Masjid Abad ke-17 Kokoh di Jantung Pecinan Makassar

celebesmedia.id
1 jam lalu
Cover Berita

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Di antara deretan ruko dan permukiman warga Tionghoa di Kelurahan Melayu Baru, Kecamatan Wajo, Makassar, berdiri sebuah masjid dua lantai bernuansa hijau dengan kubah keemasan. 

Inilah Masjid Makmur Melayu, yang diyakini sebagai masjid Melayu pertama di kota ini. Letaknya persis di persimpangan Jalan Sangir dan Jalan Sulawesi, nyaris tanpa lahan parkir karena bangunannya hanya berjarak sekitar lima meter dari badan jalan.

Menurut catatan Sistem Cagar Budaya (Simcabud) Makassar, Masjid ini masuk dalam cagar budaya dan bangunan tua di Makassar. Dibangun tahun 1760 yang berarti telah berusia 266 tahun.

Berdirinya masjid ini tak lepas dari sosok Khatib Tunggal Datuk Makmur, yang lebih dikenal sebagai Datuk Ribandang, ulama asal Sumatera yang menyebarkan Islam di Sulawesi Selatan. 

Saat tiba di Makassar, beliau mendirikan pesantren sebagai pusat pendidikan sekaligus tempat warga memeluk Islam. Sepeninggal beliau, keturunan dan para pengikutnya membangun masjid di atas lahan pesantren tersebut. Nama "Makmur" diambil dari nama sang ulama, sedangkan "Melayu" merujuk pada asal-usulnya dari tanah Melayu.

Pada 1943, ketika Jepang menguasai Makassar, bom pasukan udara menghancurkan masjid hingga rata dengan tanah. Warga Kampung Melayu pun mengungsi, sebagian hingga ke Pulau Barang Lompo. Nyaris tak ada benda bersejarah yang selamat, kecuali sebuah bedug hadiah dari Raja Bone. Menurut pengurus masjid, bedug berbahan kayu pohon lombok itu usianya setara dengan masjid. Bagian pukulnya robek akibat terlempar ledakan bom hingga ke tepi pantai. Pemerintah pernah berniat membelinya, namun pengurus menolak melepasnya.

Setelah perang, masyarakat di bawah pimpinan H. Ince Muhammad Hasan membangun kembali masjid dengan dinding anyaman pelepah nipah. Pada 1948, dindingnya diganti tembok tiga lapis bata merah yang kokoh. Tahun 1982, masjid dipugar dan ditambah lantai atas untuk jamaah perempuan, dengan dana swadaya warga, termasuk sumbangan masyarakat Tionghoa sekitar.

Luas masjid kini sekitar 15x19 meter, lebih kecil dari semula yang 21x20 meter, sebab sebagian bangunan dipotong untuk pelebaran jalan. Jamaah masuk lewat pintu utara dari arah Jalan Sangir, melewati gapura berbentuk piramida.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
BRImo Makin Dekat dengan Masyarakat, Transaksi Digital Tembus Rp548,2 Miliar
• 6 jam lalu
0
thumb
Kecelakaan Kapal Berulang, Komisi V DPR Sorot Sertifikasi Kelaikan
• 23 jam lalu
0
thumb
Alasan Rizky Ridho dan Kyohei Yoshino tak masuk skuad lawan Arema
• 14 jam lalu
0
thumb
Nostalgia 2000-an di AsikFest, Hadirkan Killing Me Inside Re:Union hingga Grindboys
• 15 jam lalu
0
thumb
Polisi: Dokter Perkosa Anaknya di Bandung Jadi Tersangka, Terancam 12 Tahun Bui
• 18 jam lalu
0
Berhasil disimpan.