Bagaimana Kondisi Bahasa Daerah di Indonesia Saat Ini, Bahasa Mana Saja yang Terancam Punah?

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Indonesia memiliki 718 bahasa daerah, tetapi sebagian di antaranya menghadapi ancaman kepunahan. Berkurangnya penutur muda, melemahnya penggunaan bahasa ibu dalam keluarga, serta terbatasnya ruang penggunaan di sekolah dan dunia digital mempercepat kemunduran bahasa daerah. Kondisi ini mengancam keberlangsungan warisan budaya dan identitas masyarakat.

Apa yang dapat dipelajari dari artikel ini?
  1. Bagaimana kondisi bahasa daerah di Indonesia saat ini?
  2. Bahasa daerah apa saja yang telah punah dan terancam punah?
  3. Mengapa bahasa daerah semakin ditinggalkan, terutama oleh generasi muda?
  4. Bagaimana upaya menyelamatkan bahasa daerah dari kepunahan?
Bagaimana kondisi bahasa daerah di Indonesia saat ini?

Indonesia memiliki 718 bahasa daerah dan disebut sebagai negara dengan jumlah bahasa terbanyak kedua di dunia. Namun, sebagian besar bahasa tersebut menghadapi tekanan akibat berkurangnya penutur muda dan menyusutnya penggunaan dalam kehidupan sehari-hari.

Kekayaan bahasa daerah terkonsentrasi di wilayah timur Indonesia. Berdasarkan data yang disampaikan Badan Bahasa pada Oktober 2026, Papua memiliki 427 bahasa daerah atau hampir 60 persen dari keseluruhan bahasa daerah di Indonesia. Data Kompas pada 2024 juga mencatat keberagaman bahasa yang tinggi di Maluku, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi.

Kondisi bahasa daerah tidak seragam. Ada yang masih digunakan secara luas, tetapi ada pula yang mengalami kemunduran, terancam punah, hingga kehilangan seluruh penuturnya. Pemetaan Badan Bahasa pada 2021 terhadap 24 bahasa daerah menunjukkan seluruh bahasa yang dikaji mengalami kemunduran.

Meski demikian, sejumlah bahasa masih bertahan kuat. Bahasa Lani di Kabupaten Lanny Jaya, Papua Pegunungan, misalnya, diperkirakan masih digunakan sekitar 80 persen masyarakat setempat. Penggunaannya tetap dominan dalam keluarga dan masyarakat serta didorong menjadi bahasa pengantar di kelas awal sekolah dasar.

Baca JugaDari Jayapura, Menanti Langkah Nyata Melindungi 718 Bahasa Daerah
Bahasa daerah apa saja yang telah punah dan terancam punah?

Data Badan Bahasa yang diberitakan Kompas.id pada Maret 2024 mencatat delapan bahasa daerah telah punah. Selain itu, lima bahasa berstatus kritis, 24 terancam punah, 12 mengalami kemunduran, dan 24 tergolong rentan. Hanya 21 bahasa dalam pemetaan tersebut yang dinyatakan aman.

Di Papua, dua bahasa yang disebut telah punah ialah Tandia dan Maes. Sementara itu, bahasa Kanum Sota di Papua Selatan dilaporkan hanya memiliki sekitar 100 penutur. Jumlah penutur yang sangat sedikit menunjukkan kerentanan bahasa tersebut untuk bertahan pada generasi berikutnya.

Ancaman kemunduran tidak hanya dialami bahasa dengan sedikit penutur. Bahasa besar, seperti Jawa, Sunda, Makassar, Toraja, dan Bugis, juga menjadi sasaran awal program revitalisasi pada 2021. Menurut Kepala Badan Bahasa saat itu, Endang Aminudin Aziz, besarnya jumlah penutur bukan jaminan suatu bahasa terhindar dari kemunduran.

Pemerintah kemudian memperluas program revitalisasi. Pada 2023, sebanyak 59 bahasa daerah di 22 provinsi menjadi sasaran program, antara lain Gayo, Bulungan, Bakumpai, Ogan, Enggano, Lampung, Pamona, Moi, dan Sough. Namun, keikutsertaan dalam program revitalisasi tidak otomatis berarti seluruh bahasa tersebut berstatus terancam punah.

