Teheran (ANTARA) - Iran memantau aktivitas Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah dan siap menggunakan taktik baru dalam operasi balasan jika militer AS kembali melancarkan permusuhan terhadap Republik Islam, kata anggota parlemen Iran Feda Hossein Maleki.
"Kami memantau tindakan Amerika di kawasan dan sekitar Selat Hormuz. Kami telah menyampaikan kepada pihak AS bahwa jika mereka ingin memulai perang lagi, Iran akan menggunakan opsi baru," kata Maleki kepada RIA Novosti.
Menurut dia, opsi tersebut mencakup perubahan cara Iran menjalankan operasi, pendekatan taktis, serta penggunaan taktik baru dalam menghadapi AS.
Dia mengatakan pendekatan taktis baru tersebut "dapat mengejutkan" dunia dan para pakar militer, sebagaimana Iran sebelumnya mengejutkan dunia dengan kemampuan rudalnya.
Pada Rabu, NBC News melaporkan dengan mengutip sejumlah sumber bahwa AS secara bertahap mengevakuasi personel militer dan diplomatiknya dari Timur Tengah.
Langkah tersebut disebut serupa dengan tindakan yang dilakukan AS sebelum perang terhadap Iran dimulai pada Februari. Ketika dimintai tanggapan mengenai laporan penarikan personel tersebut, Pentagon menolak berkomentar kepada RIA Novosti.
AS dan Israel mulai menyerang sejumlah target di Iran pada 28 Februari, yang kemudian memicu serangan balasan dari Iran.
Pada pertengahan Juni, Teheran dan Washington menandatangani nota kesepahaman yang bertujuan menghentikan permusuhan. Namun, kedua pihak kembali saling melancarkan serangan tidak lama kemudian.
Hingga kini, konflik antara Iran dan AS tersebut masih belum terselesaikan.
Sumber: Sputnik
"Kami memantau tindakan Amerika di kawasan dan sekitar Selat Hormuz. Kami telah menyampaikan kepada pihak AS bahwa jika mereka ingin memulai perang lagi, Iran akan menggunakan opsi baru," kata Maleki kepada RIA Novosti.
Menurut dia, opsi tersebut mencakup perubahan cara Iran menjalankan operasi, pendekatan taktis, serta penggunaan taktik baru dalam menghadapi AS.
Dia mengatakan pendekatan taktis baru tersebut "dapat mengejutkan" dunia dan para pakar militer, sebagaimana Iran sebelumnya mengejutkan dunia dengan kemampuan rudalnya.
Pada Rabu, NBC News melaporkan dengan mengutip sejumlah sumber bahwa AS secara bertahap mengevakuasi personel militer dan diplomatiknya dari Timur Tengah.
Langkah tersebut disebut serupa dengan tindakan yang dilakukan AS sebelum perang terhadap Iran dimulai pada Februari. Ketika dimintai tanggapan mengenai laporan penarikan personel tersebut, Pentagon menolak berkomentar kepada RIA Novosti.
AS dan Israel mulai menyerang sejumlah target di Iran pada 28 Februari, yang kemudian memicu serangan balasan dari Iran.
Pada pertengahan Juni, Teheran dan Washington menandatangani nota kesepahaman yang bertujuan menghentikan permusuhan. Namun, kedua pihak kembali saling melancarkan serangan tidak lama kemudian.
Hingga kini, konflik antara Iran dan AS tersebut masih belum terselesaikan.
Sumber: Sputnik






Komentar (0)