jpnn.com - Oktober menjadi bulan sakti bagi permuseuman dan kebudayaan Indonesia. Puncak peringatan Hari Museum Indonesia ke-11 dan Hari Kebudayaan Nasional 2026 digelar di Museum Rudana of The Rudana Art Institution, Bali, Senin (19/10/2026).
Momentum ini ditandai dengan penganugerahan penghargaan kepada sejumlah tokoh bangsa atas dedikasi, pemikiran, dan kontribusinya bagi kebudayaan serta pembangunan Indonesia.
BACA JUGA: Survei Dua Tahun Prabowo-Gibran Melorot 13 Persen, Efriza: Jadi Catatan Penting Pemerintah
Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia (AMI) Putu Supadma Rudana yang juga Pimpinan The Rudana Art Institution (Museum, Gallery, Foundation, Think Tank, dan Conceptualist of Art) mengatakan Oktober memiliki makna istimewa bagi permuseuman dan kebudayaan nasional.
BACA JUGA: Prabowo Setujui Bekukan 6 Perusahaan, Diduga Terlibat Karhutla
"Bulan ini diawali dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober, dilanjutkan Hari Museum Indonesia pada 12 Oktober, serta Hari Kebudayaan Nasional pada 17 Oktober," Ujar Putu melalui keterangan persnya, Rabu (21/10/2026)
Sebagai pimpinan The Rudana Art Institution, Putu mengapresiasi kehadiran para tokoh, budayawan, seniman, pengabdi museum, serta berbagai elemen masyarakat yang turut menyukseskan perayaan bulan sakti dengan bertajuk Setanggi Puspa Budaya tersebut. Apresiasi juga disampaikan Putu kepada para sahabat permuseuman yang mengikuti kegiatan secara daring.
BACA JUGA: Presiden Prabowo Diminta Segera Tuntaskan Polemik Ijazah Gibran
"Hari ini, Asosiasi Museum Indonesia menganugerahkan Anugerah Mahottama Adibudaya Nusantara kepada Menteri Kebudayaan Fadli Zon sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian, dedikasi dan komitmennya dalam membangun kehidupan museum dan kebudayaan Indonesia," ujar Putu.
Sementara itu, Museum Rudana menganugerahkan Ksatria Mahottama Nagara Award kepada Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo begawan ekonomi Indonesia. Di mana pemikiran dan pengabdiannya dalam perkembangan ekonomi serta pembangunan nasional yang mengimplementasikan ekonomi kerakyatan dan ekonomi budaya.
Selain itu, Penghargaan Ksatria Mahottama Budaya Award juga diberikan kepada maestro seni rupa Nyoman Nuarta atas perjalanan penciptaan dan kontribusinya dalam memperkaya seni rupa Indonesia hingga dikenal di tingkat internasional dengan capaian yang luar biasa, Garuda Wishnu Kencana park dan Garuda Ibu kota negara.
"Penghargaan ini merupakan bentuk penghormatan terhadap pemikiran, ide, dan gagasan yang menjadi inspirasi warisan keteladanan bagi generasi penerus. Pengabdian di bidang kebudayaan, bukan hanya tentang pencapaian personal, melainkan sumbangsih bagi kemajuan peradaban bangsa," tutur Putu.
Selain penganugerahan penghargaan, perayaan ini juga menghadirkan pagelaran “Huni-Jnana-Hana” oleh Institut Seni Indonesia Bali, serta pameran tunggal perupa Wayan Kun Adnyana bertajuk “Guwung Suwung”.
Selaku pimpinan museum Rudana, Putu juga menyampaikan apresiasi kepada pendiri Museum Rudana, Nyoman Rudana dan Olastini Rudana yang telah memberikan ruang dan kesempatan bagi mahasiswa dan keluarga besar ISI Bali untuk menggelar pertunjukan seni budaya.
Mengusung tema "Museum Soko Guru Bangsa, Rumah Kebudayaan Kita", puncak peringatan Hari Museum Indonesia ke-11 dipusatkan di Museum Rudana, Bali. Ini menegaskan bahwa museum bukan sekadar tempat menyimpan benda bersejarah dan karya seni, tapi museum merupakan ruang untuk merawat ingatan kolektif, menumbuhkan pengetahuan, memperteguh jati diri, serta mewariskan nilai dan keteladanan kepada generasi mendatang.
Di museum Rudana Prasasti Mahottama Adibudaya Nusantara tercatat di halaman Lilaloka Museum Rudana memuat empat nilai utama, yakni Karunia Dharma Semesta yang memaknai daya cipta dan pengabdian sebagai amanah kehidupan; Puja Cipta Mahakarya yang menempatkan karya sebagai persembahan hasil ketekunan dan kecintaan; Lascarya Bersama Senantiasa yang menegaskan pentingnya ketulusan, kebersamaan, dan kesinambungan antargenerasi; serta Memulia Adibudaya Nusantara yang mengajak masyarakat menjunjung tinggi nilai, pengetahuan, seni, tradisi, dan kebajikan luhur Nusantara agar terus hidup dan bermakna sepanjang zaman.(Fat//JPNN)
Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam





Komentar (0)