Jakarta, CNBC Indonesia - Cara tubuh bekerja saat tertidur ternyata menyimpan petunjuk penting tentang kesehatan jantung dalam 10 tahun ke depan. Sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa aktivitas jantung saat tidur dapat mengungkap risiko seseorang mengalami gagal jantung, serangan jantung, hingga kematian dini.
Para peneliti dari Universitas Emory bersama lembaga kesehatan Amerika Serikat menemukan bahwa perubahan aktivitas listrik jantung pada tahap tidur paling ringan, saat tubuh baru saja terlelap, menjadi penanda yang paling akurat. Pada tahap ini, sistem saraf mengalami perubahan cepat, sehingga gangguan yang biasanya tersembunyi dapat terlihat lebih jelas.
Temuan itu dipublikasikan di jurnal SLEEP dengan dukungan dari Institusi Kesehatan Nasional Amerika Serikat (NIH).
"Pendekatan baru ini berpotensi mengidentifikasi risiko penyakit jantung bertahun-tahun sebelum gejalanya tampak," kata David Goff dari NIH.
Tim peneliti melatih sistem AI dengan data kesehatan 16.000 pasien. Para pasien ini terlibat dalam studi soal pola tidur di sebuah rumah sakit di Boston, AS. Aktivitas jantung mereka diukur saat tidur menggunakan ECG.
Setelah dilatih, sistem AI kemudian diuji terhadap dua atau lebih set data dari pasien dua rumah sakit lainnya.
Dengan bantuan kecerdasan buatan, data rekam jantung atau EKG yang diambil saat tidur dapat mengelompokkan seseorang ke dalam tingkat risiko yang berbeda. Hasilnya menunjukkan bahwa setiap kenaikan skor risiko yang dihitung sistem berarti:
- Risiko gangguan irama jantung naik dua kali lipat atau lebih
- Risiko gagal jantung naik 69% hingga 133%
- Risiko kematian dari sebab apa pun naik 65% hingga 82%
- Risiko stroke juga lebih tinggi, meski tidak setinggi risiko gagal jantung
Pemeriksaan gangguan tidur biasanya mencatat aktivitas jantung, tetapi kecuali ada kelainan yang tampak jelas, data tersebut jarang ditinjau lebih lanjut. Penelitian ini membuktikan bahwa informasi yang tersimpan di dalamnya justru sangat berharga. Pola perubahan detak jantung dan penghantaran sinyal listrik saat tidur ternyata mengungkap hal yang tidak terlihat saat seseorang terjaga.
Bahkan setelah memperhitungkan faktor risiko yang sudah diketahui seperti usia, jenis kelamin, diabetes, tekanan darah tinggi, dan kebiasaan merokok, data dari tidur tetap menambah ketepatan peramalan. Untuk risiko gagal jantung, ketepatan naik hingga 9% dibandingkan dengan cara yang biasa dipakai selama ini.
Penemuan ini membuka jalan bagi pemeriksaan yang lebih proaktif. Orang yang menjalani pemeriksaan gangguan tidur dapat sekaligus dinilai risiko kesehatannya secara menyeluruh, sehingga langkah pencegahan dapat diambil jauh sebelum penyakit muncul. Para peneliti berharap metode ini nantinya menjadi bagian rutin dari pemeriksaan kesehatan, bukan sekadar tambahan.
(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]





Komentar (0)