REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat menimbulkan kerugian ekonomi hingga ratusan triliun rupiah dengan dampak lingkungan dan kesehatan yang berlangsung dalam jangka panjang. Kerusakan ekosistem gambut bahkan berpotensi menghilangkan cadangan karbon yang membutuhkan waktu ribuan tahun untuk terbentuk kembali.
Direktur Peringatan Dini Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Berton Penjaitan mengatakan, dampak karhutla tidak terbatas pada kerusakan hutan dan lahan. Kebakaran juga dapat mengganggu kesehatan masyarakat, keselamatan jiwa, transportasi, serta berbagai layanan penting.
Baca Juga
Asap Karhutla Makin Meluas, Ribuan Penerbangan Terdampak
Bantuan Asing Soal Karhutla, BNPB Berdalih Masih Inventarisasi
Waspada, Karhutla di Kalsel Dekati Kediaman Warga
“Risiko-risiko ini sangat besar dan sebagian dampaknya bersifat jangka panjang, terutama terhadap kesehatan. Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 serta berbagai polutan yang dapat bertahan lama di tubuh manusia," kata Berton dalam webinar bertajuk “Menakar Kerugian Ekonomi Kebakaran Hutan dan Lahan”, Kamis (22/10/2026).
Kegiatan tersebut diselenggarakan Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan LRI i-MAR IPB bersama Masyarakat Ahli Valuasi Ekonomi Indonesia (MAVEIN), Jenggala, dan Kama Institute.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Berton menjelaskan, paparan partikel halus dari asap karhutla dapat menyebabkan iritasi mata dan gangguan pernapasan. Paparan tersebut juga berpotensi memperburuk penyakit jantung dan paru-paru hingga meningkatkan risiko kematian dini pada kondisi tertentu.
Dari sisi ekonomi, Benny Osta Nababan dari Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan LRI i-MAR IPB mengatakan, penghitungan kerugian karhutla perlu mencakup kerusakan aset, kehilangan produksi, dan jasa ekosistem. Komponen lainnya meliputi biaya kesehatan serta pengeluaran untuk pemadaman dan pemulihan lingkungan.
“Kerugian ekonomi akibat karhutla dapat dihitung. Namun, ketepatan perhitungan bergantung pada kelengkapan data, cakupan dampak, metode valuasi, dan periode waktu yang digunakan,” kata Benny.
Benny mencontohkan kebakaran besar yang terjadi di Indonesia pada 2015. Berdasarkan perhitungan Bank Dunia yang dipaparkannya, kerugian akibat karhutla saat itu mencapai 16,1 miliar dolar AS atau sekitar Rp221 triliun.
Nilai tersebut mencakup kerugian sektor pertanian, kehutanan, perdagangan, pariwisata, transportasi, kesehatan jangka pendek, pemadaman, dan lingkungan. Sementara itu, penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications memperkirakan kerugian mencapai 28 miliar dolar AS setelah memperhitungkan komponen tambahan, termasuk emisi karbon dan dampak kesehatan jangka panjang.
Menurut Benny, perhitungan kerugian dapat menjadi dasar untuk menentukan manfaat ekonomi dari upaya pencegahan. Dengan mengetahui besarnya potensi kerugian, pemerintah dan pemangku kepentingan dapat mempertimbangkan langkah yang diperlukan sebelum kebakaran terjadi.
“Dengan menghitung potensi kerugian ini, harapannya kita dapat menjawab bukan hanya berapa kerugian yang terjadi, tetapi juga berapa besar kerugian yang dapat dihindari apabila langkah pencegahan dilakukan sejak sekarang,” ujar Benny.
Sementara itu, pakar perubahan iklim dan kehutanan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) Nisa Novita menilai tantangan pengendalian karhutla terletak pada penerjemahan informasi peringatan dini menjadi tindakan pencegahan. Menurut dia, perkembangan ilmu pengetahuan telah memungkinkan pemantauan iklim dan identifikasi wilayah rawan kebakaran dilakukan dengan lebih akurat.
“Jika potensi kejadian karhutla dengan risiko tinggi dapat diprediksi, maka pertanyaan pentingnya adalah mengapa kita masih kesulitan menerjemahkan peringatan dini tersebut menjadi tindakan pencegahan yang efektif di lapangan. Hal ini menunjukkan masih adanya kesenjangan antara peringatan dini dan aksi dini, serta kurangnya koordinasi dan respons yang tepat waktu dari para pemangku kepentingan terkait,” ujar Nisa.
Nisa menjelaskan, kerugian karhutla juga perlu dilihat dari dampaknya terhadap ekosistem gambut. Kebakaran berulang pada lahan yang mengalami drainase dan kekeringan dapat mengurangi kemampuan gambut untuk pulih.
“Jika suatu kawasan terus mengalami drainase, kekeringan, dan kebakaran berulang, gambut bisa kehilangan kemampuan untuk pulih. Kita berisiko kehilangan secara permanen karbon yang tersimpan selama ribuan tahun. Karena itu, kebakaran gambut sangat serius. Yang hilang bukan hanya vegetasi yang masih dapat tumbuh kembali dalam beberapa dekade, tetapi juga cadangan karbon tanah purba yang membutuhkan waktu ribuan tahun untuk terbentuk,” kata Nisa.
Karena itu, pengendalian karhutla membutuhkan langkah pencegahan yang tidak hanya berfokus pada pemadaman saat kebakaran terjadi. Penguatan sistem peringatan dini, pengelolaan tata air gambut, dan koordinasi antarpemangku kepentingan dinilai penting untuk mengurangi potensi kerugian ekonomi, kesehatan, dan lingkungan dalam jangka panjang.
Komentar (0)