Berlembar-lembar lamaran telah dikirim, puluhan lowongan telah dicoba, dan berbagai bursa kerja telah didatangi. Namun, pekerjaan yang diharapkan belum juga datang. Bagi ribuan pencari kerja yang memadati Karir Jakarta Tenaga Kerja Mandiri Expo 2026 di Jakarta, harapan itu belum padam.
Di antara antrean panjang dan ketatnya persaingan, mereka terus mengetuk pintu demi pekerjaan yang lebih pasti. Sekitar 3.000 pelamar memadati hari pertama ”Karir Jakarta Tenaga Kerja Mandiri Expo 2026” di UKM Gallery Convention Hall SMESCO, Jakarta Selatan, Kamis (22/10/2026).
Pameran kerja itu diselenggarakan selama dua hari hingga Jumat (23/10/2026). Ribuan orang mengantre dan memadati stan-stan perusahaan dari dalam maupun luar negeri sejak hari pertama. Acara ini diselenggarakan secara hibrida, yakni daring dan luring.
Salah satu yang mencari peruntungan dalam acara tersebut adalah Visi (22). Pencari kerja asal Cipayung, Jakarta Timur, ini baru beberapa bulan lulus kuliah dari bidang pertanian.
Menurut dia, lowongan kerja yang sesuai dengan keahliannya masih terbatas. Ia memimpikan bekerja sebagai agronomis atau di bidang perkebunan. Sudah berkali-kali ia melamar melalui berbagai cara. Namun, hingga kini pencariannya belum membuahkan hasil. ”Penginnya di bidang pertanian, tapi sekarang sambil mikir juga kalau mau lintas jurusan mau ke mana,” ujarnya.
Sebagai lulusan baru, salah satu yang paling dikhawatirkan Visi adalah tingginya kualifikasi lowongan kerja saat ini. Lowongan yang diklaim terbuka bagi lulusan baru, menurut dia, tidak selalu benar-benar ditujukan untuk pencari kerja tanpa pengalaman.
Ia kerap menemukan lowongan yang disebut terbuka bagi lulusan baru, tetapi dalam persyaratannya tetap tercantum pengalaman kerja minimal satu hingga dua tahun. ”Kadang mikir, mana sih lowongan fresh graduate yang benar-benar fresh,” ujarnya.
Visi merasa mencari pekerjaan saat ini sangat sulit. ”Sekarang fresh graduate lagi struggle, semoga ke depan banyak lowongan kerja yang dibuka khusus untuk kita,” ujarnya.
Sebagai sesama lulusan baru, Rachel (25), warga Tangerang Selatan, Banten, juga berburu pekerjaan di acara tersebut. Saat masih menjadi mahasiswa manajemen pemasaran, ia sempat bekerja paruh waktu di sebuah perusahaan penyelenggara acara. Setelah lulus, ia ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih stabil.
”Pekerja event itu musiman. Aku pengin yang lebih stabil. Posisi apa pun yang sesuai role manajemen,” katanya.
Setahun menganggur, setiap hari Rachel bergelut dengan tumpukan lamaran kerja, baik fisik maupun digital. Sudah ratusan kali ia mengirimkan lamaran melalui situs daring. Namun, hingga kini belum ada yang membuahkan hasil.
Persaingan kerja saat ini dirasakannya semakin ketat. ”Rasanya aku sudah improve banget, apa lagi ya yang kurang,” tuturnya.
Menurut Rachel, ketatnya persaingan memperoleh pekerjaan salah satunya disebabkan ketidakseimbangan antara jumlah lowongan dan pencari kerja. Ia kerap membayangkan satu posisi diperebutkan oleh ratusan pelamar. ”Sekarang lapangan kerja sama pelamar kerja itu jomplang, ya. Jadi persaingannya ketat banget,” ucapnya.
Ditemui di lokasi, petugas Seksi Informasi Pasar Kerja Dinas Ketenagakerjaan Provinsi DKI Jakarta, Vionita Devia Eka Apriliani (29), mengatakan, masih ada kesempatan bagi pencari kerja untuk mencoba peruntungan di acara tersebut.
Pelaksanaan secara daring berlangsung sejak 8 Oktober hingga 29 Oktober 2026. Adapun untuk luring, pada Jumat ini acara berlangsung pukul 09.00-16.00 WIB.
”Pencari kerja yang datang pada hari pertama mencapai lebih dari 3.000 orang. Tidak hanya dari kalangan usia produktif, beberapa peserta yang datang juga merupakan pelajar dan mahasiswa,” jelasnya.
Sebanyak 76 perusahaan mengikuti acara secara luring. Secara keseluruhan, ada 100 perusahaan yang berpartisipasi, baik secara daring maupun luring. Sebagian besar perusahaan bergerak di sektor perdagangan, konstruksi, dan industri pengolahan.
Dari 76 perusahaan yang hadir secara luring, 66 merupakan perusahaan dalam negeri dan 10 perusahaan luar negeri. Lowongan dari perusahaan luar negeri didominasi sektor perhotelan dan konstruksi dari sejumlah negara.
Selain menargetkan penyerapan tenaga kerja, panitia berharap peserta memperoleh informasi mengenai pelatihan, wawancara kerja, konseling karier, dan seminar ketenagakerjaan yang menghadirkan kalangan profesional untuk menunjang kesiapan peserta memasuki dunia kerja.
Badan Pusat Statistik mencatat tingkat pengangguran terbuka di Jakarta pada Mei 2026 sebesar 5,79 persen, turun 0,24 poin persentase dibandingkan dengan Februari 2026.
Secara nasional, BPS mencatat jumlah pekerja formal pada Mei 2026 sebanyak 60,31 juta orang atau 40,7 persen dari total penduduk bekerja. Sementara itu, pekerja informal mencapai 87,88 juta orang atau 59,3 persen. Dengan demikian, sekitar enam dari sepuluh penduduk bekerja berada di sektor informal.
Selain acara di SMESCO, sejumlah bursa kerja lain di Jakarta juga selalu dipadati pencari kerja. Salah satunya ialah Jakarta Timur Career Fest & Bazaar yang digelar pada 6-7 Oktober 2026.
Dimas Abadi (28), salah satu pelamar dalam acara tersebut, mengatakan, belum lama ini ia juga mengikuti kegiatan serupa di JIExpo Kemayoran. Ia berharap bisa memperoleh pekerjaan dengan penghasilan yang lebih pasti.
”Saya datang dengan penuh harapan semoga bisa cepat dapat kerja lagi. Semoga pemerintah sering-sering mengadakan acara seperti ini,” harapnya.
Jakarta Timur Career Fest & Bazaar dihadiri 1.189 pencari kerja. Namun, kehadiran di bursa kerja belum tentu langsung berujung pada pekerjaan. Setiap perusahaan masih harus menyeleksi pelamar sesuai kebutuhan dan persyaratan masing-masing.
Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri menilai, kesulitan memperoleh pekerjaan perlu dilihat dari dua sisi, yakni kemampuan pencari kerja dan ketersediaan lapangan kerja.
”Pelatihan tidak otomatis memperbesar peluang bekerja apabila kebutuhan perusahaan terhadap tenaga kerja tetap terbatas,” ujarnya.
Yose mendorong pemerintah memperbaiki iklim investasi dan kepastian berusaha agar aktivitas ekonomi berkembang serta membuka lebih banyak lapangan kerja berkualitas.






Komentar (0)