Kerusuhan meluas ke Milan, ini yang jadi penyebabnya

antaranews.com
3 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Kerusuhan yang melanda sejumlah kota di Prancis pada pertengahan Oktober 2026 menjadi bagian dari gelombang demonstrasi di Eropa yang dipicu persoalan biaya hidup dan ketidakpuasan masyarakat terhadap layanan publik. Situasi serupa juga terjadi di Milan, Italia, ketika demonstrasi menentang mahalnya biaya hidup berubah menjadi bentrokan antara massa dan aparat keamanan.

Pada Sabtu (17/10), kawasan pusat kota Milan, termasuk Piazza del Duomo, berubah menjadi lokasi kerusuhan setelah sekelompok demonstran bertopeng melemparkan batu dan benda keras ke arah polisi. Sejumlah toko dijarah, kendaraan dirusak, dan barikade yang terbuat dari meja serta kursi dibakar.

Polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa. Akibatnya, kawasan pusat kota yang biasanya dipadati wisatawan dan warga setempat sempat dikosongkan.

Associated Press melaporkan pada 17 Oktober bahwa sekitar 50 demonstran ditahan, termasuk sejumlah anak di bawah umur. Sedikitnya dua polisi juga dilaporkan mengalami luka-luka dalam bentrokan tersebut.

Kerusuhan berlanjut pada Minggu (18/10). Reuters melaporkan bahwa polisi kembali berhadapan dengan demonstran yang melemparkan batu dan merusak pertokoan di sekitar Piazza del Duomo. Lebih dari 60 orang dibawa ke kantor polisi untuk menjalani pemeriksaan.

Peristiwa ini menjadi perhatian publik karena berlangsung hampir bersamaan dengan demonstrasi besar-besaran di Prancis. Lantas, apa yang menyebabkan kerusuhan di Milan, dan apakah peristiwa tersebut berkaitan langsung dengan gelombang protes di negara tetangganya?

Baca juga: Polisi tangkap 49 orang usai kericuhan di final Euro 2020

1. Biaya hidup yang semakin membebani masyarakat

Salah satu pemicu utama demonstrasi di Milan adalah tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat, terutama akibat mahalnya kebutuhan sehari-hari dan rendahnya pertumbuhan upah dibandingkan biaya hidup.

Persoalan ini terasa semakin berat di kota-kota besar Italia, termasuk Milan, yang dikenal sebagai pusat bisnis, mode, dan keuangan. Tingginya biaya tempat tinggal, sewa hunian, transportasi, serta kebutuhan pokok membuat sebagian warga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Selain itu, upah yang dinilai tidak sebanding dengan kenaikan pengeluaran turut memunculkan ketidakpuasan. Bagi sebagian pekerja muda dan kelompok berpenghasilan rendah, bekerja di kota besar tidak selalu menjamin kemampuan untuk hidup dengan layak.

Kondisi tersebut mendorong masyarakat turun ke jalan untuk menyampaikan tuntutan mengenai kesejahteraan, daya beli, dan kebijakan ekonomi pemerintah.

Namun, penting dipahami bahwa tidak semua peserta demonstrasi memiliki tuntutan yang sama. Ada yang berfokus pada persoalan ekonomi, sementara kelompok lain mengangkat isu sosial dan politik yang lebih luas.

2. Penolakan terhadap perang dan kebijakan pemerintah

Demonstrasi di Milan juga membawa tuntutan yang berkaitan dengan perang dan situasi politik internasional. Menurut laporan Associated Press, aksi pada Sabtu (17/10) tidak hanya menyoroti mahalnya biaya hidup, tetapi juga menyuarakan penolakan terhadap perang.

Kombinasi isu ekonomi dan politik membuat aksi tersebut diikuti kelompok masyarakat dengan latar belakang serta kepentingan berbeda.

