Prabowo: Mata Uang-Pangan Kini Jadi Senjata, Kita Harus Koreksi Diri

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Presiden Prabowo Subianto mengatakan mata uang, perdagangan ekspor-impor, hingga pangan kini dapat menjadi senjata dalam persaingan antarnegara.

Ia menilai aktivitas bisnis tidak bisa lagi dipandang semata-mata sebagai urusan ekonomi, tetapi juga harus dikaitkan dengan kepentingan politik, sosial, dan pertahanan negara.

Prabowo mengatakan, perubahan situasi global menuntut Indonesia untuk mengoreksi cara pandang dalam melihat berbagai persoalan nasional. Menurutnya, salah satu kelemahan bangsa Indonesia adalah para elite yang masih terkotak-kotak.

“Sekarang mata uang jadi senjata. Sekarang ekspor impor jadi senjata. Sekarang pangan menjadi senjata. Beras menjadi senjata. Jadi bisnis tidak bisa kita pandang hanya murni bisnis. Tidak bisa,” kata Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna 2 Tahun Pemerintahan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10).

Hal itu disampaikan Prabowo saat menyoroti pentingnya pendekatan yang lebih menyeluruh dalam memahami hubungan antara politik, ekonomi, sosial, dan pertahanan.

Ia menilai, berbagai bidang tersebut tidak dapat dipisahkan karena perkembangan situasi internasional membuat keputusan ekonomi dapat berkaitan erat dengan kepentingan suatu negara.

“Kita harus koreksi diri. Terutama dunia akademis kita, terutama profesor-profesor kita yang bertanggung jawab di bidang pendidikan. Salah satu kelemahan dari bangsa Indonesia adalah bahwa elite kita, elite kita terkotak-kotak dalam silo-silo sektoral. Ini mungkin bersumber dari pendidikan kita. Politik, ekonomi, sosial, pertahanan, tidak bisa dipisah-pisahkan,” ucapnya.

Menurut Prabowo, Indonesia perlu membenahi pola pendidikan. Ia menilai, pendekatan pendidikan yang terlalu sektoral perlu diubah, terutama pada jenjang pendidikan tinggi.

“Nah ini saya kira dalam jangka panjang saya berharap kita akan nanti perbaiki. Bahwa di ujungnya pendidikan kita harus benar-benar integralistik. Tidak bisa sektoral. Saya kira sektoral itu mungkin sampai di S1. S2, S3 sudah harus lebih multidimensional,” ucapnya.

Prabowo menjelaskan pandangannya tersebut didasarkan pada situasi global yang dinilainya semakin tidak menentu.

“Saudara-saudara sekalian, kenapa saya bicara seperti ini. Karena dunia sekarang, ya, di mana kita lihat hampir bisa dikatakan bahwa hampir tidak ada suatu international order lagi,” ucap Prabowo.

“Sekarang adalah politik berdasarkan kekuatan. Siapa yang kuat, dia akan survive. Yang tidak kuat, kita lihat apa yang terjadi di Timur Tengah, di mana-mana, yang tidak kuat akan punah,” sambungnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Hampir Seluruh Situs Resmi Korea Utara Offline Selama Lebih dari 24 Jam
• 4 jam lalu
0
thumb
Anggota DPR Tak Setuju Definisi Korupsi Usulan Luhut: Bahaya, Bisa Rusak Hukum
• 2 jam lalu
0
thumb
DEN Wanti-Wanti Prabowo soal El Nino dan La Nina, Ini Dampaknya bagi Pangan Indonesia
• 16 jam lalu
0
thumb
Menag Tutup Kongres Syarikat Islam, Tegaskan Kembali Misi Dakwah Ekonomi dan Kemandirian Umat
• 20 jam lalu
0
thumb
Kemenkes: Ada 314 Ribu Kasus ISPA di Wilayah Karhutla, 70 Ribunya Jangkit Balita
• 10 jam lalu
0
Berhasil disimpan.