Penggunaan AI dan Tanggung Jawab Kampus dalam Melatih Nalar Mahasiswa

kompas.tv
7 jam lalu
Cover Berita
Foto ilustrasi perkuliahan dengan pembahasan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. (Sumber: Gemini Generat Image)

oleh: Dr. Abdhy Aulia Adnans, SP., MM, Akademisi Sekolah Vokasi Universitas Padjadjaran

Bayangkan seorang mahasiswa mengumpulkan tugas dengan bahasa lancar, susunan rapi, dan kesimpulan meyakinkan. Ketika diminta menjelaskan alasan di balik kesimpulannya, ia justru kesulitan. 

Ilustrasi ini mengajukan persoalan bagi perguruan tinggi: bagaimana memastikan bahwa tugas yang dikerjakan dengan bantuan kecerdasan buatan tetap menjadi latihan berpikir bagi mahasiswa? 

Pembahasan ini berfokus pada Artificial Intelligence (AI) generatif, yaitu kecerdasan buatan yang dapat menghasilkan konten, termasuk teks, berdasarkan instruksi pengguna. Dalam perkuliahan, perhatian perlu diarahkan pada cara mahasiswa menggunakan jawaban yang dihasilkan. 

Saya berpendapat bahwa kampus harus menempatkan latihan nalar sebagai dasar penggunaan AI dalam pembelajaran dan penilaian. Nalar yang dimaksud ialah kemampuan menimbang informasi, menguji hubungan antara alasan dan kesimpulan, serta mengambil keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Baca Juga: KG Media dan Google Gelar Uji Kompetensi Wartawan, Dorong Pemanfaatan Kecerdasan Buatan

Kemampuan ini terlihat ketika mahasiswa dapat menjelaskan mengapa suatu jawaban layak diterima, apa keterbatasannya, dan kapan jawaban itu perlu diperbaiki. Karena itu, penggunaan AI perlu disertai kewajiban untuk memeriksa dan membahas hasilnya. 

Dari perspektif Manajemen Sumber Daya Manusia, latihan tersebut berkaitan dengan kesiapan profesional. Keputusan mengenai pegawai memerlukan pertimbangan atas kondisi organisasi dan kepentingan orang yang terdampak. Mahasiswa perlu dibiasakan menjelaskan dasar pilihannya sejak kuliah. 

Jika proses belajar berhenti pada menerima jawaban yang tersedia, kesempatan melatih tanggung jawab pengambilan keputusan akan berkurang. Tanggung jawab kampus dimulai dari rancangan tugas. Tugas berupa rangkuman dapat dipertahankan sesuai tujuan pembelajaran, lalu dilengkapi pertanyaan yang menuntut penilaian.

Mahasiswa dapat diminta membandingkan dua alternatif, memeriksa rujukannya, dan menjelaskan alasan memilih salah satunya. Dengan rancangan itu, keluaran AI menjadi bahan untuk diuji melalui penalaran mahasiswa. 

Sebagai ilustrasi, dosen dapat menyajikan kasus penilaian kinerja pegawai dalam mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia. Mahasiswa diperbolehkan menggunakan AI untuk memperoleh alternatif indikator penilaian.

Selanjutnya, mereka harus memeriksa apakah indikator tersebut sesuai dengan tanggung jawab pegawai dan dapat diterapkan secara adil. Rekomendasi perlu dipertimbangkan kembali apabila mengabaikan perbedaan beban kerja atau keterbatasan sarana. 

Latihan nalar dalam kasus itu terletak pada alasan menerima atau menolak rekomendasi. Mahasiswa perlu menunjukkan informasi yang mendukung pilihannya dan mengidentifikasi data yang belum tersedia. Mereka juga harus menjelaskan bagaimana kesimpulan dapat berubah jika kondisi kasus berbeda. Kesediaan menunda keputusan ketika informasi belum memadai patut dihargai sebagai bagian dari kehati-hatian profesional. 

Baca Juga: Oscar 2027 Ubah Aturan AI, Begini Nasib Film dengan Teknologi Kecerdasan Buatan

Diskusi kelompok dapat digunakan untuk menguji argumen tersebut. Setiap anggota perlu mendapat kesempatan mengajukan alternatif dan menanggapi keberatan. Dosen dapat meminta anggota yang berbeda menjelaskan alasan keputusan kelompok. 

