasan Gunung Bromo pada September 2026 lalu. (Sumber: Antara/HO BPBD Probolinggo)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Ribuan titik panas terdeteksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di sejumlah wilayah Indonesia di tengah cuaca panas dan relatif kering pada Oktober 2026. Kalimantan Tengah mencatat jumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi terbanyak selama 10 hari terakhir, yakni mencapai 3.794 titik.

BMKG juga mencatat suhu maksimum mencapai 39,2 derajat Celsius di Lampung pada 21 Oktober 2026. Kondisi panas dan minimnya curah hujan dapat mempercepat pengeringan vegetasi sehingga meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Baca Juga: BMKG: Titik Panas di Kalimantan Tengah Melonjak Jadi 937, Suhu Jawa Barat Capai 38,5 Derajat Celcius

Selain Kalimantan Tengah, jumlah titik panas yang tinggi juga terpantau di Sumatera Selatan dan Papua Selatan. Sebaran asap pun masih terdeteksi di sejumlah wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Kalimantan Tengah Catat 3.794 Titik Panas

Dalam rilis, Kamis (22/10/2026), BMKG berdasarkan pemantauan selama 10 hari terakhir, Kalimantan Tengah mencatat 3.794 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi. Jumlah tersebut menjadi yang terbanyak dibandingkan wilayah lain dalam data yang disampaikan.

Sumatera Selatan menempati urutan berikutnya dengan 1.595 titik panas, disusul Papua Selatan sebanyak 1.516 titik.

Tingginya jumlah titik panas tersebut perlu menjadi perhatian dalam upaya mengantisipasi karhutla, terutama ketika kondisi lahan relatif kering.

BMKG juga mendeteksi sebaran asap di sejumlah wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. 

"Kondisi ini memperkuat pentingnya kewaspadaan terhadap potensi karhutla di wilayah terdampak," tulis BMKG.

Meski demikian, titik panas yang terdeteksi satelit tidak otomatis menunjukkan jumlah kebakaran yang telah terkonfirmasi. Data tersebut merupakan indikasi anomali panas yang perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan lebih lanjut.

Baca Juga: Solo Documentary Film Festival 2026 Ajak Penonton Donasi Penanganan Karhutla, Usung Tema

Suhu Lampung Tembus 39,2 Derajat Celsius

Kondisi panas masih mewarnai sejumlah wilayah Indonesia pada pertengahan Oktober 2026. BMKG mencatat suhu udara maksimum mencapai 39,2 derajat Celsius di Lampung dan 39 derajat Celsius di Jawa Barat pada 21 Oktober 2026.

Sementara itu, Kalimantan Selatan mencatat suhu maksimum 38,7 derajat Celsius pada 20 Oktober 2026.

BMKG menjelaskan, minimnya tutupan awan dan terbatasnya curah hujan terjadi di tengah pengaruh El Niño sangat kuat serta Indian Ocean Dipole (IOD) positif.

Berkurangnya tutupan awan memungkinkan lebih banyak radiasi Matahari mencapai permukaan Bumi pada siang hari. Sementara itu, terbatasnya hujan dapat mempercepat penurunan kadar air pada vegetasi.

Kondisi tersebut membuat bahan bakar alami, seperti rumput, semak belukar, dan vegetasi kering, lebih rentan terbakar apabila terdapat sumber penyalaan.

Karena itu, cuaca panas dan kering perlu dicermati bersama perkembangan titik panas, khususnya di wilayah yang mencatat jumlah hotspot tinggi.

Hujan Lebat hingga Ekstrem Masih Terjadi di Sejumlah Daerah

Baca Juga: BNPB Sampaikan Perkembangan Karhutla, Total Kasus ISPA 333.470

Di tengah kondisi panas dan relatif kering di sejumlah wilayah, beberapa daerah di Indonesia tetap mengalami hujan lebat hingga ekstrem pada 19–21 Oktober 2026.

BMKG mencatat curah hujan harian mencapai 190,6 milimeter di Sumatera Utara, 130,7 milimeter di Sumatera Barat, dan 119 milimeter di Aceh.

Curah hujan juga tercatat sebesar 83 milimeter di Kalimantan Barat dan 78 milimeter di Papua Tengah.

Hujan tersebut didukung sejumlah faktor atmosfer, antara lain aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, dan Gelombang Mixed Rossby-Gravity (MRG). Perlambatan dan pertemuan angin serta suhu muka laut yang relatif hangat juga mendukung pertumbuhan awan konvektif.

Pengaruh faktor-faktor tersebut terutama terlihat di Sumatera bagian utara dan barat serta sebagian Kalimantan.

Perbedaan kondisi tersebut menunjukkan bahwa hujan tidak turun secara merata di seluruh Indonesia. Hujan lebat di satu wilayah tidak serta-merta menghilangkan kondisi kering di wilayah lain.

Dengan demikian, risiko karhutla tetap perlu diwaspadai di daerah yang mengalami keterbatasan curah hujan dan pengeringan vegetasi, meskipun hujan signifikan masih terjadi di sejumlah bagian Indonesia.

Masyarakat dapat memantau perkembangan cuaca dan informasi resmi terkait kondisi atmosfer melalui kanal BMKG untuk mengantisipasi perubahan cuaca dan risiko yang menyertainya. 

Baca Juga: Kabut Asap Karhutla di Sampit Picu Kecelakaan, Mobil Minibus Tabrak Bundaran Titik 0 KM

Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.

Penulis : Rizky L Pratama Editor : Desy-Afrianti

Sumber : Kompas TV

Tag
  • BMKG
  • karhutla
  • titik panas
  • Kalimantan Tengah
  • cuaca panas
  • El Nino
Selengkapnya


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
TJ Dillashaw Ungkap Kunci Kemenangan Petr Yan vs Merab Dvalishvili di UFC 333, Jagokan Siapa?
• 19 jam lalu
0
thumb
Jadwal Layanan SIM Keliling di Jakarta Hari Ini 23 Oktober 2026, Jangan Lupa Perpanjang!
• 12 jam lalu
0
thumb
Akui Kurang Puas Hanya Bawa Pulang Medali di Asian Para Games 2026, Fredy Setiawan Kini Bidik Paralimpiade
• 2 jam lalu
0
thumb
BNGA Diterpa Rumor Delisting, Simak 27 Saham Bank Free Float di Bawah 15 Persen
• 8 jam lalu
0
thumb
Aung San Suu Kyi Diizinkan Telepon Putranya untuk Pertama Kali dalam 5 Tahun Terakhir
• 17 jam lalu
0
Berhasil disimpan.