Bagi sebagian demonstran, meningkatnya biaya hidup tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi global dan keputusan politik pemerintah. Mereka mendesak agar pemerintah lebih memperhatikan kesejahteraan masyarakat serta dampak kebijakan dalam dan luar negeri terhadap kehidupan sehari-hari.

Meski demikian, demonstrasi yang mengangkat berbagai tuntutan tersebut tidak serta-merta berarti seluruh peserta mendukung tindakan kekerasan. Kerusuhan muncul ketika sebagian kelompok melakukan perusakan dan bentrok dengan aparat.

Perbedaan ini penting untuk dipahami agar aksi protes sebagai bentuk penyampaian pendapat tidak disamakan dengan penjarahan atau penyerangan terhadap orang lain.

Baca juga: Kerusuhan penonton nodai pertandingan Kroasia lawan Italia

Demonstrasi berubah menjadi kerusuhan

Pada awalnya, demonstrasi di Milan berlangsung sebagai aksi penyampaian aspirasi. Namun, situasi berubah ketika sejumlah demonstran bertopeng mulai melemparkan batu, potongan paving, dan benda lainnya ke arah polisi.

Sebagian massa juga membakar barikade yang dibuat dari meja dan kursi, merusak jendela pertokoan, serta menjarah sejumlah toko di pusat kota.

Polisi kemudian menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan kelompok yang terlibat bentrokan. Pengamanan diperketat di sekitar Piazza del Duomo dan kawasan pertokoan, termasuk galeri belanja Galleria Vittorio Emanuele II.

Menurut laporan Euronews pada 18 Oktober, kerusuhan menyebabkan 25 orang terluka dan dibawa ke sejumlah rumah sakit di Milan. Sepuluh di antaranya merupakan personel kepolisian. Sekitar 50 orang juga ditahan setelah aksi tersebut.

Situasi kembali memanas pada Minggu (18/10), ketika ratusan anak muda berkumpul di sekitar Piazza del Duomo. Sejumlah kelompok kembali melakukan perusakan, membalikkan tempat sampah, merusak fasilitas jalan, dan menyerang aparat keamanan.

Polisi kembali melakukan tindakan pembubaran. Insiden tersebut menunjukkan bahwa kerusuhan tidak berhenti setelah demonstrasi hari pertama berakhir.

Perlu digarisbawahi bahwa tindakan kekerasan dilakukan oleh sebagian kelompok, bukan berarti seluruh demonstran yang menyuarakan tuntutan ekonomi terlibat dalam perusakan.

Apakah kerusuhan Milan berkaitan dengan demonstrasi di Prancis?

Waktu terjadinya kerusuhan di Milan yang berdekatan dengan demonstrasi besar-besaran di Prancis membuat kedua peristiwa tersebut terlihat saling berkaitan.

Di Prancis, ratusan ribu orang turun ke jalan pada Sabtu (17/10) untuk menyuarakan ketidakpuasan terhadap kenaikan biaya hidup, kondisi pendidikan, dan memburuknya layanan publik. Demonstrasi yang melibatkan pelajar, serikat pekerja, dan kelompok masyarakat lainnya itu kemudian diwarnai bentrokan, penjarahan, serta pembakaran bangunan.

Reuters melaporkan pada 18 Oktober bahwa lebih dari 2.400 orang telah ditangkap di Prancis, sementara hampir 1.000 personel kepolisian mengalami cedera. Seorang demonstran juga meninggal setelah mengalami henti jantung ketika aksi berlangsung di Paris.

Di Italia, demonstrasi serupa terjadi di Milan dan sejumlah kota lain, termasuk Turin dan Bologna. Aksi tersebut juga berangkat dari persoalan biaya hidup dan kesejahteraan masyarakat, tetapi memiliki konteks politik domestik tersendiri.

Laporan Al Jazeera pada 17 Oktober menyebut demonstrasi terkait biaya hidup berlangsung di beberapa negara Eropa, termasuk Prancis, Italia, Belgia, dan Portugal. Gelombang aksi ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi dan persoalan keterjangkauan hidup menjadi perhatian di berbagai negara.

