Fast Fashion Ancam Bumi, Ini Cara Kreator dan Brand Lokal Dorong Fesyen Berkelanjutan

kompas.tv
3 jam lalu
Cover Berita
Ilustrasi mengolah pakaian lama atau yang sudah tidak terpakai menjadi busana baru (Sumber: KompasTV/Ivana Arista)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Konsumsi pakaian di era modern mengalami lonjakan dramatis seiring pesatnya perkembangan tren media sosial yang mendorong masyarakat untuk terus berbelanja.

Kehadiran konsep fast fashion memfasilitasi kebutuhan ini dengan memproduksi busana berharga terjangkau secara masal dalam tempo singkat.

Namun, pola konsumsi yang berlebihan ini menyembunyikan konsekuensi ekologis dan sosial yang sangat merugikan bagi keberlanjutan bumi.

Sektor tekstil global saat ini menjadi salah satu pemicu utama krisis iklim dengan menyumbang sekitar 10 persen dari total emisi karbon dunia.

United Nations Framework Convention on Climate Change memperingatkan bahwa proporsi emisi ini berisiko melonjak hingga 60 persen pada tahun 2030 apabila tidak ada perubahan mendasar dalam kebiasaan belanja publik.

Selain itu, industri fesyen menempati posisi kedua sebagai pencemar sumber air terbesar di dunia setelah industri minyak bumi.

Dampak negatif dari industri pakaian murah ini juga menyentuh dimensi kemanusiaan di berbagai negara berkembang tempat pusat produksinya berada.

Praktik eksploitasi tenaga kerja kerap terjadi, mulai dari pengabaian hak pekerja perempuan, jam kerja yang tidak manusiawi, hingga keterlibatan anak di bawah umur yang dibayar jauh di bawah standar upah layak. Kondisi tersebut menuntut adanya pergeseran paradigma menuju praktik fesyen yang lebih etis dan ramah lingkungan.

Baca Juga: Fast Fashion Picu Limbah Tekstil, Ini Cerita Content Creator Kreasikan Baju Bekas | SUSTENESIA

Berkarya Sembari Edukasi lewat Media Sosial ala Influencer Sustainability

Di tengah maraknya tren fashion haul, kreator konten berlatar belakang pendidikan fashion, Odilia memilih pendekatan berbeda.

Alih-alih mendorong konsumsi pakaian secara berlebihan, ia justru mengajak masyarakat melihat potensi di balik pakaian lama agar kembali bernilai.

Berbekal latar belakang pendidikan fesyen, Odilia mulai membagikan perjalanan kreatifnya di dunia fesyen berkelanjutan melalui Instagram dan TikTok sejak 2025.

Lewat media sosial, ia berupaya menunjukkan bahwa tampil menarik tak selalu harus dengan membeli pakaian baru. Konten yang dibagikannya bukan sekadar padu padan busana.

Odilia juga memperlihatkan proses kreatif di balik setiap karyanya, mulai dari teknik menjahit dan styling hingga mengolah pakaian lama atau yang sudah tidak terpakai menjadi busana baru melalui teknik upcycling.

Baginya, setiap pakaian memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sesuatu yang berbeda. Tantangannya terletak pada bagaimana menemukan ide, menentukan desain, serta memadukan potongan dan bahan agar menghasilkan karya yang unik sekaligus memiliki nilai estetika.

“Jadi, aku putar otak untuk mencari cara bagaimana baju lama ini bisa dijadikan baju baru. Dari baju itu, bagaimana cara jahitnya dan juga desain barunya, itu yang paling menantang untuk dilakukan,” ungkap Odilia, dalam laporan reporter KompasTV Ivana Arista, baru-baru ini.

Lebih dari sekadar ruang untuk berkarya, media sosial juga menjadi sarana bagi Odilia untuk menyebarkan inspirasi tentang gaya hidup yang lebih berkelanjutan. Menurutnya, upcycling pakaian tidak harus menjadi kegiatan yang eksklusif bagi mereka yang memiliki keterampilan khusus.

Beragam referensi desain dan inspirasi styling kini mudah ditemukan di media sosial. Dengan sedikit kreativitas dan kemauan untuk bereksperimen, siapa pun dapat mulai memanfaatkan pakaian lama yang masih layak pakai dan mengubahnya sesuai selera masing-masing.

