Rupiah Loyo Lagi! Dolar AS Tembus Rp18.074, Ini Faktor yang Membayangi Kurs Hari Ini

viva.co.id
1 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada perdagangan Jumat, 23 Oktober 2026. Mata uang Garuda turun 14 poin atau 0,08 persen ke level Rp18.074 per dolar AS, melanjutkan tekanan yang terjadi pada perdagangan sebelumnya.

Pelemahan rupiah ini terjadi setelah mata uang domestik ditutup melemah 38 poin atau 0,21 persen pada Kamis, 22 Oktober 2026. Saat itu, rupiah berakhir di level Rp18.060 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya sebesar Rp18.022 per dolar AS.

Baca Juga :
Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Rp 18.033 per Dolar AS
Rupiah Hari Ini Bertahan di Rp17.992 per Dolar AS, Bagaimana Pengaruh Kebijakan The Fed?

Pergerakan nilai tukar tersebut menjadi perhatian pelaku pasar di tengah kebijakan Bank Indonesia (BI) yang berupaya menjaga likuiditas rupiah dan mempertahankan stabilitas perekonomian. Di sisi lain, keputusan bank sentral mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen turut menjadi bagian dari perkembangan kebijakan moneter yang dicermati pasar.

Rupiah Melemah Dua Hari Berturut-turut

Tekanan terhadap rupiah berlanjut dalam dua perdagangan terakhir. Pada Kamis, rupiah terkoreksi 38 poin sebelum kembali melemah 14 poin pada pembukaan perdagangan Jumat.

Dengan posisi Rp18.074 per dolar AS, rupiah bergerak lebih lemah dibandingkan penutupan perdagangan sehari sebelumnya. Perkembangan ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang domestik masih berlangsung di tengah dinamika pasar keuangan.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan pergerakan rupiah berlangsung di tengah kebijakan makroprudensial BI yang diarahkan untuk mendukung likuiditas di sektor perbankan.

“BI melanjutkan kebijakan makroprudensial untuk mendukung likuiditas rupiah, termasuk menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) dan memperpanjang kebijakan LTV/FTV,” kata Josua, dikutip Antara pada Kamis, 22 Oktober 2026.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya BI menjaga ketersediaan likuiditas rupiah di tengah perkembangan kondisi ekonomi dan pasar keuangan.

BI Longgarkan GWM untuk Perkuat Likuiditas Rupiah

Salah satu kebijakan yang ditempuh BI adalah menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) secara rata-rata sebesar 2 persen. Langkah ini ditujukan untuk memperkuat kecukupan likuiditas rupiah di sektor perbankan.

Secara terperinci, ketentuan GWM bagi bank umum konvensional (BUK) diturunkan dari 9 persen menjadi 7 persen. Sementara itu, GWM bagi bank umum syariah (BUS) dan unit usaha syariah (UUS) turun dari 7,5 persen menjadi 5,5 persen.

Baca Juga :
Rupiah Menguat Tipis, Rencana BEI Singkirkan 80 Saham HSC dari IHSG Jadi Sorotan
Rupiah Menguat ke Rp18.015 per Dolar AS, Pasar Masih Cermati Arah Suku Bunga The Fed
Rupiah Kembali Loyo, Isu MSCI hingga Harga Minyak Jadi Beban

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Indonesia-Australia perkuat kerja sama di bidang hukum dan keamanan
• 22 jam lalu
0
thumb
Walkout Terus tapi Semeja Terus: Ke Mana Arah Diplomasi Indonesia terhadap Palestina?
• 23 jam lalu
0
thumb
Blak-blakan! Saksi Dumatno Ungkap Hubungan Keluarga dengan Jokowi di Sidang Kasus Ijazah
• 19 jam lalu
0
thumb
Parekraf gandeng 40 kreator konten promosikan wisata Pecinan Glodok
• 8 jam lalu
0
thumb
Kabut Asap Makin Pekat, Jarak Pandang di Kotawaringin Timur di Bawah 20 Meter
• 22 jam lalu
0
Berhasil disimpan.