Baca Juga59 Bahasa Daerah Akan Direvitalisasi
Mengapa bahasa daerah semakin ditinggalkan, terutama oleh generasi muda?

Salah satu penyebab utama ialah melemahnya pewarisan bahasa antargenerasi. Bahasa daerah semakin jarang digunakan dalam keluarga, lingkungan pergaulan, dan ruang publik. Generasi muda pun cenderung lebih akrab dengan bahasa Indonesia ataupun bahasa lain.

Badan Pusat Statistik, sebagaimana dikutip Kompas pada 2023, mencatat 76 persen penduduk Indonesia masih menggunakan bahasa daerah dalam keluarga. Namun, generasi Z dan generasi setelahnya termasuk kelompok yang paling sedikit menggunakan bahasa daerah.

Faktor internal juga berperan, terutama sikap sebagian masyarakat yang menganggap bahasa daerah kurang menarik atau tidak sesuai dengan kehidupan modern.

Menurut Badan Bahasa, kemunduran dipengaruhi faktor eksternal, seperti urbanisasi, globalisasi, perkawinan campur, dan bencana yang menyebabkan hilangnya penutur. Faktor internal juga berperan, terutama sikap sebagian masyarakat yang menganggap bahasa daerah kurang menarik atau tidak sesuai dengan kehidupan modern.

Tantangan semakin besar karena bahasa daerah belum banyak hadir di ruang digital. Dokumentasi, bahan pembelajaran, tenaga pengajar, dan dukungan sumber daya juga masih terbatas. Padahal, bahasa yang tidak lagi digunakan dan diwariskan berisiko kehilangan fungsi sosialnya sebelum akhirnya punah.

Baca JugaPeluang Revitalisasi Bahasa Daerah di Era Kecerdasan Buatan
Bagaimana upaya menyelamatkan bahasa daerah dari kepunahan?

Pelestarian bahasa daerah perlu dimulai dari keluarga dan komunitas sebagai ruang utama pewarisan bahasa ibu. Bahasa daerah tidak cukup dipelajari sebagai mata pelajaran, tetapi harus digunakan dalam percakapan sehari-hari agar tetap hidup dan relevan bagi generasi muda.

Sekolah juga berperan penting. Pemerintah mendorong penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar pembelajaran, terutama di kelas awal sekolah dasar. Program revitalisasi dilakukan melalui penyusunan bahan ajar, pelatihan guru, penguatan muatan lokal, serta Festival Tunas Bahasa Ibu. Pada 2026, festival tingkat nasional menghadirkan 137 peserta yang mewakili 105 bahasa dan dialek dari 36 provinsi.

Teknologi digital membuka peluang pelestarian yang lebih luas. Kamus digital bahasa Bali, Makassar, dan Banjar telah dikembangkan melalui kolaborasi komunitas. Pengembangan aplikasi belajar, video, musik, gim, media sosial, hingga teknologi kecerdasan buatan juga didorong agar bahasa daerah semakin dekat dengan kehidupan generasi muda.

Di tingkat akar rumput, berbagai komunitas mengembangkan pembelajaran aksara Batak, dokumentasi bahasa, dan produksi konten digital berbasis budaya lokal. Kongres Bahasa Daerah pertama di Jayapura pada 19–22 Oktober 2026 diharapkan memperkuat kerja sama pemerintah, sekolah, keluarga, dan komunitas. Tantangan terbesarnya ialah memastikan program pelestarian berlanjut menjadi kebiasaan berbahasa dalam kehidupan masyarakat.

Baca JugaBahasa Daerah Bukan Sekadar Mata Pelajaran di Kelas

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Persija Women Butuh Striker Asing Baru Usai Ditahan Imbang di Laga Pembuka IWL 2026/2027
• 24 menit lalu
0
thumb
Miguel Pereira Ingin Bawa Persebaya Raih Tiga Poin di Markas PSM
• 23 jam lalu
0
thumb
Prabowo Puji Kinerja Kabinet di 2 Tahun Pemerintahan: Cukup Membanggakan
• 2 jam lalu
0
thumb
Waketua Komisi X soal Pendidikan Gratis: Eksekusi Harus Matang, Jangan Kesusu
• 4 jam lalu
0
thumb
Pramono sebut monitoring harga pangan jadi faktor inflasi DKI terjaga
• 4 jam lalu
0
Berhasil disimpan.