Jakarta, VIVA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus memantau penyakit yang disebabkan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), mulai dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), pneumonia, hingga iritasi kulit di tujuh provinsi prioritas. Ketujuh provinsi tersebut adalah Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes Then Suyanti menjelaskan asap karhutla mengandung partikel halus PM2,5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta senyawa organik lainnya yang dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan.
"Kita juga melakukan pemantauan penyakit akibat kebakaran hutan ini seperti ISPA, pneumonia, asma, iritasi mata dan kulit. Kemudian juga kita memantau ketersediaan obat maupun BMHP (Bahan Medis Habis Pakai) termasuk alat kesehatan yang diperlukan oleh daerah," kata Suyanti dalam keterangan persnya dikutip Jumat (23/10/2026).
Pemantauan tersebut memprioritaskan kelompok rentan, meliputi anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita ISPA dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), serta pekerja yang beraktivitas di luar ruangan.
Selain memantau perkembangan penyakit, Kemenkes juga berkoordinasi lintas sektor untuk mengantisipasi dampak kesehatan akibat karhutla. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menerbitkan surat edaran kepada pemerintah daerah, masyarakat di wilayah terdampak, dan fasilitas kesehatan agar mempersiapkan langkah penanganan dampak kesehatan karhutla.
"Untuk penyiapan layanan kesehatan tentunya kita cek bagaimana kesiapan pos layanan kesehatan seperti di seluruh puskesmas di wilayah terdampak yaitu ada 1.691 puskesmas yang kita siagakan," ujar Suyanti
Kemenkes pun telah memobilisasi bantuan logistik kesehatan berupa oksigen, konsentrator, tabung oksigen, dan masker. Sebanyak 360 rumah sakit rujukan telah disiapkan, sementara 87 laboratorium kesehatan masyarakat (labkesmas) disiapkan untuk pengujian kualitas udara.
"Pemerintah daerah juga sudah menyiapkan rumah oksigen sebanyak 491 yang sudah tersedia di masing-masing wilayah dan SDM kesehatan pun kami pantau untuk kesiapan daripada penanganan dampak karhutla ini," jelasnya.
Menyikapi kondisi kualitas udara yang memburuk, Kemenkes mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat atau berbahaya. Masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan juga diimbau menggunakan masker dan menjaga kecukupan asupan air minum.






Komentar (0)