Kesimpulan akhir sebaiknya mencatat perbedaan pandangan yang muncul beserta pertimbangan penyelesaiannya. Dengan demikian, tanggung jawab berpikir tetap melekat pada setiap mahasiswa. 

Mutu Penalaran jadi Perhatian Dosen

Penilaian perlu memperlihatkan bahwa mutu penalaran menjadi perhatian dosen. Kriteria dapat mencakup ketepatan informasi, hubungan antara bukti dan kesimpulan, serta kemampuan menanggapi sanggahan. Catatan pemeriksaan sumber dan perubahan jawaban dapat melengkapi naskah akhir. 

Mahasiswa kemudian memiliki alasan untuk mencurahkan perhatian pada proses memahami, karena proses itu ikut menentukan penilaian.  Keberatan mengenai keterbatasan waktu dosen patut diperhitungkan, terutama pada kelas besar.

Abdhy Aulia Adnans, Akademisi Sekolah Vokasi Bidang Keahlian Manajemen SDM Universitas Padjajaran (Sumber: dokumen pribadi)

Pemeriksaan proses dapat dimulai dari satu tugas utama dengan catatan singkat tentang sumber yang diperiksa dan alasan perbaikan jawaban. Pertanyaan lisan secara bergiliran dapat dimasukkan dalam sesi pembahasan tugas. Penerapannya perlu disesuaikan dengan jumlah mahasiswa agar pemeriksaan tetap dapat dijalankan secara wajar. 

Kampus juga perlu menyediakan panduan penggunaan AI yang jelas. Setiap tugas sebaiknya menyebutkan bantuan yang diperbolehkan, bagian yang harus dikerjakan mandiri, dan cara mengungkapkan penggunaan AI. Dosen memerlukan dukungan untuk menyusun tugas serta kriteria penilaian yang sesuai. Kejelasan aturan membantu mahasiswa memahami batas bantuan teknologi dan tanggung jawab akademiknya. 

Keadilan akses harus menjadi bagian dari pengaturan tersebut. Tugas hendaknya dapat dikerjakan dengan fasilitas yang tersedia bagi seluruh mahasiswa. Layanan berbayar tidak semestinya menjadi syarat tersirat untuk memperoleh nilai tinggi. Kemampuan menguji informasi dan menjelaskan pilihan perlu tetap menjadi dasar penilaian, apa pun perangkat yang digunakan. 

Baca Juga: Mengenal Grok AI, Chatbot Kecerdasan Buatan yang Diblokir Komdigi

Melatih nalar berarti memberi mahasiswa kesempatan sekaligus kewajiban untuk mempertanyakan, menjelaskan, dan memperbaiki pendapat. Kampus perlu menerjemahkan tujuan itu ke dalam tugas, diskusi, serta penilaian sehari-hari. Ukuran keberhasilan penggunaan AI dapat diarahkan pada kemampuan mahasiswa mempertanggungjawabkan jawaban yang mereka gunakan. 

Tanggung jawab atas keputusan tetap berada pada manusia yang mengambilnya. Karena itu, kampus perlu memastikan bahwa kemudahan menggunakan AI disertai latihan nalar yang terarah. Mahasiswa harus meninggalkan ruang kuliah dengan kemampuan menjelaskan dasar keputusan dan meninjau ulang kesimpulan ketika alasannya tidak lagi memadai.

Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.

Penulis : Gading-Persada

Sumber : Kompas TV

Tag
  • penggunaan ai
  • artificial intelligence
  • kecerdasan buatan
  • mahasiswa
  • kuliah
  • perguruan tinggi
Selengkapnya


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
BRI Peduli Tanam 30 Ribu Bibit Mangrove dan Manfaatkan Sampah Jadi Pemecah Ombak
• 11 jam lalu
0
thumb
Upacara Hari Santri 2026, Menag Sampaikan Amanat
• 17 jam lalu
0
thumb
Stasiun Sudirman Mendadak Gelap saat Jam Pulang Kerja, KAI Ungkap Penyebab Listrik Padam 30 Menit
• 4 jam lalu
0
thumb
Ketar-ketir Setelah Erick Thohir Buka Opsi Batal, Yordania Pastikan Keamanan Timnas Indonesia Selama FIFA Matchday November
• 10 jam lalu
0
thumb
Prabowo Resmi Bentuk Dewan Nasional Kesejahteraan Keuangan
• 11 jam lalu
0
Berhasil disimpan.