IHSG Berpeluang Menguat Terbatas di Pekan Depan

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Indeks Harga Saham Gabungan berpeluang melanjutkan penguatan pada pekan depan setelah bangkit dari tekanan tajam. Namun, pelemahan rupiah dan risiko gejolak pasar global membayangi pemulihan bursa, sehingga ruang kenaikan indeks diperkirakan terbatas dan rentan diikuti aksi ambil untung.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan perdagangan Jumat (23/10/2026) dibuka pada level 5.397,34, naik 0,18 persen dari penutupan Kamis (22/10/2026). Dalam sepekan ini, IHSG bahkan sempat menyentuh level tertinggi 5.452,77.

Meski demikian, penguatan tersebut belum mengembalikan IHSG ke posisi sebelum tekanan pasar membesar. Pada 15 Oktober 2026, IHSG ditutup pada level 5.863,78. Pasar masih dibayangi kekhawatiran setelah penyedia indeks global MSCI memperingatkan potensi penurunan status pasar saham Indonesia menjadi standalone market.

Baca JugaImbas MSCI, Rupiah Tembus Rp 18.000

Indikasi penguatan IHSG berlangsung di tengah upaya regulator memulihkan kepercayaan investor dan menjaga stabilitas pasar modal. Namun, pergerakan saham yang menguat belum cukup menghapus kekhawatiran investor terhadap prospek pasar saham Indonesia.

Di pasar valuta asing, rupiah justru bergerak melemah. Rupiah dibuka pada level Rp 18.070 per dollar AS, melemah 0,06 persen dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di Rp 18.060 per dollar AS. Dibandingkan dengan penutupan Senin (19/10/2026) di Rp 18.046 per dollar AS, rupiah telah melemah sekitar 0,13 persen.

Perbedaan arah pergerakan saham dan rupiah menunjukkan bahwa pemulihan pasar keuangan belum merata. IHSG mulai bangkit, tetapi rupiah masih menghadapi tekanan. Kondisi ini mengindikasikan bahwa optimisme investor di pasar saham belum serta-merta diikuti meredanya tekanan terhadap nilai tukar.

Analisa Pasar Modal Hans Kwee menyampaikan proyeksi IHSG sepekan depan akan melanjutkan pemulihan dengan kecenderungan menguat secara terbatas. Ia mengatakan keadaan IHSG yang konsisten bertahan di atas level 5.200 menunjukkan kemampuan pasar lokal menyerap likuiditas sangat stabil.

“Pekan depan akan menjadi fase konsolidasi sangat sehat bagi bursa, investor disarankan untuk fokus pada kualitas fundamental emiten dan dividen, serta memanfaatkan momentum koreksi wajar utntuk melakukan akumulasi bertahap pada saham-saham core holdings (saham jangkar),” ujar Hans.

Hans memperkirakan sektor yang berpotensi menguat merujuk pada tiga sektor. Sektor pertama merujuk pada perbankan papan atas, telokumunikasi, serta energi dan pertambangan. Hal ini di dorong oleh valuasi saham menguat daya beli masyarakat dalam inflasi rendah, serta penguatan harga komoditas global.

Sebaliknya, Hans menyampaikan saham sektor properti berpotensi melemah akibat sensitivitas terhadap suku bunga dan penyaluran kredit perbankan. Saham lapis kedua dan ketiga juga berisiko tertinggal karena investor cenderung menghindari saham dengan fundamental lemah, valuasi terlalu tinggi, dan transparansi kepemilikan yang terbatas.

Berpotensi tertekan

David Sumual Chief Economist PT Bank Central Asia menilai penguatan IHSG dalam sepekan ke depan masih berpotensi berlanjut, tetapi ruang kenaikannya cenderung terbatas. Salah satu risiko berasal dari kecenderungan investor global kembali menghindari aset berisiko (risk-off), yang ditandai oleh aksi jual saham-saham teknologi di Amerika Serikat.

Kenaikan harga minyak dunia turut meningkatkan kekhawatiran terhadap prospek inflasi global. David menyampaikan tekanan inflasi tersebut dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), termasuk kemungkinan kenaikan suku bunga pada akhir tahun, sehingga berpotensi mengurangi daya tarik aset berisiko.

Ke depan, isu-isu global itu menjadi faktor risiko yang harus kita perhatikan. Itu bisa menjadi alasan bagi investor untuk kembali melepas saham-saham di emerging market. Indonesia juga termasuk, bisa terjadi seperti itu

David juga menyoroti kenaikan inflasi di sejumlah negara, termasuk Jepang, yang mencatatkan inflasi sebesar 2,1 persen secara tahunan pada September. Kombinasi kenaikan harga energi dan tekanan inflasi global dapat memperbesar ketidakpastian pasar serta mendorong investor kembali mengurangi kepemilikan saham di pasar negara berkembang.

“Ke depan, isu-isu global itu menjadi faktor risiko yang harus kita perhatikan. Itu bisa menjadi alasan bagi investor untuk kembali melepas saham-saham di emerging market. Indonesia juga termasuk, bisa terjadi seperti itu,” ujar David.

David menyampaikan enguatan IHSF beberapa hari terakhir antara lain didorong oleh sentimen positif dari kebijakan otoritas bursa serta peluang pemulihan teknikal (technical rebound) setelah harga saham mengalami penurunan cukup dalam. Namun, isu-isu global yang ia sampaikan dapat menjadi faktor risiko yang perlu diperhatikan kedepannya.

Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, memproyeksikan IHSG akan terus meningkat pada pekan depan. Ini berkaca dari tren kenaikan indeks yang sudah cukup tinggi dibandingkan level terendah sebelumnya.

”Apabila IHSG sampai pada level 5.700, saya rasa ada rentang pengambilan keuntungan (profit taking), tapi memang ini semuanya sedang di dorong oleh pemain (institusi) lokal", ujarnya.

Meskipun institusi serta perusahan retail lokal sudah mulai masuk ke pasar modal, Fakhrul melanjutkan, depresiasi rupiah menunjukkan pasar keuangan domestik rentan terhadap arus modal keluar. Kondisi ini akan membuat bagi Bank Indonesia mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunga acuan pada bulan berikutnya.

Menurut Fakhrul, ia memperkirakan penguatan pasar saham berpotensi berlangsung secara luas (broad-based), dengan sektor komoditas dan saham yang menawarkan imbal hasil dividen tinggi menjadi pilihan investor.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Survei Voxpol: 63,3% Publik Menilai Prabowo Mampu Pimpin Pemerintahan
• 18 jam lalu
0
thumb
Bikin Terperanjat di Sidang, Dokter Tifa Soroti Tanda Tangan Saksi Ini yang Nyaris Mirip Jokowi
• 8 jam lalu
0
thumb
Jutaan Upaya Hacker Dideteksi, Bank hingga Pemerintah Jepang dan Eropa Terdampak
• 17 jam lalu
0
thumb
Bareskrim Bongkar Judi Online Bermodus Permainan di Jakbar
• 16 jam lalu
0
thumb
TPG Guru Non-ASN Sudah Cair 75 Persen, Kemendikdasmen Targetkan Penyaluran Tuntas Akhir Oktober 2026
• 21 jam lalu
0
Berhasil disimpan.