Liputan6.com, Jakarta - Dua kali tidak naik kelas bukan pengalaman yang mudah dilupakan Waluyo Jati. Saat menempuh pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor 1, ia pernah mengalaminya ketika duduk di kelas 3 dan kelas 5.
Ada rasa kecewa, tetapi pengalaman itu belakangan justru menjadi salah satu pelajaran penting dalam hidupnya.
Advertisement
Waluyo juga pernah mendapat tugas di bagian diesel, yang menangani kebutuhan kelistrikan pondok. Pekerjaan itu membuatnya berhadapan dengan urusan teknis, peralatan, dan tanggung jawab yang harus dituntaskan. Saat itu, mungkin ia belum membayangkan pengalaman tersebut kelak berguna ketika membangun usaha di bidang produksi acara.
Kini, Waluyo dikenal sebagai pendiri Farda Multi Kreasi dan 369 Group yang bergerak di bidang event organizer dan event production. Usahanya menangani berbagai kebutuhan acara, mulai dari panggung, layar LED, tata suara, hingga pencahayaan.
Ada ironi kecil yang ia ingat dari perjalanan itu. Dulu, ia membantu memastikan kebutuhan listrik di lingkungan pondok terpenuhi. Sekarang, ketika menangani acara, urusan kelistrikan dan perangkat teknis tetap menjadi bagian penting pekerjaannya.
Bedanya, jika listrik bermasalah saat sebuah acara berlangsung, dampaknya bisa membuat satu ballroom panik.
Perjalanan Waluyo menunjukkan bahwa pelajaran di pesantren tidak selalu berhenti pada apa yang tertulis di buku atau disampaikan di kelas. Ada pula pengalaman mengurus pekerjaan, belajar bertanggung jawab, dan menghadapi kegagalan yang manfaatnya baru terasa bertahun-tahun kemudian.
“Saya bukan santri yang paling pintar dan pernah dua kali tidak naik kelas, tetapi saya bersyukur pernah mendapatkan pendidikan Gontor,” kata Waluyo saat berbincang dengan Liputan6.com, Rabu (21/10/2026).
Ia tidak memilih menjadi ustaz setelah keluar dari pesantren. Dunia usaha justru menjadi jalan yang ingin ia tekuni.
Bagi Waluyo, keputusan itu bukan berarti meninggalkan nilai-nilai yang diperoleh selama mondok.
“Menjadi santri tidak harus berakhir sebagai ustaz. Santri dapat menjadi pengusaha, teknisi, dokter, pemimpin, atau menjalani profesi apa pun. Yang penting adalah nilai-nilai kesantrian tetap dibawa dalam menjalankan profesi tersebut,” ujarnya.





Komentar (0)