Aktris Dian Sastrowardoyo mengungkap rasa syukur dan antusiasnya soal perannya sebagai Kasih Kinanti (Kinan) dalam film Laut Bercerita. Dian mengaku jatuh cinta pada figur Kinan sejak pertama kali membaca novel karya Leila S. Chudori tersebut beberapa tahun silam.
Keterlibatan Dian Sastrowardoyo dengan semesta Laut Bercerita sebenarnya bukan hal baru. Ia telah ambil bagian dalam proyek film pendek yang dibuat untuk keperluan peluncuran novelnya.
"Dari dulu saya membaca novelnya dan terlibat di pembuatan film pendeknya, karakter Kinan adalah karakter idola saya. Sangat inspiratif banget buat saya, saya jatuh cinta dengan karakter Kinan," ungkap Dian di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan.
Dian Sastrowardoyo soal Sosok Kinan di Film Laut BerceritaBagi Dian, Kinan representasi dari sosok mahasiswi cerdas, berprinsip, dan vokal yang kerap menjadi panutan di lingkungan perguruan tinggi. Karakter kepemimpinan Kinan yang kuat sangat memikat hati Dian secara personal.
"Karakter Kinan mengingatkan saya terhadap kakak kelas. Ada selalu kakak kelas yang sangat inspiratif, berprestasi, knowledgeable, sangat cerdas, sangat banyak baca bukunya, dan dia sangat tahu apa yang sedang dilakukan. Dan untuk karakter Kinan saya ngefans juga sama dia gitu," tutur Dian.
Oleh karenanya, Dian memikul tanggung jawab besar untuk menghidupkan kembali sosok Kinan dengan seotentik mungkin di depan kamera.
"Saya sama sekali tidak menganggap enteng tanggung jawab yang diberikan kepada saya. Karena buat saya ini karakter yang bagus banget dan saya enggak boleh asal-asalan gitu memerankannya, ini benar-benar harus harus bagus gitu jadinya," tegas Dian.
Guna gestur aktivis mahasiswa era 1990-an, Dian kembali membuka memori masa mudanya saat duduk di bangku kuliah pada awal dekade 2000-an. Suasana reformasi yang masih hangat kala itu menjadi salah satu referensi emosional terbesarnya.
"Dulu saya kuliah tahun 2000-2001, jadi waktu itu masih hangatnya habis '98, terus habis itu kakak-kakak kelas '98 juga masih jadi kakak senior kita buat angkatan kita 2000," imbuh Dian.
Tak hanya ingatan personal, pendekatan riset literatur yang ketat turut dilakoni Dian. Ia mencari tahu buku-buku apa saja yang wajib dibaca oleh anggota kelompok Winatra melalui wawancara langsung dengan aktivis perempuan masa itu. Ada Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer yang dia baca.
"Saya juga banyak baca buku yang setelah saya tahu dari baca novelnya, ternyata organisasinya Kinan itu mewajibkan bahan bacaan yang wajib untuk bisa masuk tergabung dalam kelompok Winatra gitu loh. Ini bacaan-bacaan wajib yang saya dapatkan dari narasumber seperti Mbak Lilik HS," tutur Dian.
Seluruh proses tersebut pada akhirnya dirangkum Dian menjadi kepekaan rasa yang termanifestasi dalam bahasa tubuh serta cara bicaranya di film.
"Yang pasti approach kepada Kinan itu adalah mengasah rasa, peka terhadap ketidakadilannya Kinan dan bagaimana itu dihidupkan lewat gerak tubuh dan juga cara berbicara yang akhirnya menghidupkan karakter Kinan," tutup Dian.






Komentar (0)