Melalui karya dan kontennya, Odilia menunjukkan bahwa kreativitas di dunia fesyen dapat berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan.

Sebab, di tengah tren yang terus berganti, pakaian lama tak harus kehilangan nilai. Dengan ide yang tepat, pakaian tersebut bisa kembali dikenakan dalam bentuk yang lebih segar, sekaligus membantu mengurangi potensi limbah tekstil.

Baca Juga: Demo Karhutla di Banjarmasin Ricuh, Massa dan Polisi Saling Dorong | SAPA MALAM

Peran Pelaku Industri Fesyen bagi Kelestarian Bumi

Bijak dalam mengonsumsi pakaian memang menjadi bagian dari tanggung jawab konsumen. Namun, upaya mewujudkan industri fesyen yang lebih berkelanjutan tidak bisa berhenti di tangan konsumen saja. Pelaku industri juga memiliki peran penting dalam menghadirkan solusi untuk mengurangi limbah tekstil dan memperpanjang usia pakai produk fesyen.

Di Indonesia, sejumlah merek fesyen lokal mulai mengusung konsep yang lebih ramah lingkungan. Salah satunya adalah Setali Indonesia, sebuah perusahaan sosial yang berfokus pada pengolahan limbah tekstil melalui berbagai inovasi kreatif.

Setali Indonesia hadir untuk memberikan kehidupan baru bagi pakaian dan material tekstil yang sudah tidak terpakai. Melalui kolaborasi dengan berbagai perusahaan, Setali mengolah seragam karyawan yang sudah tidak digunakan menjadi produk baru yang memiliki nilai guna dan nilai jual, seperti tas tote bag hingga beragam aksesori lainnya.

Inisiatif ini berangkat dari kegelisahan terhadap persoalan limbah tekstil yang masih membutuhkan penanganan lebih optimal. Setali Indonesia pun berupaya menghadirkan alternatif pengelolaan limbah yang lebih mudah diterapkan, sekaligus membuka peluang untuk memanfaatkan kembali material tekstil yang sebelumnya berpotensi terbuang.

Public Relations Setali Indonesia Nadira Syafiqa menjelaskan bahwa perusahaan sosial ini lahir dari kepedulian terhadap kondisi pengelolaan sampah tekstil di Tanah Air.

“Jadi, Setali itu lahir karena kegelisahan kami sebenarnya melihat fenomena di mana pengelolaan limbah tekstil atau sampah tekstil itu di sini banyak banget, tapi pengelolaannya belum maksimal. Jadi, kami lahir sebagai opsi, mungkin sebagai alternatif yang lebih mudah bisa diimplementasikan,” ungkap Nadira.

Langkah ini menjadi bagian dari penerapan konsep circular fashion, yakni upaya memperpanjang siklus hidup material dan produk fesyen melalui penggunaan kembali, perbaikan, serta pengolahan menjadi produk baru.

Tanggung Jawab Sosial dan Keberlangsungan Industri Fesyen Berkelanjutan

Pakaian yang kita kenakan sesungguhnya menyimpan banyak cerita. Bukan hanya tentang gaya dan tren, tetapi juga tentang proses pembuatannya, dampaknya terhadap lingkungan, hingga kehidupan para pekerja yang berada di balik setiap produk fesyen.

Di balik gemerlap industri fesyen, persoalan sosial masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian. International Labour Organization (ILO) menyoroti besarnya peran perempuan dalam industri tekstil dan garmen, yang di sejumlah tempat masih dihadapkan pada persoalan kondisi kerja, jam kerja panjang, serta upah yang rendah.

Namun, di tengah tantangan tersebut, sejumlah pelaku usaha fesyen lokal mulai menghadirkan pendekatan yang lebih inklusif. Pemberdayaan perempuan menjadi salah satu langkah nyata untuk menciptakan industri fesyen yang tidak hanya kreatif, tetapi juga membuka peluang ekonomi dan mendorong kesetaraan.

Salah satunya dilakukan Fuguku, merek lokal yang dikenal melalui produk tas dengan bentuk unik menyerupai ikan fugu, serta pilihan warna cerah yang menarik perhatian. Tak hanya tas, Fuguku juga menghadirkan produk pakaian dengan desain berani dan kreatif, menambah warna dalam industri fesyen Tanah Air.

