Sejak di Jakarta diberlakuan Peraturan Gubernur Nomor 77 Tahun 2020 yang isinya tentang pilah sampah dari rumah, sampah anorganik diharapkan sebisa mungkin berkurang mulai dari hulu. Langkah ini dimulai di tingkat rumah tangga atau bank sampah yang dikelola warga. Keberadaan bank sampah kemudian menjadi penting sebagai katalisator untuk mengurangi sampah residu yang terbuang ke Tempat Pemrosesan Akhir Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat.
Dadang (54), Ketua RW 001 Kelurahan Karet Kuningan, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan, tengah memilah sampah plastik di Bank Sampah Anggrek yang ia kelola bersama pengurus, Kamis (22/10/2026). Sampah dari warga nasabah bank sampah yang masih tercampur antara plastik kresek dan bahan lain disortir terlebih dahulu.
Bank sampah yang ia kelola sejak tiga tahun lalu itu rata-rata menerima sekitar 10 kilogram sampah plastik kresek per bulan dari warga. Sejak pemberlakuan pergub pemilahan sampah, inisiatif untuk mengurangi sampah plastik ini pun timbul.
Dadang mulai meriset secara otodidak tentang cara memroses sampah plastik menjadi bahan yang berguna. Ia kemudian mencoba membuat proses penyulingan sampah plastik (pirolisis). Bahan-bahan untuk membuat mesin pirolisis ini kemudian pelan-pelan ia kumpulkan dan dirakit menjadi mesin penyuling sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM).
”Sesuai imbauan pergub, gimana caranya di wilayah, pemangku wilayah itu kalau bisa sampah dikit demi sedikit bisa diolah. Contohnya sampah anorganik. Nah, sekarang ini ada kendala, yaitu di bank sampah itu penumpukan masalah plastik. Kami bank sampah RW 001 mencoba jalan alternatif, yaitu pengurangan sampah plastik agar di wilayah bisa teratasi. Saya di sini mencobanya, ternyata, alhamdulillah, plastik yang susah terurai ini, dengan adanya kemauan dan keyakinan, insya Allah masalah sampah plastik bisa teratasi. Saya (menggunakan) proses pirolisis ini,” tutur Dadang.
Secara sederhana, pirolisis adalah proses degradasi termal tanpa oksigen. Material plastik tersebut dipanaskan pada suhu tinggi di ruang tertutup dengan kondisi minim atau tanpa udara. Sampah plastik yang dimasak tanpa oksigen ini meleleh dan berubah fase menjadi gas, lalu didinginkan kembali sehingga menghasilkan kondensat cair berupa minyak. Proses pirolisisi ini menghasilkan tiga produk utama, yaitu minyak cair yang menyerupai bahan bakar, gas pirolisis yang bisa dimanfaatkan kembali sebagai sumber panas, dan residu padat.
Metode pirolisis plastik ini menjadi teknik yang belakangan populer dan banyak digunakan sejumlah komunitas pemerhati lingkungan, termasuk bank sampah. Pirolisis dianggap sebagai solusi menjanjikan dalam dunia pengolahan sampah anorganik, terutama untuk limbah plastik yang sulit terurai secara alami seperti plastik kresek.
Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pada 2025 timbulan sampah nasional mencapai 25,14 juta ton. Dari 25,14 juta ton sampah tersebut, 20,49 persen atau lebih dari 5 juta ton merupakan sampah plastik.
Di tengah masalah sampah yang makin menumpuk, terutama pengolahan sampah anorganik, pendekatan seperti ini menarik perhatian karena menawarkan dua manfaat sekaligus, yakni mengurangi limbah dan menghasilkan energi alternatif. Studi tentang pemanfaatan limbah plastik menjadi bahan bakar menunjukkan bahwa plastik tertentu bisa dikonversi menjadi minyak cair dengan karakteristik yang cukup menjanjikan untuk sumber energi alternatif.
Pemanasan dilakukan Dadang dengan memanfaatkan drum bekas yang didesain menyerupai panci presto yang ditutup erat. Ia membeli sendiri drum bekas dari pengepul besi bekas seharga Rp 270.000. Dadang kemudian membuat tutup yang vakum dengan bantuan tukang las.
Drum yang berfungsi sebagai tabung instalator tersebut kemudian disambungkan dengan pipa besi yang mengalirkan uap hasil pemanasan plastik ke bejana pendingin yang direndam air menuju ke dua silinder vertikal. Pada ujung kedua silinder terpasang keran yang akan mengalirkan dua jenis bahan bakar cair hasil proses pirolisis.
Total instalasi pirolisis buatannya menghabiskan biaya Rp 2,5 juta. Satu drum penuh dapat menampung total sekitar 20 kilogram sampah plastik yang akan menghasilkan sekitar 16 liter bahan bakar cair dalam sekali proses. Drum dipanaskan dengan tungku kompor menggunakan gas tabung melon 3 kilogram. Proses ini memakan waktu 5 jam dari awal pemasakan plastik hingga menghasilkan minyak cair.
Minyak hasil penyulingan ini ia coba gunakan untuk bahan bakar mesin pencacah plastik dan gerobak motor untuk operasionalisasi bank sampah. Sejauh ini keduanya dapat beroperasi normal dengan bahan bakar sulingan itu tanpa keluhan.
Meski demikian, Dadang menggarisbawahi bahwa bahan bakar pirolisis dari plastik ini ia anggap hanyalah bonus atas langkah mengurangi dan mendaur ulang plastik. Poin terpenting dari inisiatif ini sampah plastik akhirnya dapat berkurang drastis.






Komentar (0)