Sejumlah raksasa produsen nikel asal Cina disebut tengah mengkaji untuk memangkas produksi di fasilitas pengolahan bahan baku baterainya di Indonesia.
Berdasarkan Bloomberg, produsen rakasa tersebut yaitu Tsingshan Holding Group, GEM, Lygend Resources & Technology, dan Zhejiang Huayou Cobalt disebut akan membahas skala pemangkasan produksi di RI untuk merespons tekanan harga logam yang semakin menekan profitabilitas fasilitas high-pressure acid leach (HPAL).
Mengutip sumber Bloomberg mengetahui rencana tersebut, sejumlah perusahaan tersebut tengah merencanakan pertemuan dan melanjutkan pembahasan pada Agustus lalu. “Namun, pertemuan sebelumnya belum menghasilkan kesepakatan,” ujar sumber Bloomberg, dikutip Kamis (22/10).
Adapun fasilitas HPAL mengolah bijih nikel menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP), produk antara yang mengandung nikel dan kobalt. Kedua logam itu selanjutnya dapat diolah menjadi bahan baku baterai dengan tingkat kemurnian yang dibutuhkan industri.
Namun harga nikel di London Metal Exchange (LME) telah turun sekitar 20% dari level tertingginya sejak Mei. Harga logam ini juga kian merosot sejak Agustus. Sementara itu, harga kobalt menyentuh level terendah dalam satu tahun terakhir.
Menurut sumber tersebut, para produsen kemungkinan membahas pengurangan produksi berdasarkan tingkat operasional fasilitas saat ini. Namun, detail rencana tersebut masih dapat berubah.
“Belum ada kepastian pertemuan akan berlangsung maupun menghasilkan kesepakatan pemangkasan produksi,” ujarnya.
Seiring dengan itu, tekanan terhadap industri nikel Indonesia meningkat setelah pemerintah memperketat kuota pertambangan dan menaikkan harga bijih untuk meningkatkan penerimaan negara. Kebijakan tersebut menambah beban biaya bahan baku bagi perusahaan pengolahan nikel dan menekan margin usaha.
Selain itu, perang Iran turut meningkatkan harga sulfur, salah satu bahan penting dalam proses HPAL. Kekurangan pasokan air juga mengganggu operasional sejumlah fasilitas pengolahan.
Padahal, perusahaan-perusahaan Cina telah menanamkan investasi besar di industri nikel Indonesia. Indonesia menyumbang lebih dari separuh produksi nikel dunia.
Pada perdagangan hari ini, Kamis (22/10) pukul 13:53 WIB harga nikel di London Metal Exchange (LME) turun 1,21% menjadi US$ 16.088 per ton.





Komentar (0)