Di balik proses produksinya, terdapat perempuan-perempuan yang turut mengambil bagian dalam perjalanan usaha ini. Salah satunya Yuni, ibu rumah tangga berusia 42 tahun yang telah lebih dari dua tahun menjadi mitra Fuguku.

Bagi Yuni, keterlibatannya sebagai mitra bukan sekadar kesempatan untuk berkarya, tetapi juga membuka peluang untuk menambah penghasilan keluarga, sembari tetap menjalankan perannya mengurus rumah tangga.

“Mimpi saya sih sederhana saja. Berharap dengan saya bergabung bersama Fuguku, bisa membuat kehidupan saya sama anak-anak saya lebih baik. Anak saya bisa mengenyam pendidikan lebih tinggi, bisa membiayai anak saya mungkin nanti kuliah. Itu sih harapan saya sesederhana itu,” tutur mitra Fuguku Yuni.

Harapan sederhana Yuni mencerminkan arti penting pemberdayaan perempuan dalam industri fesyen. Kesempatan untuk memperoleh penghasilan dapat menjadi salah satu jalan bagi perempuan untuk memperkuat kondisi ekonomi keluarga sekaligus merencanakan masa depan anak-anak mereka.

Kini, sekitar 50 perempuan pengrajin telah bergabung dalam jaringan kemitraan Fuguku yang tersebar di kawasan perkotaan Jakarta dan sekitarnya. Melalui skema ini, para ibu rumah tangga mendapat kesempatan untuk mengembangkan keterampilan sekaligus memperoleh penghasilan tambahan, sehingga dapat lebih mandiri secara ekonomi.

Co-founder Fuguku Andarina Sumarno menjelaskan bahwa model kemitraan berbasis rumahan ini juga menjadi strategi bagi Fuguku untuk mengembangkan bisnis secara fleksibel tanpa harus membangun pabrik berskala besar.

“Untuk Fuguku sendiri, ini merupakan strategi di mana kita bisa lebih fleksibel dan scalable. Karena kita dapat memproduksi ribuan tas tanpa harus membuat pabrik yang besar. Pabrik-pabrik kami itu adalah di rumah ibu-ibu ini, pengrajin kita,” jelas Andarina Sumarno.

Selain memberdayakan perempuan melalui proses produksi, Fuguku juga berupaya memperpanjang usia pakai produknya. Salah satunya melalui layanan upgrading service, yang memungkinkan pelanggan mengembalikan tas yang telah dimiliki untuk diperbarui melalui proses pengerjaan ulang atau rework.

Melalui layanan ini, tas yang kondisinya perlu diperbarui dapat diolah kembali agar tampil lebih segar dan kembali ke bentuk semula. Langkah tersebut menjadi salah satu upaya Fuguku untuk mendorong pelanggan merawat dan menggunakan produk lebih lama, alih-alih langsung menggantinya dengan produk baru.

Pada akhirnya, mewujudkan industri fesyen yang lebih ramah lingkungan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Konsumen dapat memulai dengan lebih bijak memilih dan menggunakan pakaian, sementara produsen dan pelaku industri dapat berkontribusi melalui inovasi serta sistem pengelolaan yang lebih bertanggung jawab.

 

Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.

Penulis : Dian Nita Editor : Gading-Persada

Sumber : Kompas TV

Tag
  • fast fashion
  • Fesyen Berkelanjutan
  • jejak pakaian kita
  • pakai lebih lama
  • beli baju lebih bijak
  • berdampak lestari
Selengkapnya


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Rincian Uang Korupsi Jalan di Sumut yang Diterima 8 Tersangka
• 7 jam lalu
0
thumb
Duh! Pria Ini Ngaku Polisi Biar Lancar Nyolong Motor di Kos-kosan Jakbar
• 5 jam lalu
0
thumb
BRI Peduli Tanam 30 Ribu Bibit Mangrove dan Manfaatkan Sampah Jadi Pemecah Ombak
• 17 jam lalu
0
thumb
Sebaran Titik Panas Karhutla Hari Ini, Kalimantan Tengah Masih Tertinggi
• 51 menit lalu
0
thumb
Hari Santri Nasional: Menag Nasaruddin Umar Ungkap 5 Program Penguatan Pesantren
• 16 jam lalu
0
Berhasil disimpan.