Meski berlangsung hampir bersamaan, belum ada dasar yang cukup untuk menyimpulkan bahwa kerusuhan di Milan merupakan akibat langsung dari kerusuhan di Prancis atau bahwa keduanya dikendalikan oleh satu kelompok yang sama.

Kesamaan waktu dan tuntutan lebih tepat dipahami sebagai cerminan keresahan sosial yang muncul di sejumlah negara Eropa secara bersamaan.

Baca juga: Italia kerahkan 500 tentara ke Milan di tengah kerusuhan

Respons pemerintah Italia terhadap kerusuhan

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengecam tindakan kekerasan yang terjadi selama demonstrasi. Ia menegaskan bahwa masyarakat memiliki hak untuk menyampaikan pendapat, tetapi tindakan membakar fasilitas umum, menjarah toko, dan menyerang polisi tidak dapat dibenarkan.

Wali Kota Milan Giuseppe Sala juga menyatakan bahwa alasan masyarakat melakukan protes dapat dipahami, tetapi kekerasan terhadap aparat dan kerusakan serius terhadap kota tidak bisa dibenarkan.

Pemerintah Italia menghadapi tantangan untuk menjaga ketertiban tanpa mengabaikan persoalan ekonomi yang menjadi latar belakang demonstrasi. Penindakan terhadap pelaku kekerasan perlu dibedakan dari upaya menjawab tuntutan warga yang disampaikan secara damai.

Reuters melaporkan pada 18 Oktober bahwa Meloni berencana menggelar pertemuan pemerintah pada Senin (19/10) untuk membahas situasi keamanan dan kerusuhan di sejumlah kota.

Pertemuan tersebut menjadi penting untuk menentukan langkah pemerintah dalam mencegah bentrokan susulan, melindungi fasilitas umum, dan menangani dampak kerusakan akibat kerusuhan.

Kerusuhan di Milan memperlihatkan bagaimana demonstrasi yang berangkat dari persoalan ekonomi dapat berkembang menjadi masalah keamanan ketika sebagian kelompok melakukan kekerasan.

Di Italia, bentrokan juga dilaporkan terjadi di Turin dan Bologna pada akhir pekan yang sama. Sementara itu, Prancis masih berupaya memulihkan kondisi setelah kerusuhan yang menyebabkan kerusakan bangunan publik, penjarahan toko, dan ribuan penangkapan.

Meski demikian, belum dapat dipastikan apakah rangkaian peristiwa tersebut akan berkembang menjadi gelombang kerusuhan berkepanjangan di Eropa. Perkembangan situasi akan bergantung pada respons pemerintah, kondisi ekonomi, serta kemampuan aparat menjaga keamanan tanpa memperburuk ketegangan dengan masyarakat.

Pemerintah juga perlu memberikan perhatian terhadap akar persoalan, seperti tingginya biaya hidup, keterjangkauan hunian, upah, dan kualitas layanan publik.

Baca juga: Protes berujung kerusuhan di Italia setelah migran tewas gantung diri

Baca juga: Kerusuhan pecah di Milan, massa jarah toko di pusat kota


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
TNI AU Latih Siswa Skadik 103 Gunakan Drone untuk Deteksi Titik Api dan Penanganan Karhutla
• 10 jam lalu
0
thumb
Gus Ipul soal Tudingan Uang ke Muktamar: Bila Tak Terbukti, Seret ke Pengadilan
• 19 jam lalu
0
thumb
Video: Bareskrim Bongkar Dugaan Pelanggaran 5 Merek Beras Fortifikasi
• 6 jam lalu
0
thumb
BI Perpanjang KPR 100% dan DP 0% Kendaraan Bermotor sampai Desember 2027
• 17 jam lalu
0
thumb
Jawab Kritik Kabinet Gemuk, Presiden Prabowo: Negara Kita Besar, Penduduknya 300 Juta Jiwa
• 18 jam lalu
0
Berhasil disimpan.