CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Di tengah hiruk pikuk lalu lintas Jalan Dr. Ratulangi, berdiri kompleks bangunan tua yang menopang kebutuhan air warga Makassar selama hampir seratus tahun. Warga mengenalnya sebagai PDAM, tetapi di masa kolonial tempat ini dikenal sebagai Hamente Waterleiding.
Mengutip laman resmi PDAM Kota Makassar, kisahnya bermula pada 1924. Pemerintah Hindia Belanda membangun Instalasi Pengolahan Air (IPA) I Ratulangi dengan nama Waterleidjding Bedrijf, berkapasitas terpasang 50 liter per detik. Pada masa pendudukan Jepang, kapasitasnya digandakan menjadi 100 liter per detik. Artinya saat ini gedung tersebut telah berusia lebih dari 100 tahun.
Air bakunya berasal dari Sungai Jeneberang, sekitar 7 km di selatan kota. Air itu dialirkan lewat saluran tertutup menuju instalasi, diolah, lalu didistribusikan ke rumah-rumah warga.
Catatan Sistem Informasi Cagar Budaya (Simcabud) Kota Makassar menyebut menara air yang menjulang ini dibangun pada 1920. Lokasinya dulu berada di ruas jalan bernama Gowaweg, yang kini kita kenal sebagai Jalan Ratulangi. Kompleksnya terdiri dari 8 gedung pengolahan air bersih, dan fungsinya tidak berubah sejak pertama dibangun: mengolah dan mendistribusikan air untuk warga kota.
Tak hanya soal air, menara ini juga menyimpan kisah yang beredar dari mulut ke mulut. Konon, pada masa perjuangan kemerdekaan, tentara KNIL memanfaatkan ketinggian menara untuk membidik para pejuang yang bergerilya di Makassar. Kisah ini bersifat tutur (konon), sehingga layak dicatat sebagai bagian dari memori kolektif kota.
Jarang ada bangunan bersejarah yang masih menjalankan tugas aslinya. Menara dan instalasi Ratulangi membuktikan bahwa cagar budaya tidak harus berhenti menjadi museum: ia bisa tetap bekerja, dari era kolonial hingga hari ini.





Komentar (0)