Jakarta, CNBC Indonesia - Pencabutan saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi atau high shareholding concentration (HSC) dari perhitungan IHSG dapat mengubah bobot saham tanpa langsung mengubah level indeks. Dengan harga seluruh saham tetap dan pembagi indeks disesuaikan, IHSG bisa bertahan pada level yang sama saat pergantian komposisi.
Artinya, pencoretan saham berkapitalisasi besar tidak serta-merta membuat IHSG kehilangan poin sebesar porsi saham tersebut. Perubahan yang perlu diperhatikan adalah besarnya pengaruh masing-masing saham terhadap pergerakan indeks setelah komposisi baru berlaku.
Simulasi ini menggunakan acuan IHSG 5.287,89 dan bobot awal yang ditampilkan pada laporan konstituen Refinitiv.
Saham HSC (High Shareholding Concentration), termasuk PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT DCI Indonesia Tbk (DCII), dan PT Bayan Resources Tbk (BYAN), dikeluarkan dari keranjang perhitungan. Bobot saham yang tersisa kemudian dihitung ulang dengan menerapkan batas maksimal 9% untuk setiap emiten.
Saham HSC, termasuk BREN, DSSA, DCII, dan BYAN, dikeluarkan dari keranjang perhitungan. Bobot saham yang tersisa kemudian dihitung ulang dengan menerapkan batas 9% per emiten.
Bobot Saham Dihitung Ulang Setelah HSC Keluar
Total bobot tampil HSC dalam snapshot mencapai 17,51%. Setelah kelompok tersebut dikeluarkan, tersisa 82,49% bobot awal yang perlu disusun kembali menjadi 100%.
Langkah awalnya adalah membagi bobot setiap saham yang tersisa dengan 82,49%, kemudian mengalikannya dengan 100%. Dengan cara ini, saham yang sama memperoleh porsi lebih besar karena keranjang yang menjadi pembandingnya sudah mengecil.
Sebagai contoh, bobot PT Bank Central Asia (BBCA) yang semula 8,97% menjadi 8,97 ÷ 82,49 × 100 = 10,87%. Sementara itu, bobot BBRI meningkat dari 7,78% menjadi sekitar 9,43%.
Namun, kedua hasil tersebut melampaui batas 9% yang diterapkan dalam simulasi. Karena itu, BBCA dan BBRI masing-masing dibatasi menjadi 9%, sehingga bersama-sama mengisi 18% dari keranjang baru.
Sisa 82% kemudian dibagikan secara proporsional kepada kelompok lainnya. Basis bobot awal kelompok ini adalah 82,49% − 8,97% − 7,78% = 65,74%. Dengan demikian, faktor pengalinya menjadi 82 ÷ 65,74 = 1,247338.
Faktor tersebut menghasilkan bobot baru BMRI sebesar 5,57% × 1,247338 = 6,95%. Adapun TLKM menjadi 3,59% × 1,247338 = 4,48%.
Proses ini menunjukkan bahwa bobot saham dapat meningkat meskipun harganya belum berubah. Peningkatan terjadi karena komposisi indeks dihitung ulang dan sebagian porsi BBCA serta BBRI dialokasikan kembali setelah keduanya dibatasi.
Pengaruh Pergerakan Harga terhadap Poin IHSGSetelah bobot baru terbentuk, besarnya pengaruh masing-masing saham dihitung menggunakan rumus level IHSG × bobot saham × perubahan harga.
Untuk BBCA, pergerakan harga 1% menghasilkan pengaruh 5.287,89 × 9% × 1% = sekitar 4,76 poin. Kenaikan harga menambah poin, sedangkan penurunan harga mengurangi poin, dengan asumsi saham lain tidak bergerak.
BBRI memberikan gambaran perubahan sensitivitas yang lebih jelas. Pada bobot awal 7,78%, pergerakan harga 1% memberikan pengaruh sekitar 4,11 poin. Setelah bobot model meningkat menjadi 9%, pengaruh pergerakan yang sama membesar menjadi 4,76 poin.
Sebaliknya, saham HSC yang sudah dikeluarkan memiliki bobot nol dalam keranjang baru. Kenaikan atau penurunan harga BREN, DSSA, DCII, maupun BYAN tidak lagi memberikan kontribusi langsung terhadap IHSG model. Perubahan sentimen yang ikut menggerakkan saham lain tetap dapat memengaruhi indeks melalui saham lain tersebut.
Gabungan bobot sepuluh saham terbesar dalam simulasi meningkat dari 39,83% menjadi sekitar 46,79%.
Sementara itu, empat bank besar, yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), memiliki porsi gabungan sekitar 27,45%, meningkat dari bobot awal sebesar 24,33%.
Pergeseran tersebut membuat IHSG lebih sensitif terhadap kelompok saham itu. Pergerakan harga yang sama dapat menghasilkan perubahan poin lebih besar setelah bobotnya meningkat.
Mengapa Level IHSG Bisa Tetap Sama?
IHSG merupakan hasil pembagian kapitalisasi efektif saham yang diperhitungkan dalam indeks dengan suatu pembagi atau divisor. Kapitalisasi efektif ini memperhitungkan penyesuaian saham untuk indeks, sehingga berbeda dari kapitalisasi penuh perusahaan.
Ketika saham dikeluarkan, nilai yang diperhitungkan memang berkurang. Jika pembaginya ikut diperkecil dengan perbandingan yang sama, hasil pembagiannya tetap.
Gambaran sederhananya adalah 100 ÷ 10 = 10. Ketika angka atas dan bawah sama-sama berkurang 20%, perhitungannya menjadi 80 ÷ 8 = 10. Jumlah yang dihitung sudah berubah, tetapi hasil akhirnya tetap sama.
Prinsip penyesuaian tersebut membuat pergantian keranjang dapat berlangsung tanpa penurunan indeks akibat pencoretan semata. Kontribusi historis saham HSC yang sudah tercermin dalam level IHSG juga tidak otomatis dihapus ketika saham tersebut keluar.
Dengan asumsi harga seluruh saham stagnan dan divisor disesuaikan, IHSG model tetap 5.287,89 pada saat pergantian komposisi. Setelah perdagangan berjalan, perubahan harga konstituen yang tersisa kembali menentukan arah indeks.
Pembesaran bobot saham non-HSC sendiri tidak memastikan harga saham akan naik ataupun menjamin masuknya dana baru. Arah IHSG tetap bergantung pada pergerakan harga saham yang masih menjadi konstituen.
Penyesuaian divisor menjaga kesinambungan saat komposisi berubah. Jika setelahnya harga saham yang tersisa melemah, IHSG tetap dapat turun. Besarnya perubahan akan mengikuti bobot baru serta pergerakan harga masing-masing konstituen.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(gls/gls)





Komentar (0)