REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pembiayaan senilai Rp24,9 miliar disalurkan untuk mendukung kebutuhan modal kerja tiga perusahaan di sektor perdagangan makanan dan minuman serta konstruksi bangunan ritel. Pembiayaan tersebut mencakup kebutuhan operasional usaha hingga pengerjaan proyek pembangunan gerai ritel di sejumlah wilayah Indonesia.
Penyaluran pembiayaan dilakukan PT Bank Aladin Syariah Tbk melalui kerja sama dengan tiga perusahaan dalam ajang Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di Jakarta, Jumat (16/10/2026). Ketiga perusahaan tersebut adalah PT Dunia Boga Indonesia, PT Hanif Tunggal Mandiri, dan PT Dwiyasa Gemilang Abadi.
Baca Juga
Pangsa Pasar Bank Syariah Baru 7,36 Persen, Generasi Muda Diharapkan Jadi Penggerak
Mahasiswa IPB Ciptakan Game Edukasi Keuangan Syariah ALIF
Sompo Syariah Resmi Beroperasi, Jadi Entitas Syariah Pertama dalam Sejarah Sompo Group
PT Dunia Boga Indonesia bergerak di bidang perdagangan makanan dan minuman. Sementara itu, PT Hanif Tunggal Mandiri dan PT Dwiyasa Gemilang Abadi menjalankan usaha konstruksi bangunan ritel.
Pembiayaan untuk sektor konstruksi digunakan guna mendukung pembangunan gerai Alfamart oleh PT Hanif Tunggal Mandiri dan gerai Alfamidi oleh PT Dwiyasa Gemilang Abadi. Kerja sama tersebut memanfaatkan keterhubungan bisnis dalam ekosistem Alfa Group.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Direktur Bank Aladin Syariah Jo Anula Putra mengatakan, pembiayaan sektor riil menjadi salah satu strategi perusahaan untuk mengembangkan bisnis sekaligus menjangkau kebutuhan modal kerja pelaku usaha. Menurut dia, kerja sama dengan perusahaan dalam ekosistem ritel juga membuka peluang perluasan akses pembiayaan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Melalui kerja sama ini, kami berharap pembiayaan yang disalurkan dapat membantu perusahaan mengembangkan usahanya sekaligus mendukung aktivitas ekonomi yang lebih luas. Kolaborasi dalam ekosistem Alfa Group juga menjadi langkah kami untuk memperluas akses pembiayaan dan mendorong UMKM agar terus tumbuh dan berkembang,” ujar Jo dalam keterangan tertulis.
Jo menjelaskan, penyaluran pembiayaan dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan modal kerja dan kapasitas masing-masing perusahaan. Pendekatan tersebut digunakan untuk menjaga kualitas pembiayaan sekaligus mendukung kegiatan usaha yang produktif.
“Bagi kami, pembiayaan harus berangkat dari kebutuhan nyata pelaku usaha. Kami ingin layanan Bank Aladin Syariah bisa membantu mereka dalam menjaga kelancaran bisnisnya dan memanfaatkan peluang yang ada, dengan tetap memperhatikan kemampuan usaha dan prinsip kehati-hatian,” kata Jo.
Di sektor perdagangan makanan dan minuman, pembiayaan modal kerja dapat digunakan untuk mendukung pengadaan barang, pengelolaan persediaan, dan pemenuhan kebutuhan operasional. Sementara itu, pada sektor konstruksi ritel, kebutuhan pembiayaan berkaitan dengan pelaksanaan proyek pembangunan gerai.
Kegiatan usaha di kedua sektor tersebut juga melibatkan rantai pasok yang lebih luas. Perdagangan makanan dan minuman membutuhkan kelancaran distribusi barang, sedangkan pembangunan gerai ritel melibatkan penyedia material, jasa konstruksi, dan tenaga kerja.
Bank Aladin Syariah menempatkan pembiayaan sektor riil sebagai salah satu strategi pengembangan layanan perbankan digital. Perusahaan berupaya menyesuaikan produk pembiayaan dengan kebutuhan dan kemampuan usaha nasabah.
Kerja sama pembiayaan tersebut ditandatangani dalam rangkaian ISEF 2026 yang mengusung tema Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Syariah Berkelanjutan melalui Sinergi dan Transformasi Digital. Forum tersebut mempertemukan lembaga keuangan syariah dan pelaku usaha untuk menjajaki kerja sama bisnis.
Ke depan, Bank Aladin Syariah berencana melanjutkan pengembangan layanan pembiayaan bagi pelaku usaha sektor riil. Perusahaan juga akan memanfaatkan kerja sama dalam ekosistem bisnis untuk menjangkau kebutuhan pembiayaan di berbagai sektor usaha.
Komentar (0)