Jakarta, CNBC Indonesia - Bank sentral Korea Selatan (Korsel) mempertahankan suku bunga acuannya di level 3% pada Kamis (22/10/2026), setelah menaikkan bunga dua kali berturut-turut sebelumnya. Keputusan ini diambil ketika inflasi masih tinggi, sementara ekonomi negara tersebut mendapat dukungan dari lonjakan ekspor semikonduktor.
Keputusan Bank of Korea (BOK) tersebut sesuai dengan perkiraan para ekonom yang disurvei Reuters. Meski demikian, sejumlah analis menilai penahanan suku bunga kali ini belum menandakan perubahan arah kebijakan moneter, mengingat tekanan inflasi masih bertahan.
Inflasi Korsel, ekonomi terbesar keempat di Asia, mencapai 2,9% secara tahunan pada September 2026. Angka tersebut berada di atas target inflasi BOK sebesar 2% selama 13 bulan berturut-turut.
Analis dari bank asal Belanda, ING, menilai keputusan mempertahankan suku bunga belum tentu menjadi akhir dari siklus pengetatan moneter. Pasalnya, inflasi masih melampaui target, sementara pertumbuhan ekonomi relatif tangguh.
Di sisi lain, keputusan bank sentral ini muncul setelah Presiden Korsel Lee Jae Myung dilaporkan menyerukan upaya habis-habisan untuk meningkatkan pasokan perumahan. Kebijakan perumahan menjadi salah satu perhatian pemerintah di tengah dinamika ekonomi domestik meski keputusan suku bunga tetap harus mempertimbangkan perkembangan inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
Ekspor Chip AI Jadi Penopang EkonomiPerekonomian Korsel sejauh ini mendapat dukungan besar dari ekspor semikonduktor. Permintaan chip untuk menopang perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) terus meningkat.
Ekspor Korsel pada September 2026 melonjak 83,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara khusus, ekspor semikonduktor melesat lebih dari 262% secara tahunan.
Kinerja tersebut menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan inflasi yang masih tinggi. Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan ekonomi Korsel tumbuh 3,3% sepanjang 2026.
Sementara itu, merujuk Trading Economics, produk domestik bruto (PDB) negara tersebut tumbuh masing-masing 3,8% dan 3,7% pada kuartal I dan kuartal II 2026. Kedua capaian tersebut melampaui ekspektasi.
Perkembangan ini menempatkan bank sentral pada posisi yang menantang. Yakni menjaga inflasi agar kembali ke target tanpa menghambat momentum pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh ekspor teknologi.
(sef/sef)





Komentar (0)