Tips Aman Lari Saat Kualitas Udara Buruk

republika.co.id
5 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kualitas udara Jakarta per Kamis (22/10/2026) pagi termasuk kategori tidak sehat dengan indeks AQI mencapai 160, menurut data IQAir. Kondisi ini menjadi tantangan bagi masyarakat urban yang gemar berolahraga di luar ruangan, terutama pelari.

Dokter sekaligus Sekretaris Jenderal Himpunan Fasyankes Dokter Indonesia (HIFDI) mengatakan kualitas udara yang tidak sehat perlu menjadi perhatian sebelum melakukan olahraga di luar ruangan. Pasalnya, aktivitas fisik seperti berlari dapat meningkatkan kebutuhan oksigen dan volume udara yang dihirup.

Baca Juga
  • Studi: Polusi Udara Bikin Waktu Finis Pelari Maraton Jadi Lebih Lambat, Kok Bisa?
  • Mengapa Denyut Jantung Naik padahal Kecepatan Lari Tetap? Ini Kata Dokter
  • 2 Tahun Prabowo-Gibran, Mahasiswa Semarang Soroti Karhutla: Bayi ISPA, Satwa Lari ke Luar Negeri

"Saat berlari, volume udara yang dihirup dapat meningkat lebih dari 10 kali lipat. Pelari juga cenderung bernapas melalui mulut sehingga penyaringan udara oleh hidung menjadi lebih terbatas," kata dr Putro saat dihubungi Republika, Kamis (22/10/2026).

Untuk mengurangi risiko paparan polusi, dr Putro menyarankan pelari mengurangi durasi dan intensitas latihan serta memperbanyak jeda istirahat. Jalan cepat juga dapat menjadi pilihan yang lebih baik dibandingkan jogging ketika kualitas udara kurang baik.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

"Waktu berolahraga yang disarankan adalah pukul 10.00 hingga 15.00. Tap tetap pantau kondisi kualitas udaranya karena dapat berubah sepanjang hari," kata dr Putro. Pesan ini juga disampaikan bertepatan dengan ulang tahun HIFDI yang dirayakan setiap 22 Oktober. 

Kualitas udara yang tidak menentu di Jakarta juga menjadi perhatian mengingat pada 24 dan 25 Oktober akan berlangsung Jakarta Running Festival. Agar bisa menyelesaikan race dengan aman, dr Putro mengimbau pelari untuk memeriksa kualitas udara sebelum race. Ia juga menyarankan peserta untuk menetapkan target finis yang aman dan tidak memaksakan diri mengejar catatan waktu.

Saat memulai lomba, pelari disarankan mengambil posisi di barisan belakang dan tidak langsung berlari dengan kecepatan tinggi pada dua kilometer pertama. Peserta juga dapat memanfaatkan pemeriksaan kesehatan di Expo sebelum perlombaan.

"Bagi pelari yang memiliki riwayat asma atau alergi, inhaler perlu dibawa sesuai kebutuhan. Selain itu, pelari disarankan menghindari sisi rute yang berdekatan dengan jalan raya besar untuk mengurangi paparan emisi kendaraan," kata dr Putro.

Pelari perlu mewaspadai sejumlah gejala yang muncul selama perlombaan, seperti batuk yang tidak biasa, dada terasa berat, napas berbunyi, sesak napas, kelelahan berlebihan, pusing, mual, hingga tenggorokan terasa panas. Jika mengalami gejala tersebut, pelari disarankan menghentikan aktivitas dan mencari bantuan di pos medis.

Gejala yang lebih serius, seperti nyeri dada yang menjalar, sesak napas yang tidak mereda meski sudah berhenti, bibir atau kuku membiru, serta kebingungan, membutuhkan penanganan medis segera. "Pelari yang mengalami tanda-tanda tersebut harus segera berhenti dan mencari pertolongan di pos medis, bukan memaksakan diri untuk menyelesaikan perlombaan," kata dr Putro. 

Dokter sekaligus figur publik dr Tirta Mandira Hudhi juga mengingatkan pelari agar tidak memaksakan diri mengejar personal best di tengah kondisi kualitas udara yang kurang baik. Dalam unggahan di Instagram, dr Tirta mengimbau pelari perlu memastikan kondisi tubuh benar-benar fit sebelum mengikuti perlombaan.

"Pastikan tubuh fit. Tidak sedang mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), demam, atau batuk," kata dr Tirta dalam unggahannya, dikutip pada Kamis (22/10/2026).

Ia juga menekankan pentingnya memenuhi kebutuhan cairan sejak lima hari sebelum perlombaan. Selain itu, menurut dr Tirta, pelari perlu memahami konsekuensi meningkatkan intensitas lari. Jika mulai mengalami sesak napas, pelari disarankan segera menurunkan kecepatan.

"Buat yang punya riwayat asma atau penyakit jantung, sebaiknya medical check up dulu sebelum mengikuti perlombaan," kata dia.

Jika kualitas udara buruk, suhu hangat, dan kelembapan tinggi, dr Tirta menyarankan pelari untuk mengurangi intensitas sejak awal lomba. Tujuannya agar detak jantung tidak meningkat terlalu tinggi, terutama bagi peserta kategori half marathon dan full marathon.

la menjelaskan, detak jantung yang terlalu cepat memasuki zona 4 dan 5 sejak awal perlombaan dapat membuat cadangan glikogen otot lebih cepat terkuras sehingga otot lebih cepat mengalami kelelahan. "Jika begitu, turunkan effort, meskipun sebenarnya pace mu di luar target," kata dr Tirta. 

la juga menegaskan bahwa kegagalan mencatatkan personal best dalam Jakarta Running Festival (JRF) bukanlah sesuatu yang perlu disesali. Karena ada sejumlah faktor yang tidak dapat dikendalikan pelari, seperti indeks kualitas udara, kelembapan, dan suhu.

"Jika nanti hasil race di JRF tidak Personal Best, tidak apa-apa. Bukan salahmu, bukan salah latianmu, bukan salah siapa-siapa. Apapun itu, rayakan. Selalu listen to your body sebelum push your limit. Karena finish sebaik-baiknya adalah finish di rumah bertemu keluarga," ujarnya.

 

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Program Rekening Gratis Sasar 25 Juta Jiwa, Butuh Anggaran Rp1,28 Triliun
• 21 jam lalu
0
thumb
Indonesia Jadi Tuan Rumah FIA Rallycross World Cup 2026
• 20 jam lalu
0
thumb
Polda Jatim Kerahkan Personel Bantu Padamkan Karhutla di Bromo
• 7 jam lalu
0
thumb
Gudang Vape Narkoba Berkedok Bengkel Digerebek Polisi
• 17 jam lalu
0
thumb
10 Hari Tak Ditemukan, Pencarian Jessica Korban Tenggelam di TN Komodo Ditutup
• 12 jam lalu
0
Berhasil disimpan.