Pantau - Pemerintah Prancis melarang seluruh demonstrasi di Marseille dan wilayah Bouches-du-Rhône pada Sabtu (24/10/2026), menyusul rencana aksi besar-besaran gerakan Rompi Kuning yang memprotes kenaikan biaya hidup dan berbagai persoalan sosial.
Kepala Prefektur Bouches-du-Rhône, Jacques Witkowski, mengumumkan kebijakan tersebut pada Kamis (22/10/2026) dengan alasan keamanan dan kebutuhan menjaga ketersediaan personel aparat.
Larangan tersebut mencakup seluruh demonstrasi, baik yang telah mendapatkan pemberitahuan resmi maupun yang belum didaftarkan kepada otoritas.
Selain melarang demonstrasi, pemerintah setempat memperluas pemberlakuan jam malam dan menghentikan seluruh layanan transportasi umum di wilayah metropolitan Marseille selama 24 jam.
Kebijakan itu diumumkan setelah koordinator gerakan Rompi Kuning menyerukan demonstrasi nasional pada 24 Oktober 2026.
Seluruh Demonstrasi di Marseille Dilarang pada 24 OktoberKepala Prefektur Jacques Witkowski menegaskan bahwa larangan demonstrasi berlaku di seluruh wilayah administratif Bouches-du-Rhône, termasuk Marseille.
Kebijakan tersebut tidak hanya menyasar aksi protes terkait kenaikan harga dan daya beli masyarakat, tetapi juga demonstrasi dengan tuntutan lainnya.
"Seluruh demonstrasi, baik yang telah diberitahukan secara resmi maupun tidak, akan dilarang di seluruh departemen, termasuk aksi yang tidak berkaitan dengan daya beli masyarakat," kata Witkowski dalam pernyataan yang dikutip penyiar Prancis BFMTV.
Menurut Witkowski, keputusan tersebut diambil karena "alasan keamanan yang jelas" dan untuk memastikan jumlah personel keamanan tetap memadai.
Presiden Prancis Emmanuel Macron juga mengumumkan larangan demonstrasi yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu dan hari-hari berikutnya.
Namun, larangan yang diumumkan Macron memberikan pengecualian bagi aksi demonstrasi yang diselenggarakan oleh serikat pekerja.
Pengumuman tersebut muncul menjelang rencana mobilisasi massa secara nasional yang diserukan gerakan Rompi Kuning.
Jam Malam Diperluas untuk Seluruh Warga MarseilleSelain membatasi kegiatan demonstrasi, otoritas setempat mengubah ketentuan jam malam di Marseille dan sejumlah kota lainnya mulai Sabtu (24/10/2026).
Sebelumnya, aturan jam malam hanya diberlakukan bagi anak-anak di bawah umur pada pukul 22.00 hingga 05.00 waktu setempat.
Melalui ketentuan baru, jam malam berlaku bagi seluruh masyarakat tanpa membedakan kelompok usia.
Waktu pemberlakuan jam malam juga diubah menjadi pukul 23.00 hingga 05.00 waktu setempat.
Aturan tersebut dijadwalkan berlaku hingga Senin (26/10/2026) pagi.
Perubahan ketentuan jam malam merupakan bagian dari langkah pengamanan menjelang rencana demonstrasi besar pada akhir pekan.
Transportasi Umum Marseille Dihentikan Selama 24 JamPemerintah setempat juga menetapkan penghentian seluruh layanan transportasi umum di wilayah metropolitan Marseille.
Penghentian layanan dimulai pada Sabtu (24/10/2026) pukul 05.00 waktu setempat.
Operasional transportasi umum dijadwalkan kembali setelah masa penghentian berakhir pada Minggu (25/10/2026) pukul 05.00 waktu setempat.
Dengan demikian, seluruh layanan transportasi umum di kawasan metropolitan Marseille akan dihentikan selama 24 jam.
Kebijakan tersebut diberlakukan bersamaan dengan larangan demonstrasi dan perluasan jam malam.
Langkah pengamanan itu diambil ketika otoritas Prancis bersiap menghadapi kemungkinan mobilisasi massa pada akhir pekan.
Aksi Protes di Prancis Bermula dari Tuntutan PelajarGelombang demonstrasi di Prancis bermula pada pertengahan September 2026 ketika sejumlah pelajar sekolah menengah turun ke jalan di kawasan pinggiran Paris.
Para pelajar menggelar aksi untuk menuntut perbaikan kondisi sekolah.
Seiring perkembangannya, demonstrasi meluas setelah masyarakat turut menyuarakan keberatan terhadap kenaikan harga dan biaya hidup.
Aksi protes kemudian menyebar ke berbagai wilayah Prancis dengan tuntutan yang semakin beragam.
Persoalan harga bahan bakar, daya beli masyarakat, dan pendanaan pendidikan menjadi bagian dari isu yang disuarakan para demonstran.
Mobilisasi tersebut mencapai salah satu puncaknya pada Sabtu (17/10/2026) ketika demonstrasi berlangsung secara nasional.
Demonstrasi 17 Oktober Diikuti Sekitar 550 Ribu OrangKementerian Dalam Negeri Prancis mencatat sekitar 550 ribu orang mengikuti demonstrasi nasional pada 17 Oktober 2026.
Aksi tersebut menjadi demonstrasi terbesar dalam rangkaian protes yang berlangsung sejak September.
Dalam demonstrasi itu, terjadi bentrokan antara aparat keamanan dan sejumlah pengunjuk rasa.
Petugas penegak hukum menggunakan gas air mata, granat kejut, dan meriam air untuk menghadapi demonstran.
Setelah aksi tersebut, koordinator gerakan Rompi Kuning kembali menyerukan masyarakat di seluruh Prancis untuk mengikuti demonstrasi pada 24 Oktober.
Menjelang aksi lanjutan itu, pemerintah Prancis memperketat pengamanan melalui larangan demonstrasi, pembatasan aktivitas malam hari, dan penghentian transportasi umum di Marseille.





Komentar (0)